Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 01:03 WIB
Surabaya
--°C

Seni Grafis: Keluar dari Rahim Kezaliman (Aksi Kebudayaan dan Partisipasi Politik)

Kepribadian di atas telah banyak merasuki jiwa cendekiawan, rohaniwan, budayawan, seniman dan tokoh masyarakat. Sebagaimana mestinya mereka lebih dekat dan lebih banyak mengetahui keberadaan kehidupan masyarakat, tentunya mengambil peranan memihak pada kepentingan rakyat.

Namun kenyataannya mereka banyak yang tidak berani mengambil resiko, bahkan ikut punya andil besar melancarkan jalannya pembangunan tersebut. Hal ini sangat merugikan eksistensi mereka sendiri, tidak layak untuk dipercaya dan tidak pantas jadi panutan.

Lebih parah lagi pembangunan Orba berkemampuan mengubah hakikat manusia. Mendorong manusia menjadi manusia materialisme, yang kebahagiaannya, status dan gengsinya ditentukan oleh jumlah kekayaan yang dimiliki dan tingkat konsumennya.

Sehingga pembangunan Orba banyak melahirkan masyarakat tergila-gila memuja materi, individualisme makin meluas dan konsumerisme meningkat. Masyarakat dijauhkan dari status manusia yang ditentukan oleh kepribadian, seperti kejujuran, kepedulian, solidaritas sosial dan sebagainya.

Konvensi. (Grafis: Saiful Hadjar)

Kita memasuki pemerintahan pasca Orba. Diawali dari pengguliran reformasi dan Jenderal Purn H.M. Soeharto lengser dari kursi kepresidenan sebagai tanda tumbangnya Orba (baca: agenda reformasi), merupakan tuntutan seluruh rakyat Indonesia, menginginkan perubahan yang lebih baik dan demokratis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Reformasi juga merupakan bebasnya rakyat dari kepemimpinan otoriter dan sentralistik.
Reformasi bergulir dari tahun ke tahun, nasibnya semakin tidak jelas arahnya, tidak sesuai dengan keinginan rakyat semula.

Memang Orba sudah tumbang, tetapi belum menunjukkan kekalahan. Kalau Orba sudah dikatakan mati, namun tak sempat dikubur. Bangkainya digerogoti oleh para politisi busuk, dan baunya menyekar menjangkiti kepribadian siapa saja.

Lebih tepatnya Orba bangkit kembali. Dalam masa transisi, sedikit demi sedikit mereka orang Orba menyusun kekuatan kembali. Mereka tidak mau menyerah begitu saja, masih banyak yang berperan dalam permainan politik sampai sekarang.

Rakyat tidak diperkenankan membicarakan kesalahan Orba di masa lalu, lebih baik bicara rencana untuk ke depan yang lebih cemerlang.
Secara terang-terangan mereka menampakkan diri dan bermain cantik, merebut hati rakyat kembali. Sehingga banyak rakyat simpatik dengan penampilannya. Orba yang dikenal dengan ideologi pembangunan—melakukan pemaksaan, intimidasi, korupsi, monopoli, kolusi, nepotis, penculikan, main tunjuk (fitnah), pembantaian massal dan melakukan segala bentuk kekerasan—lenyap begitu saja.

Kita digiring…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.