Rabu, 13 Mei 2026, pukul : 07:46 WIB
Surabaya
--°C

Kebat Kliwat

KEMPALAN: Orang Jawa punya filosofi ‘’alon-alon waton kelakon’’, yang diterjemahkan dalam pepatah Bahasa Indonesia menjadi ‘’biar lambat asal selamat’’. Orang Jawa juga punya frasa ‘’kebat kliwat’’ yang kurang lebih artinya cepat tapi terlewat. Sesuatu dikerjakan dengan tergesa-gesa, tetapi kemudian banyak hal yang dilewati dan dilewatkan.

Kebat kliwat adalah istilah yang sering digabungkan dengan istilah ‘’gancang pincang’’ yang maknanya kurang lebih sama, yaitu kencang tapi pincang. Sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan gegas dan gesa, tanpa pikir panjang, dan hasilnya akan pincang.

Kebat kliwat lebih berkonotasi negatif karena dihubungkan dengan sikap yang grusa-grusu, bertindak tanpa berpikir yang mendalam.  Sedangkan alon-alon waton kelakon lebih berkonotasi positif, karena dihubungkan dengan tindakan yang diambil dengan pemikiran yang mendalam, bila perlu dengan kontemplasi, dan mempertimbangkan semua aspek sebab dan akibat.

Jagat orang Jawa adalah jagat yang selow, cenderung lambat. Orang Jawa tidak menyukai ketergesaan, apalagi kalau ketergesaan itu sampai membuat kliwat, melewatkan sesuatu yang penting. Orang Jawa berpikir mendalam sebelum bertindak. Pikiran dan penggalih, otak dan nurani, dua hal yang selalu berjalan seiring menjadi kesatuan yang harmonis.

Ketika melangkah orang Jawa diingatkan supaya ‘’ati-ati’’ atau ‘’hati-hati’’. Setiap kali pamit kepada orang tua hendak keluar rumah untuk mengerjakan segala hal, orang tua mengingatkan supaya ‘’hati-hati’’. Ini berarti orang Jawa harus selalu bertindak dengan hati. Di mana pun dan kapan pun.

Semua orang tua pasti mengingatkan anaknya supaya ‘’hati-hati’’. Tidak ada, misalnya, yang mengingatkan supaya ‘’tangan-tangan’’, atau ‘’kepala-kepala’’, atau ‘’dengkul-dengkul’’, karena orang Jawa harus melakukan segala sesuatu dengan hati.

Budaya Jawa ini dianggap bertentangan dengan budaya modern yang serba cepat dan terburu-buru. Time is money, waktu adalah uang, waktu diukur dengan uang, karena budaya modern Barat berpijak pada materialisme. Segala sesuatu diukur dengan uang, dan karena itu waktu juga adalah uang.

Akselerasi, kecepatan, efektivitas, efisiensi, dan produktivitas, adalah mantra-mantra modernitas. Waktu adalah kecepatan, siapa yang lambat dia akan digilas oleh waktu dan modernitas. Orang modern mengartikan modernitas dengan menghargai waktu.

Di Jawa orang hidup dengan waktu yang lambat atau mundur. Jam karet hanya ada di Indonesia. Waktu di Indonesia bisa mulur dan mengkeret setiap saat. Undangan untuk sebuah acara sering disebut jam sekian sampai selesai. Ketika ada satu acara kita tidak bisa merencanakan acara berikutnya karena kita tidak tahu jam berapa acara akan selesai.

Undangan di Indonesia sering juga menyebutkan waktu ‘’Bakda Isyak’’. Acara akan dimulai bakda Isyak, bisa jam tujuh atau jam sembilan malam. Sebuah pengajian umum di kampung bisa berlangsung sampai lewat tengah malam, karena sang penceramah baru selesai dari acara lain menjelang jam 12 malam.

Di Barat yang modern keterlambatan adalah tabu, atau bahkan haram. Hidup selalu harus tepat waktu sampai menit dan detik. Itulah ciri peradaban Barat yang maju karena sains dan teknologi. Hidup manusia dipacu sebagai mesin.

Tapi, bagi Thomas L. Friedman, wartawan dan pemikir sosial terkemuka di Amerika, ketergesaan dan akselerasi tidak selalu baik. Ia malah merindukan kelambatan, setidaknya dengan kelambatan itu dia bisa duduk rileks dan berpikir sebentar.

Friedman, kolumnis The New York Times,  berterima kasih kepada keterlambatan. ‘’Thank You For Being Late’’ seperti judul buku best seller yang ditulisnya pada 2018. Terima kasih Anda terlambat, karena dengan begitu Friedman bisa berpikir dengan jenak dan menghasilkan buku 600 halaman lebih mengenai teknologi dan ketergesaan.

Terlambat itu baik, kata Friedman, terutama ketika hal-ihwal di sekeliling kita bergerak sangat cepat. Revolusi teknologi, terutama peranti lunak, membuat hidup manusia jadi ringkas, efektif, dan efisien. Semua masalah yang dihadapi manusia, mulai dari mencari makan sampai mencari jodoh, bisa dilakukan dengan cepat dan ringkas melalui aplikasi.

Friedman merangkum sejarah kompleks dalam waktu singkat pencapaian manusia dan teknologi yang berlangsung dalam sepuluh tahun terakhir, juga perubahan-perubahan yang ditimbulkannya.

Sepuluh tahun yang…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.