Rabu, 13 Mei 2026, pukul : 08:32 WIB
Surabaya
--°C

Kebat Kliwat

Sepuluh tahun yang lalu Anda masih harus berdiri di pinggir jalan—kepanasan atau malah kehujanan—untuk mencegat taksi, sambil melambai-lambaikan tangan dan mata celingukan memelototi setiap mobil yang lewat. Anda bisa berdiri di trotoar setengah jam menunggu taksi lewat. Kalau Anda tidak sabar Anda menelepon call center taksi dan operator mengatakan supaya Anda bersabar karena jam sibuk dan armada penuh.

Sekarang Anda bisa memesan taksi sambil minum kopi di rumah, dan ketika taksi akan datang tujuh menit Anda merasa terlalu lambat dan membatalkannya untuk berpindah ke taksi lain. Dua menit kemudian tukang taksi sudah membunyikan klakson di depan pintu Anda.

Itulah akselerasi teknologi yang membuat segalanya menjadi sangat cepat dan ringkas. Seorang insinyur di masa lalu membutuhkan waktu dua tahun untuk menemukan rancang bangun baru dan membuat prototipe-nya. Sekarang, dengan aplikasi dan komputasi awan yang disambungkan dengan teknologi cetak 3D hal itu bisa diselesaikan dalam beberapa jam.

Itulah akselerasi hidup manusia akibat teknologi yang berkembang sangat pesat. Revolusi akselerasi itu  dimulai dari penemuan chip mikro yang mendasari lahirnya super-komputer. Friedman menyebutnya mesin “supernova” yang mengacu pada perkembangan teknologi yang dipengaruhi Hukum Moore (dari Gordon Moore pendiri Intel). Pada 1965, Moore meramal bahwa kecepatan kinerja chip akan bertambah dua kali lipat setiap 18 bulan.

Ramalan itu terbukti kini dengan kehadiran peranti lunak, komputer yang mengecil, teknologi sensor, penyimpanan digital, hingga interaksi manusia lewat jejaring Internet. Sejak itu hidup manusia tak lagi sama. Alam semesta berubah, juga interaksi manusia dalam pasar global berubah karena teknologi algoritma dan big data.

Segala sesuatu berjalan serba cepat dan presisi karena mesin mengetahui apa yang dipikirkan manusia lewat kecenderungan-kecenderungan perilakunya. Tapi, dari yang serba cepat itu, Friedman justru tertolong oleh hal yang tidak selalu dikendalikan mesin. Ada unsur-unsur kemanusiaan yang tidak selalu harus dikendalikan oleh mesin.

Suatu hari, Friedman membuat janji kencan dengan temannya di New York. Tapi si teman itu terlambat karena jalanan New York yang selalu macet pada jam sibuk. Ketika menunggu itulah Friedman berpikir apa yang terjadi seandainya mesin memprogram janji mereka. Apakah teman itu akan terlambat juga, atau apakah lalu lintas bisa dirapikan dan dilancarkan dengan bantuan teknologi yang canggih?

Pertanyaan-pertanyaan itu mendorong Friedman meriset sejarah perkembangan teknologi yang sudah ia akrabi sebagai wartawan dan kolumnis. Friedman kemudian mewawancarai ratusan konsultan, penemu teknologi, hingga CEO perusahaan-perusahaan besar yang menginvasi pasar.

Maka, alih-alih kesal kepada sang teman yang terlambat ia justru berterima kasih kepadanya. Seandainya si teman ini tepat waktu, karena mesin dan robot memudahkan perjalanannya, Friedman tak akan punya waktu memikirkan tentang kedigdayaan supercomputer dan mengingatkan kepada dunia terhadap manfaat dan ancamannya.

Terlambat itu jadi baik, dalam hal Thomas Friedman. Ia jadi punya waktu merenungkan hal ikhwal yang terjadi sekelilingnya. Ia menganjurkan agar kita berani terlambat, eksit dari pertarungan, agar kita bisa menata kembali ladang-ladang yang terpengaruh oleh percepatan teknologi itu: politik, komunitas, cara kerja manusia, hingga urusan geopolitik dunia.

Ibarat permainan sepak bola, kalau kita biasa menjadi pemain maka kita tidak bisa merasakan bagaimana menjadi penonton. Karena itu, dengan sejenak menjadi penonton, kita bisa lebih arif karena kita punya jarak dari pertandingan.

Kita perlu waktu untuk berjenak dan menempatkan diri sebagai penonton, sebagai rakyat, untuk menghayati dan merasakan hidup mereka. Sebagai pemain, tentu ingin selalu menang dan mencetak gol sebanyak mungkin dan secepat mungkin.

Friedman mengingatkan kita bahwa di tengah akselerasi teknologi yang super-cepat itu, kita butuh waktu untuk melambat dan memberi kesempatan kepada nurani untuk berpikir dan merenung.

Teknologi menjadikan segala sesuatu serba praktis. Politik pun menjadi serba praktis dan tergesa-gesa. Pekerjaan-pekerjaan besar pun ingin diringkas dengan cepat dan sesegera mungkin. Teknologi bisa mengalami fenomena ‘’kebat kliwat’’, terlalu cepat sehingga banyak yang terlewat. Politik pun juga demikian, semakin cepat semakin besar kemungkinan kebat kliwat.

Mungkin sekarang saatnya kita perlu melambat sebentar, supaya semuanya bisa diselesaikan tanpa ada yang dilewati atau terlewatkan. Mungkin sekarang saatnya kita menerapkan lagi kearifan lokal ‘’alon-alon waton kelakon’’.  Daripada gancang pincang, lebih baik lambat asal selamat. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.