Peperangan militer memperebutkan wilayah yang saling berbatasan langsung adalah bagian dari sejarah panjang geopolitik internasional. Di masa perang dingin Amerika dan Uni Soviet saling gertak dan tidak pernah terlibat perang secara langsung.
Uni Soviet bisa menembakkan rudal langsung ke Finlandia yang berbatasan langsung. Finlandia yang dilindungi oleh Amerika karena menjadi bagian dari NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) selalu merasa terancam oleh Uni Soviet, karena letak wilayahnya yang berbatasan langsung.
Kendati demikian selama perang dingin hampir setengah abad tidak pernah insiden serangan langsung dari Uni Soviet ke Finlandia. Hal yang sama terjadi antara China dan Taiwan yang hanya dipisahkan oleh selat kecil. China bisa menyerang Taiwan setiap saat. Taiwan juga selalu merasa terancam oleh serangan China.
Tetapi, sejak Taiwan memisahkan diri dari daratan China pada 1949 sampai sekarang tidak pernah terjadi perang terbuka. Konflik kecil seringkali terjadi, tetapi belum pernah terjadi sekalipun perang terbuka.
China tentu berhitung karena Taiwan mendapat perlindungan penuh dari Amerika. Setiap saat China menyerang Taiwan, Amerika pasti siap sedia untuk membela. Karena sama-sama tahu kekuatan masing-masing maka konflik terbuka tidak pernah terjadi. Kedua belah pihak sama-sama melakukan deterrence, tindakan menahan diri.
Faktor deterrence ini menjadi salah satu rem yang pakem untuk menghindari perang. Rasa takut terhadap lawan menjadi faktor deterrence yang sangat penting. Kendati demikian, ada faktor deterrence lain yang lebih penting untuk menghindari perang, yaitu faktor keinginan untuk maju dan modern.
Ahli Politik Kishore Mahbubani menyebut faktor ini sebagai ‘’march to modernity’’ derap menuju modernitas. Setiap orang ingin merasakan modernitas dan kemajuan eknonomi supaya bisa merasakan kesejahteraan hidup dan meninggalkan kesengsaraan akibat kemiskinan.
Derap menuju modernitas ini menjadi faktor yang tumbuh sangat kuat di wilayah Asia. Negara-negara Asia sekarang tengah berpacu menuju modernitas, dan karena itu mereka fokus untuk mengejar kemajuan ekonomi dan menghindari konflik dan peperangan.
Faktor ini akan menjadi sumber kekuatan Asia, yang oleh Mahbubani disebut akan menjadi ‘’hemisphere baru dunia’’ atau punjer dunia. Selama ini punjer kemajuan dunia berpusat di Barat dan Amerika. Tetapi, dalam waktu dekat punjer itu akan bergeser ke Asia.
Hal itu diprediksi Mahbubani dalam buku ‘’Asia Hemisfer Baru Dunia’’ yang terbit pada 2008. Ketika itu sudah mulai terlihat ada kebangkitan demokrasi di wilayah Timur Tengah yang selama ini dianggap sebagai ‘’dead spot’’ demokrasi.
Namun, Mahbubani…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi