Kita digiring menjadi bangsa pemaaf pelupa, dan mudah dibeli. Tidak seperti ketika melakukan tuduhan terhadap orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI) telah mengkhianati bangsa dan negara, ditindak secara tidak manusiawi dan dibabat habis sampai anak cucunya.
Selain itu mari kita tengok permainan politik pemilihan umum (pemilu 2004), pemilihan legislatif dan pemilihan presiden beserta wakilnya secara langsung oleh rakyat. Banyak partai bermunculan sebagai kontestan pemilu. Di antara partai-partai tersebut, yang ada adalah partai yang tidak berlomba-lomba menyejahterakan rakyat. Partai-partai yang hanya bertaraf kepentingan, membawa kepentingan sendiri, paling jauh kepentingan kelompok. Tak jauh beda seperti watak Orba.
Begitu juga dengan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), diantaranya adalah dedengkot Orba—berlatar belakang militer pelopor Orba, punya andil besar terhadap keterpurukan Indonesia (baca tiga jalur kekuatan politik Orba: ABRI, Birokrasi dan Golkar). Ada pula dari tokoh reformis—tidak lagi memiliki komitmen terhadap tuntutan rakyat—lebih nampak bermain mencari kesempatan dari kondisi politik kacau balau.
Dunia politik di negeri kita masih dikuasai oleh orang-orang tertentu, yaitu kelompok elit politik. Kita bisa memperkirakan penyelenggaraan pemilu dalam kondisi politik demikian, tidak jarang terjadi penyimpangan, curang, tekanan, politik uang (money politic) dan main fitnah untuk memenangkan pemilu. Juga kita bisa membaca, bahwa hasil pemilu sekarang, sangat sulit dapat menyelesaikan berbagai krisis yang sedang melanda bangsa Indonesia.

Kondisi politik semacam ini mencerminkan demokrasi belum berjalan mulus—tidak mencerdaskan—pendidikan politik tidak merata. Rakyat banyak yang tidak menjangkau, tidak mengerti dan tidak terlibat secara utuh. Masih sering terjadi kebohongan, pembodohan, penipuan terhadap publik, dan terjadi militansi membabi-buta terhadap partai dan tokoh tertentu. Rakyat jadi sasaran empuk untuk diperalat.
Perjalanan politik demikian, namanya partisipasi politik selalu dilumpuhkan. Aspirasi rakyat lebih banyak tidak dihiraukan—ditampung, namun tidak ada kelanjutaan. Mereka lebih banyak dikecewakan, menjadi acuh, tidak mau tahu dan apatis. Hanya pada saat menjelang pemilu, kedudukan mereka lebih tinggi, karena suaranya dibutuhkan.
Lebih bahaya lagi banyak bermunculan rakyat frustasi dan tidak sabar segera mengakhiri krisis multi dimensional, krisis ekonomi berkepanjangan, krisis politik yang belum tuntas dan lebih besar lagi krisis negara kesatuan. Kondisi semacam ini sangat memungkinkan Orba hidup jaya kembali, setidaknya merestui dan membenarkan sistem politik Orba, yang otoritarian, tegas dan disiplin model militer—meletakkan semua harapan pada pendekatan militeristik serta mulai mentolerir kekerasan.
Membiarkan kondisi tersebut tak ubahnya memberikan kesempatan tumbuh subur paham atau keyakinan fasisme, ideologi partai Nazi pimpinan Hitler. Disadari atau tidak. Lambat laun dasar negara kita yakini bersama semakin redup, dan mati terbunuh bangsa sendiri.
Bertolak dari kesadaran di atas, sewajarnya karya seni grafis lahir dari keinginan menggugah kesadaran masyarakat berpolitik. Agar mereka tidak mudah diintervensi oleh kepentingan elit politik dan tidak mudah dimanfaatkan oleh siapa saja. Mengokohkan partisipasi politik mereka, yang independen, bebas, luhur dan berpikiran jernih dalam berpartisipasi.
Untuk itu memperlakukan seni grafis sebagai aksi kebudayaan, tidak hanya bertumbuh pada kemampuan mereduksi kebenaran realitas sosial, yang di dalamnya ada penderitaan, kesewenang-wenangan, kebohongan, tekanan, keterasingan, kengerian, dan segala kepalsuan manusia. Juga sangat tergantung pada peranan seniman sebagai fungsi sosial, melakukan proses pendidikan politik kepada mereka—mengajak lebih intens menghayati pengalaman realitas sosial, untuk kepentingan kemanusiaan lebih luas.
Proses pendidikan…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi