Kamis, 14 Mei 2026, pukul : 19:28 WIB
Surabaya
--°C

Mengenang Mohammad Hatta, Wakil Presiden Bijak Sepanjang Masa

SURABAYA-KEMPALAN: Nama Mohammad Hatta mungkin akan selalu dikenang dalam sejarah nasional Republik Indonesia sebagai wakil presiden pertama Indonesia. Terlepas dari jabatannya, Hatta adalah pria yang memiliki ketertarikan besar terhadap dunia pengetahuan yang telah menorehkan banyak karya.

Lelaki yang nantinya akan bernama Hatta ini lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902, anak kedua dari Muhammad Djamil dan Siti Saleha. Ia berdarah Minangkabau layaknya perdana menteri pertama Republik Indonesia Sutan Syahrir. Pendidikan yang ditempuh ialah SD Melayu Fort de Kock, ELS Padang, MULO Padang dan Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School di Batavia.

Ditahun 1921, Hatta berangkat ke Belanda untuk belajar di Handels Hogeschool yang sekarang menjadi Universitas Erasmus Rotterdam. Di sana ia bergabung dan memimpin Perhimpunan Indonesia dan menjadi salah satu mahasiswa progresif yang menyuarakan kemerdekaan Indonesia.

Menurut Klaas Stutje dalam bukunya Campaigning in Europe for a Free Indonesia, Hatta pernah mengikuti Kongres Melawan Kolonialisme dan Imperialisme di Brussel pada 1927, dalam acara ini, ia bertemu dengan Jawaharlal Nehru yang nantinya akan menjadi Perdana Menteri India.

Stutje juga menyebutkan, Hatta pernah menyerukan untuk bekerja sama dengan PKI atas dasar nasionalisme, karena ia melihat bagaimana maraknya perpecahan dalam gerakan pemuda, bahkan mengadakan negosiasi rahasia dengan Semaun, akan tetapi dalam sebuah interogasi ketika ditangkap Pemerintah Belanda, Hatta mengatakan dirinya menolak untuk mendukung rencana Semaun.

Deliar Noer, dalam bukunya Mohammad Hatta: Hati Nurani Bangsa, mencatat bahwa Hatta bersama Ali Sastroamidjojo, Nazir Datuk Pamuntjak, dan Abdulmadjid Djojoadiningrat ditangkap oleh Pemerintah Belanda dengan tuduhan menjadi anggota dari partai terlarang, terlibat dalam pemberontakan, dan menghasut untuk melawan Kerajaan Belanda.

Pria asal Bukittinggi itu dijatuhi hukuman paling berat di antara keempatnya, yakni tiga tahun. Pledoi Hatta dalam persidangan menjadi terkenal dengan nama Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka). Dalam persidangan, ketika advokatnya adalah orang Belanda dari SDAP, salah satunya ialah Mr. J. E. W. Duys yang menurut Noer, memang bersimpati kepada Hatta. Hasil akhir persidangan adalah dibebaskannya semua terdakwa.

Nasib justru kurang mujur bagi Hatta ketika kembali ke Indonesia. Ia dibuang ke Boven Digul pada 1935, namun sebelumnya telah mampu bermain politik bersama Sutan Syahrir dalam Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Pendidikan). Hatta bebas ketika Jepang masuk ke Indonesia.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.