KEMPALAN: Maraknya kekerasan terhadap insan pers menjadi sorotan luas akhir-akhir ini. Berbagai bentuk kekerasan, bahkan kekerasan fisik, adalah ancaman serius bagi para jurnalis untuk melaksanakan tugas di lapangan secara profesional. Juga menunjukkan eksistensi dan idealismenya. Padahal, jurnalisme yang sehat adalah oksigen bagi demokrasi.
Dr Eni Maryani, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran mengungkapkan, saat ini justru kekerasan yang paling banyak dialami jurnalis berupa kekerasan fisik.
“Data dari Aliansi Jurnalis Independen, kekerasan terhadap jurnalis yang paling dominan adalah kekerasan fisik dan pengrusakan hasil reportase,” ungkapnya dalam launching buku “Idealisme Jurnalis dan Inovasi Bisnis Industri Media”, yang berlangsung secara online, Senin (28/2).
Buku tersebut diterbitkan oleh Lembaga Penelitian, Publikasi, dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) London School of Public Relation (LSPR) bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran Bandung.
BACA JUGA: Antologi Esai Masayu Indriaty Susanto, Wartawan Tersesat, dan Pers Kampus
Namun Eni Maryani menambahkan, kekerasan terhadap Jurnalis tidak saja dari pihak luar. Akan tetapi juga terjadi karena tekanan internal dari pemilik institusi media, yang menjadikan institusi medianya sebagai institusi ekonomi atau alat kepentingan politiknya. Bahkan dia menilai, saat ini lembaga pers justru lebih dominan sebagai institusi ekonomi daripada mengusung idealisme.
“Jadi pertanyaannya sekarang, siapa yang membela dan mempertanyakan perlakuan tidak adil terhadap para jurnalis yang mengalami tindak kekerasan?” tambahnya.
Profesi yang Beresiko Tinggi
Dia menjelaskan, jurnalis dan peneliti sama-sama mencari dan mengembangkan pengetahuan.
Namun, dengan merujuk pada publiknya, jurnalis berbeda dengan peneliti. Pekerjaan jurnalis memiliki resiko yang lebih besar, karena pengetahuan yang mereka hadirkan akan menerpa lebih banyak orang.
BACA JUGA: Digugat Warganya Sendiri, Jalan Terjal Anies Jadi Pemimpin yang Ngopeni dan Ngladeni
Sehingga itu akan lebih mudah menghasilkan opini di masyarakat, dan dapat berfungsi sebagai kontrol sosial.
”Itulah sebabnya, banyak pihak menganggap jurnalis adalah sosok yang membahayakan. Terutama para oknum atau penguasa yang bersifat otoriter dan ingin terus mempertahankan kekuasaannya,” jelasnya lagi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi