Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 04:46 WIB
Surabaya
--°C

Politik Mutasyabihat Cak Imin-Kiai Busyro

Cak Imin-Kiai Busyro

Kebertahanan 20 tahun Kiai Busyro berada di puncak kekuasaan politik lokal Sumenep tentu memiliki jurus politik-yang tak dimiliki para kiai NU saat terjun dalam kancah politik praktis.

Atribut kiai memang mudah bergumul dalam kultur masyarakat Sumenep (Madura) yang mayoritas santri.

Dalam konteks politik. Kiai Busyro melengkapi dengan pola komunikasi egaliter dan smart.

Egaliter dan smart di sini, akrab dengan siapa saja. Menemui siapa saja. Tanpa mencipta jarak. Meski menjabat bupati atau ketua DPRD dengan atribut kiai.

Yang smart-kata bisikan anak gaul. Ngerti apa yang menjadi kebutuhan.

Kiai Busyro ngerti siapa lawan bicaranya. Dan apa yang dibutuhkan. Kata lain, Kiai Busyro ngerti siapa lawan bicaranya. Dan apa yang dibutuhkan.

Meski tak cukup merengguh. Setidaknya-mengalir oase senyuman dan kata-kata. Tanpa perlu menutup pintu rapat-rapat.

Komunikasi Kiai Busyro menyentuh emosi. Mengedepankan kasih. Bukan mengedepankan materi.

Pola komunikasi Kiai Busyro itu, dua sosok (kiai dan politisi) dilebur dalam satu tubuh.

Memutus jarak antar elite dan akar bawah. Membuang egoisme patronase. Tak alergi bertemu banyak orang. Telaten mendengar apa yang menjadi aspirasinya. Sehingga terasa nyaman berkomunikasi bila bertemu.

Pesan politik Kiai Busyro dalam komunikasi politik salah satunya menjaga nilai kearifan lokal. Kata orang Sumenep, tengka. Ajaga tengka (mengedepankan kearifan).

Komunikasi politik yang dibangun Kiai Busyro bukan sebatas formalitas tanpa menyentuh hati. Kiai Busyro mencipta suasana terasa nyaman walau sekedar tutur sapa.

Membaca sosok Kiai Busyro, bisa jadi juga sosok Cak Imin,-ibarat isi novel. Sebuah kehidupan yang diwarnai banyak warna. Ada cerita yang menangis, bisu dan tertawa.

Dalam karir politik di Sumenep, Kiai Busyro tergolong sakti. Seperti punya nyawa rangkap.

Kalah Pilkada 2005. Berakhir sebagai Ketua DPRD pada 2009. Sudah diprediksi banyak orang sebagai akhir dari perjalanan politiknya.

Apalagi sebelum mengakhiri masa jabatan Ketua DPRD. Kiai Busyro mengalami sesuatu dalam tubuhnya. Pada 2008, Kiai Busyro mengalami koma, tak sadarkan diri beberapa hari.

Kiai Busyro sempat dirawat di salah satu Rumah Sakit Internasional di Surabaya. Kiai Busyro melewati masa-masa kritis yang sempat ditangisi orang-orang sekitarnya.

Secara medis, Kiai Busyro mengalami gangguan kesehatan. Ditambah, pertengahan 2009, Kiai Busyro tak lagi memiliki jejaring kekuasaan. Tak menjabat Ketua DPC PKB dan berakhir dari kursi parlemen lokal.

Masa kejayaan politik Kiai Busyro banyak yang meramal tamat. Secara nalar, karir politik Kiai Busyro gelap.

Berhenti dari Ketua DPRD pada 2009. Kiai Busyro dtinggal banyak orang. Kecuali para loyalis yang setia mendampingi di saat tak memiliki kekuasaan.

Mencalonkan diri sebagai Cabup PKB harus melewati persaingan internal. Tapi Kiai Busyro tampil sebagai pemenang Konvensi DPC PKB Sumenep.

Kendati pegang tiket Cabup hasil konvensi, tak otomatis rekom DPP PKB jatuh ke Kiai Busyro.

Dalam dinamika DPP PKB, Rekom Cabup PKB itu sempat turun ke orang lain.

Kiai Busyro nyaris kehilangan tiket.

Kiai Busyro terus melakukan lobi-lobi. Pada akhirnya, Rekom dan SK DPP PKB jatuh ke Kiai Busyro.

Pegang tiket Cabup DPP PKB, Kiai Busyro masih menghadapi gonjangan cost politik menghadapi Pilkada langsung di tahun 2010.

Meski menjabat dua periode sebagai Ketua DPRD Sumenep, pundi-pundi kekayaan Kiai Busyro biasa-biasa saja.

Beruntung ada MH Said Abdullah (kini menjabat Ketua Banggar DPR RI) yang bersedia menyiapkan cost politik dalam pemenangan Pilkada Sumenep 2010.

Di luar dugaan, Kiai Busyro tampil sebagai pemenang Pilkada Sumenep 2010.

Begitu pun di Pilkada 2015. Diprediksi tumbang, lagi-lagi Kiai Busyro tampil sebagai pemenang Pilkada 2015.

Karir politik Kiai Busyro seperti epik Ramayana. Kisah Prabu Rahwana, berkepala sepuluh yang sakti mandraguna.

Tiap kali kepalanya ditebas, muncul lagi kepala yang baru. Saking sakti dan tak mati-mati, si Rahwana disalahtafsirkan.

Karena multitafsir. Publik pun menilai dua kutub. Ada yang membenci. Juga ada yang mencintai.

Yang mencintai karena menganggap Kiai Busyro sosok yang ikut membesarkan NU dan PKB. Begitu pun sebaliknya.

Perjalanan politik dan kepiawaian Kiai Busyro memenej dinamika politik lokal Sumenep yang haru biru bisa menjadi tafsir awal atas ungkapan senior dari lisan Cak Imin kepada Kiai Busyro di malam Jumat itu.

Cak Imin menganggap perlu menemui senior-nya di Sumenep yang sempat bertatap di forum kader PMII Jogja, 35 tahun lalu.

Bisa jadi itulah Politik Mutasyabihat Cak Imin-Kiai Busyro. Meski substansi pertemuan itu, hanya Cak Imin dan Kiai Busyro hanya ngerti. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.