Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 04:04 WIB
Surabaya
--°C

Politik Mutasyabihat Cak Imin-Kiai Busyro

Cak Imin-Kiai Busyro
Hambali Rasidi

Catatan: Hambali Rasidi, Kontributor Kempalan.com

KEMPALAN-“Assalamu ‘alaikum Senior,” begitu suara pertama yang keluar dari lisan Cak Imin saat bertemu KH A. Busyro Karim di lingkungan Ponpes Alkarimiyyah, Beraji, Gapura, Sumenep, Kamis malam.

Suasana sunyi malam Jumat itu tiba-tiba pecah dengan sapaan hormat dan keakraban seperti ingin melepas kerinduan antara seorang yunior kepada senior setelah lama tak bersua.

Cak Imin, sang Ketua Umum DPP PKB berjilid-jilid itu, datang ke kampung Beraji, Gapura, Sumenep tanpa tercium pers. Waktu dini hari. Di luar schedule kunjungan resmi ke Pulau Madura yang dirilis ke publik. Datang lengkap bersama rombongan DPP PKB. Menemui seniornya, yang tak lagi menjabat apa-apa di struktur PC NU dan DPC PKB Sumenep.

Penulis tak ikut menyaksikan pertemuan senyap itu yang sempat bikin geger perwacanaan politik lokal Sumenep. Setidaknya, sumber-sumber penulis yang ikut menyaksikan pertemuan mutasyabihat itu mengkonfirmasi ungkapan senior yang dihaturkan Cak Imin kepada Kiai Busyro Karim.

Pemandangan dini hari itu menggambarkan seakan ingin bernostalgia kehidupan sewaktu sama-sama aktif di dunia pergerakan mahasiswa (PMII) Jogjakarta 35 tahun lalu.

Pertemuan sekitar satu jam di kediaman Kiai Busyro. Cak Imin datang tanpa sekat mengikuti langkah kaki kemana Kiai Busyro berjalan menyusuri ruang-ruang rumah Beraji. Keduanya bertutur seperti lazimnya keluarga dhalem.

Duduk lesehan sembari menikmati sajian hidangan malam. Perbincangan santuy Cak Imin berakhir dengan ajakan perjalanan ke Pulau Oksigen (Giliyang) bersama segelintir tim inti yang ditunjuk menemaninya.

Pak Kiai wajib ikut,” tutur Cak Imin menegaskan ajakan ke Kiai Busyro untuk menemaninya bermalam di pulau yang memiliki kadar oksigen tertinggi dunia setelah Jordania.

Perjalanan darat satu jam menuju pelabuhan Dungkek sebelum menjalani perjalanan laut 30 menit. Gesture Cak Imin dan Kiai Busyro yang terekspose lewat video dan gambar-gambar yang viral di Grup-Grup WhatsApp keesokan harinya menggambarkan pertemuan politik yang tak bisa ditafsiri secara bebas maupun hermeneutik.

Penulis menyimpulkan, pertemuan Cak Imin dan Kiai Busyro sebagai pertemuan Politik Mutasyabihat. Hanya Cak Imin dan Kiai Busyro yang ngerti maksud pertemuan senyap itu. Biar tak jadi dosa politik karena ke-awaman penulis memaknai pertemuan yang sulit ditafsiri orang awam. Meski pertemuan selebrasi senyap itu penuh makna. Menit per menit. Detik per detik.

Pertemuan Politik Mutasyabihat Cak Imin dan Kiai Busyro dalam konteks menuju 2024, penulis hanya bisa mereview keduanya sebagai sosok politisi NU yang sama-sama lahir dari produk reformasi 1998.

Cak Imin berkarir di DPP PKB sejak 1998 sebagai Sekjend hingga menjabat Ketum DPP PKB hingga kini.

Cak Imin-Kiai Busyro dalam kacamata dinamika politik yang mengitarinya, penulis melihat keduanya selalu menjadi objek perlawanan dalam perebutan puncak kekuasaan.

Penulis terlalu awam menguliti sepak terjang politik Cak Imin yang seperti mentransformasi politik Gus Dur meski tanpa kaffah.

Penulis hanya bisa mereview sosok Kiai Busyro sebagai tokoh kiai dan politisi lokal Sumenep yang belum ada tandingnya. 10 tahun berturut menjabat Ketua DPRD Sumenep dan 10 tahun bersambung menjabat bupati.

Kiai Busyro sejak 1998, menjabat Ketua DPC PKB Sumenep hingga
2007. Lalu berlanjut 2012 – 2018.

Next: Kebertahanan 20 tahun,…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.