Senin, 1 Juni 2026, pukul : 04:17 WIB
Surabaya
--°C

Ukraina

Namun, Mahbubani melihat optimisme terhadap demokratisasi di dunia Arab. Ia justru melihat bahwa kesadaran masyarakat Arab terhadap hegemoni Barat di Timur Tengah yang harus dilawan, tidak harus dimulai dari luar negara mereka sendiri, tetapi dimulai dengan mengubah status quo dengan mengganti rezim sehingga bisa melawan hegemoni Barat.

Artinya, Barat yang cenderung mempraktikkan standar ganda dalam sistem demokrasi mereka, harus dilawan dengan “demokrasi ala Arab”, yaitu menumbangkan rezim-rezim pro-Barat. Menurut Mahbubani, proses dewesternisasi global sedang terjadi dengan amat kuat di dunia Islam.

Dunia Islam yang sebelumnya dilanda krisis identitas belakangan justru mulai menguat kembali akibat kekecewaan yang besar terhadap Barat. Awalnya bangsa Timur Tengah bangga dengan identitas “kedaerahannya” baru kemudian keislamannya. Muslim Turki pertama-tama melihat diri sendiri sebagai orang Turki, baru kemudian sebagai muslim.

Orang Iran juga cenderung memprioritaskan identitas nasionalnya di atas identitas agama. Meskipun ini bukan berarti ada kontradiksi dalam dua identitas itu. Ketika identitas Islam terusik maka identitas nasional bisa dikalahkan.

BACA JUGA  Menuju Panggung Asia: 12 Srikandi Muda Voli Indonesia Masuk Pelatnas

Dunia Islam sesungguhnya tidak boleh hanya dilihat di wilayah Timur Tengah ataupun Afrika Utara. Masyarakat muslim Arab sekarang ini hanya sejumlah seperenam dari 1,5 miliar umat muslim dunia. Ada tujuh negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia yaitu Indonesia (200 juta), India (144 juta), Pakistan (140 juta), Bangladesh (115 juta), Nigeria (94 juta), Turki (66 juta) dan Iran (65 juta). Mayoritas muslim hidup di Asia Selatan dan Tenggara, dan mereka semua sedang menuju ke derap modernitas.

Kekuatan yang sedang bangkit di dunia Islam, bukanlah fundamentalisme, melainkan modernisasi. Masyarakat Islam kontemporer berkomitmen pada modernisasi dan bukan westernisasi. Terlepas dari munculnya gejala Islam fundamentalis di Afganistan, negara-negara mayoritas muslim di Asia mengadopsi Islam moderat yang modern tetapi tidak sepenuhnya melakukan sekularisasi.

Sekularisasi di Turki dianggap sebagai contoh yang kurang berhasil, karena sekarang muncul arus balik dari masyarakat. Mereka menolak sekularitas, tetapi tidak secara otomatis menginginkan negara agama. Ada kecenderungan muncul kekuatan religius yang mengarah pada modernism.

BACA JUGA  Sidoarjo Berburu Talenta E-Sports: Cetak Generasi Emas Menuju Panggung Regional dan Nasional

Gejala yang kurang lebih sama terjadi di Indonesia. Gelombang religiusitas sangat kencang terjadi, tetapi hal itu tidak dengan sendirinya menjadi arus utama untuk menjadikan Indonesia sebagai negara agama. Memang ada kekuatan politik Islam yang mengarah kepada negara agama, tetapi gerakan itu kalah oleh arus moderat yang menghendaki Islam yang modern dan moderat.

Derap menuju modernitas diprediksi akan menjad arus utama yang bisa menghindarkan manusia dari peperangan. Derap menuju modernitas ini juga menjadi kekuatan besar yang bisa menggulingkan kekuasaan zalim yang antagonistis terhadap Islam.

Indonesia juga mengalami arus yang sama, dan karena itu rezim yang tidak mewaspadai fenomena ini ini bisa menjadi korban terjangan arus perubahan. (*)

Editor: Muhammad Tanreha

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.