Minggu, 10 Mei 2026, pukul : 05:58 WIB
Surabaya
--°C

Madrasah

Tempat-tempat tersebut dalam sejarah lembaga-lembaga pendidikan Islam memegang peranan sebagai tempat transformasi ilmu bagi umat Islam. Dalam perkembangannya, madrasah dikonotasikan secara sempit, yakni suatu gedung atau bangunan tertentu yang dilengkapi fasilitas, sarana dan prasarana pendidikan untuk menunjang proses belajar ilmu agama.

Di masa kolonial, pendidikan Islam hanya terbatas pada pesantren dan surau dan masih bersifat tradisional. Kemudian pada 1909 madrasah pertama di Indonesia muncul yaitu Madrasah Abadiyah di Kota Padang, Sumatera Barat, didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad. Setelah itu madrasah-madrasah lain pun bertumbuhan.

BACA JUGA: ‘’Terkun’’ Terawan

Madrasah Shcoel didirikan pada 1910 di Kota Batu Sangkar, Sumatera Barat oleh Syekh M. Talib Umar. Kemudian pada 1912 berdiri Muhammadiyah dengan fokus perjuangan pada pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah dengan sistem modern dengan memadukan kurikulum agama dan umum.

Berturut-turut setelah itu pada 1913 ada Madrasah Al Irsyad di Jakarta, didirikan oleh Syeikh Ahmad Sukarti. Kemudian pada 1915 muncul Diniyah Schoel di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, didirikan oleh Zainuddin Labai el Janusi. Berikutnya pada 1926, salah satu organisasi Islam terbesar Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU) didirikan di Surabaya oleh K.H. Hasyim Asyari, K.H. Wahab Hasbullah dan setelah itu mulai banyak mendirikan madrasah.

Pendidikan Islam melalui madrasah dan pesantren adalah bentuk perlawanan kultural dan ideologis paling kongkret yang dilakukan oleh umat Islam terhadap penjajah. Pendidikan melalui sekolah umum oleh Belanda dianggap sebagai pendidikan kafir dan karenanya harus dilawan dengan pendidikan Islam.

Seiring dengan lahirnya gerakan pembaruan Islam di Timur Tengah, pengaruh reformasi pendidikan mempunyai gaung yang besar di Indonesia. Madrasah Thawalib di Sumatera menjadi pusat pendidikan keilmuan sekaligus pendidikan politik yang memunculkan kesadaran untuk bangkit melawan penjajah.

Lembaga pendidikan Islam tidak hanya menjadi basis gerakan kultural tetapi juga menjadi basis gerakan politik dan perlawanan. Perang Paderi di Sumatera Barat pada 1825 berawal dari benturan antara ulama tradisionalis dengan ulama pembaru. Belanda kemudian menginfiltrasi konflik ini sehingga kemudian pecah perang besar antara ulama pembaru melawan penjajah.

Pemberontakan Paderi bisa dipadamkan dengan kekerasan, tapi semangat perlawanan tumbuh semakin kokoh. Peran ulama dan madrasah dalam menumbuhkan semangat nasionalisme-religius semakin penting. Jargon ‘’hubbul wathan minal iman’’, cinta tanah air adalah bagian dari iman yang dimunculkan oleh K.H Hasyim Asy’ari menjadi salah satu sumber kekuatan dalam perang besar 10 November 1945.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.