Oleh : Ir. Heroe Budiarto, MM.
Bidang Penelitian dan Kebijakan Dewan Kebudayaan Surabaya
KEMPALAN : Pembentukan Dewan Kebudayaan Surabaya melalui Surat Keputusan Wali Kota menjadi momentum penting dalam arah pembangunan kebudayaan di Kota Surabaya. Namun, tantangan sesungguhnya bukan terletak pada pembentukan lembaganya, melainkan bagaimana lembaga tersebut mampu memperkuat ekosistem seni dan kebudayaan secara berkelanjutan.
Langkah prioritas yang harus segera dilakukan adalah menyusun roadmap kebudayaan kota. Roadmap ini tidak boleh berhenti sebagai daftar kegiatan seremonial atau kalender festival tahunan. Kebudayaan kota harus dipahami sebagai dokumen strategis jangka panjang yang mampu menjawab persoalan identitas, ruang hidup masyarakat, regenerasi budaya, hingga tantangan modernitas dan digitalisasi.
Selama ini banyak kota berkembang pesat secara fisik, tetapi perlahan kehilangan memori budayanya. Kampung tua hilang digantikan bangunan komersial, bahasa lokal semakin melemah, ruang ekspresi masyarakat menyempit, sementara generasi muda makin jauh dari akar tradisinya. Kota akhirnya tumbuh menjadi ruang ekonomi tanpa karakter.
Karena itu, penyusunan roadmap kebudayaan harus diawali dengan pendataan dan pemetaan kebudayaan kota secara serius dan ilmiah. Surabaya perlu membangun basis data kebudayaan yang menyeluruh dengan membagi wilayah pemetaan menjadi lima kawasan utama: Barat, Timur, Utara, Selatan, dan Pusat. Dari wilayah tersebut dilakukan inventarisasi terhadap 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Objek itu meliputi tradisi lisan, ritus, manuskrip, adat istiadat, bahasa, seni, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, permainan rakyat, dan olahraga tradisional. Pendataan ini bukan sekadar administrasi kebudayaan, melainkan upaya menyelamatkan jejak peradaban masyarakat kota.
Surabaya sesungguhnya memiliki kekayaan budaya yang sangat besar. Tradisi lisan seperti parikan dan jula-juli, ludruk sebagai teater rakyat urban, budaya kampung pesisir, tradisi religi, kuliner lokal, hingga bahasa arek merupakan identitas sosial yang membentuk karakter kota. Namun sebagian besar potensi tersebut belum terdokumentasikan secara sistematis.
Roadmap kebudayaan juga harus bergerak melampaui pola lama yang menjadikan kebudayaan sekadar tontonan dan festival. Selama bertahun-tahun, banyak anggaran kebudayaan habis untuk kegiatan seremonial tanpa meninggalkan penguatan ekosistem budaya yang nyata. Setelah acara selesai, komunitas kembali berjalan sendiri tanpa dukungan dokumentasi, riset, maupun regenerasi.
Orientasi itu perlu diubah. Pemerintah kota bersama Dewan Kebudayaan harus mulai membangun pusat dokumentasi budaya, laboratorium seni, pusat arsip kota, ruang kreatif publik, serta sistem pendampingan komunitas budaya. Kebudayaan tidak boleh hidup secara musiman.
Hal penting lainnya adalah menjadikan kampung sebagai basis utama kebudayaan kota. Kebudayaan Surabaya sesungguhnya hidup di tengah masyarakat, bukan hanya di gedung pertunjukan. Kampung-kampung tua, kawasan pesisir, komunitas urban, kelompok sejarah, hingga ruang literasi warga menyimpan memori sosial yang sangat penting bagi identitas kota.
Karena itu pemerintah tidak cukup hanya menjadi penyelenggara acara budaya, tetapi harus menjadi fasilitator tumbuhnya kebudayaan masyarakat. Pendekatan partisipatif menjadi kunci agar pemetaan kebudayaan tidak berhenti sebagai dokumen birokrasi.
Di sisi lain, tantangan terbesar kebudayaan hari ini adalah regenerasi. Generasi muda lebih akrab dengan budaya global dibanding sejarah kotanya sendiri. Karena itu roadmap kebudayaan harus terhubung dengan sekolah, perguruan tinggi, ruang kreatif anak muda, serta pendidikan karakter berbasis budaya lokal.
Kebudayaan juga harus menjadi bagian dari tata ruang kota. Pembangunan modern tidak boleh menghapus kawasan heritage, ruang publik budaya, maupun kampung bersejarah. Kota yang baik bukan hanya modern secara infrastruktur, tetapi juga memiliki jiwa dan identitas budaya yang kuat.
Selain itu, digitalisasi budaya menjadi agenda penting. Banyak warisan budaya hilang karena tidak terdokumentasikan. Surabaya membutuhkan perpustakaan budaya digital, database seniman dan komunitas, dokumentasi audiovisual, hingga museum digital kota agar memori budaya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam konteks pembangunan global, kebudayaan juga memiliki nilai strategis bagi ekonomi dan diplomasi kota. Banyak kota besar dunia tumbuh bukan hanya melalui investasi dan infrastruktur, tetapi melalui kekuatan narasi sejarah, wisata budaya, ekonomi kreatif, dan identitas lokalnya.
Pada akhirnya, tujuan roadmap kebudayaan bukan sekadar memperbanyak acara seni, melainkan menjadikan kebudayaan sebagai arah peradaban kota. Kebudayaan harus menjadi sumber etika sosial, penguat solidaritas masyarakat, ruang dialog publik, serta fondasi identitas Surabaya di tengah arus globalisasi.
Sebab kota yang kehilangan kebudayaannya pada akhirnya akan kehilangan arah sejarahnya sendiri.(*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi