
Oleh: Isa Ansori
Kolumnis
KEMPALAN: Dalam sejarah Mahabarata, ada bagian penting peristiwa pertempuran menegakkan keadilan, Perang di Kurushetra. Nama Kurushetra yang menjadi lokasi pertempuran ini bermakna “daratan kuru” yang juga disebut “Dharmaksetra” yang berarti daratan keadilan.
Pertempuran dimulai dari ambisi kekuasaan yang disemai oleh seratus putra Dretarasta yahg dikenal dengan sebutan Kurawa. Para keluarga Kurawa terutama Duryadana, tidak rela kalau kekuasaan dipegang oleh keturunan Pandu ( Pendawa), karena menurutnya mereka adalah keturunan dari sang Ayah, Dretarasta yang merupakan putra sulung Raja Hastina.
Tipu muslihat pun dijalankan oleh Duryadana, mulai dari fitnah, menyebarkan berita hoaks, membunuh karakter Yudistira dan bahkan upaya membunuh lawan politiknya keluarga Pendhawa utamanya Yudhistira. Duryadana tak rela terhadap pilihan sang Kakek, Bisma, Drona dan Krepa, mereka ini adalah guru yang bijak dan berperilaku adil. Yudhistira dianggap oleh Bisma sebagai orang pantas meneruskan tahta kerajaan Kuru, karena ia dianggap berkepribadian baik, selain itu juga karena memang Yudhistira adalah pangeran yang tertua.
Gagal dengan rencana – rencana busuknya, Duryadanapun menebar tipu muslihat dengan mengajak bermain dadu, siapa yang kalah harus meninggalkan istana. Untuk memenangkan permainan itu, Duryadhana berlaku licik dengan mengubah sistim permainan sesuai dengan keinginannya. Pendhawa yang jujur akhirnya kalah oleh sistem permainan yang sudah diculasi. Kekalahan itu menyebabkan Yudhistira dan seluruh keluarga Pendhawa harus diasingkan selama 13 tahun.
Setelah masa pengasingan berakhir, sesuai dengan perjanjian, Yudhistira pun meminta kembali kekuasaannya, namun Duryadana menolak, bahkan berupaya menambah masa kekuasaannya kembali menjadi beberapa periode. Tipu muslihat lainpun mulai dirancang dengan merubah aturan aturan yang sudah ada untuk kepentingan nya.
Nampaknya kisah Maha Barata dengan Perang Kurushetra nya menjadi sebuah legenda yang berulang. Indonesia yang gemah ripah loh jinawi, adil dan makmur dan sejahtera dikotori oleh pasukan culas yang berambisi mempertahankan kekuasaan dengan segala cara. Keadilan dinista, demokrasi dijarah, kesejahteraan hanya menjadi ilusi. Rakyat dibelah demi mempertahankan kekuasaan akibat perselingkuhan penguasa dan pengusaha hitam ( kaum oligarki), di tengah penderitaan rakyat, kita pun disuguhi laporan kekayaan pejabat yang meningkat selama pandemi, tak ada rasa malu, bahkan yang ada bagaimana menambah pundi-pundi harta mereka dengan tipu muslihat yang dilegalkan. Akankah ini dibiarkan? Indonesia dijarah oleh kekuasaan dan dimanipulasi oleh halusinasi para buzzer bayaran? Tentu tidak.
Lalu apa yang harus dilakukan oleh rakyat Indonesia? Tentu mencari dan menemukan seorang pemimpin yang adil dan bijak sebagaimana Yudhistira menyelamatkan Hastina dari jarahan kelompok hitam haus kekuasaan.
Sosok Yudhistira yang adil dan bijak, berjuang untuk kepentingan rakyat, memimpin untuk memberikan keadilan pada rakyat ada pada Sosok Anies, Gubernur DKI, Sang juru selamat.
Anies dengan performnya selama memimpin Jakarta bisa menjadi jaminan kelak kalau beliau memimpin Indonesia. Anies yang berpuhak pada kepentingan rakyat ditunjukkan dengan penutupan ijin reklamasi untuk kepentingan menyelamatkan Jakarta dan warganya, utamanya para nelayan. Dilain peristiwa Anies menampakkan sosok pemimpin yang demokratis dan berpihak pada kepentingan rakyat.
Keberpihakan Anies ditampakkan ketika kebijakan Anies berpihak kepada kaum buruh dengan menaikkan UMP DKI sebesar 5.1 %. Yang terbaru Anies memenuhi janjinya sebagai komitmen keberpihakannya kepada rakyat dengan mencabut Keputusan Gubernur No 122 Tahun 1997 Tentang Penetapan Penguasaan Bidang Tanah 23 Hektare, Kecamatan Tanah Abang, Kotamadya, Jakarta Pusat, di dalamnya aturan berisi larangan untuk mendirikan bangunan di kawasan tersebut. Sebagai gantinya, Anies menerbitkan Kepgub 1596 Tahun 2021, Tentang Pencabutan Keputusan Gubernur No 122 Tahun 1997. Dengan adanya aturan ini, kini warga bisa melakukan pemanfaatan lahan untuk mendirikan bangunan. Betapa sukacitanya mereka, perjuangan selama 25 tahun, kini dikabulkan oleh Anies.
Anies tak lagi hanya milik relawannya, kini Anies milik semua warga DKI. Keberpihakan Anies tak boleh hanya dirasakan oleh warga Jakarta saja, keberpihakan Anies kepada rakyat harus dirasakan oleh seluruh warga Indonesia. Anies adalah “Sang Mesias” untuk Indonesia. Anies adalah Panglima perang yang akan menyelamatkan Indonesia dari jarahan para oligarki, pengusaha dan penguasa culas beserta antek anteknya yang menjarah reformasi dan amanah UUD 1945. (*)
Surabaya, 20 Januari 2022
—
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi