Sabtu, 25 April 2026, pukul : 05:37 WIB
Surabaya
--°C

Gus Miftah dan Gus Miek

Belakangan ini muncul pendakwah yang meniru cara dakwah Gus Miek. Dia adalah Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah, yang punya branding khusus sebagai pendakwah klub malam. Di era digital seperti sekarang Gus Miftah juga menjadi kiai selebritas medsos, sama dengan kiai-kiai lainnya.

Gus Miftah berdakwah di klub malam dan kemudian menjadi viral di media sosial. Gus Miftah berpidato di gereja, menjadi viral, dan menjadi kontroversi. Sama dengan Gus Miek yang penuh kontroversi, Gus Miftah pun dipuji dan dicaci. Bedanya, Gus Miftah lebih berapi-api, dan Gus Miek lebih adem dan mengayomi.

Karena ‘’berapi-api’’ itulah sekarang Gus Miftah terlilit di tengah pusaran kontroversi. Ia membuat pertunjukan wayang bersama dalang Ki Warseno Slank. Salah satu episode pertunjukan itu menampilkan sebentuk wayang kontemporer yang berjenggot, mengenakan gamis dan peci putih. Tokoh fiksi itu diduga personifikasi dari Ustaz Khalid Basalamah.

BACA JUGA: Lord Luhut

Dalam episode berjudul ‘’Begawan Lumana Mertobat’’ itu figur wayang berjenggot itu berhadapan dengan tokoh Baladewa dalam sebuah perang tanding. Wayang Khalid kemudian dihajar habis-habisan sampai wayang itu rusak. Gaya mendalang ala Ki Enthus Susmono yang ‘’urakan’’ ini mungkin mengundang tawa. Tapi, personifikasi Khalid Basalamah dalam wayang itu menimbulkan protes luas.

Ustaz Khalid Basalamah sebelumnya terlebih dahulu berada pada pusaran kontroversi setelah dianggap ‘’mengharamkan’’ wayang dalam salah satu ceramahnya. Ceramah ini menimbulkan kontroversi luas dan Khalid sudah meminta maaf.

Kali ini gelombang berbalik dan giliran Ki Warseno yang meminta maaf. Ia memang tidak menyebut nama Khalid Basalamah, tapi figur wayang itu bisa dengan mudah diidentikkan sebagai Khalid Basalamah. Apalagi dalam dialog itu sang dalang menyebut ‘’ente’’ dan ‘’alhamdulillah’’.

Gus Miftah enggan meminta maaf. Tapi, setelah gaduh ia meminta maaf atas kegaduhan itu, bukan atas pergelaran wayang yang dibuatnya.

Wayang sebagai karya seni seharusnya menyatukan, bukan memecah belah. Mungkin kita semua harus banyak belajar, termasuk kepada Gus Miek, supaya dakwah bisa adem. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.