KEMPALAN: Jewer telinga adalah hukuman khas yang dilakukan guru-guru di masa lalu. Hukuman itu sudah tidak banyak dilakukan sekarang. Para guru sudah tidak berani lagi menjewer telinga murid-murid yang nakal, karena bisa-bisa malah masuk penjara terjerat undang-undang perlindungan anak.
Kali ini terjadi insiden jewer telinga yang cukup bikin heboh, karena yang menjewer bukan guru melainkan Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi. Yang menerima hukuman jewer juga bukan murid SD, tapi seorang pelatih cabang olahraga biliar bernama Coki Aritonang.
Insiden jewer telinga itu terjadi pada Senin (27/12) dalam acara penyerahan bonus untuk atlet Sumut yang berprestasi dalam PON (Pekan Olahraga Nasional), 2021. Ketika sedang memberi sambutan, tetiba Edy Rahmayadi murka kepada Coki Aritonang yang dilihatnya tidak ikut bertepuk tangan bersama lainnya. Edy marah karena melihat Coki tertidur di tengah acara.
Edy kemudian memanggil Coki naik ke atas panggung dan menanyainya mengapa tidak ikut bertepuk tangan. Edy kemudian menjewer kuping Coki dan menyebutnya sebagai sontoloyo. Edy bahkan kemudian mengusir Coki dari ruang acara dan minta pengurus KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Sumut mengevaluasi Coki.
Coki tidak terima dengan perlakuan itu. Ia merasa dipermalukan di depan umum. Coki pun melayangkan somasi kepada Edy Rahmayadi dan menuntutnya meminta maaf secara terbuka. Coki mengancam akan melaporkan Edy ke polisi kalau tidak mau minta maaf.
Coki membantah tertidur di tengah acara. Coki tidak mau beretepuk tangan karena pidato Edy Rahmayadi dianggapnya biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Malah, menurut Coki, selama ini, Edy Rahmayadi tidak punya perhatian kepada olahraga Sumatera Utara.
Sebagai provinsi besar prestasi olahraga Sumut jauh ketinggalan dibanding provinsi besar lainnya. Pada PON di Papua Oktober lalu Sumut hanya berada di urutan ke-13 dari 34 provinsi. Sumut hanya memperoleh 10 medali emas.
Capaian ini jauh ketinggalan dari tiga provinsi besar Jawa Barat, DKI, dan Jawa Timur yang masuk tiga besar. Bahkan, dibanding provinsi kecil seperti Lampung dan NTB, Sumut jauh ketinggalan. Dua provinsi kecil itu konsisten berada di lima besar atau setidaknya sepuluh besar.
Pada PON Papua ini Sumut mematok target masuk sepuluh besar, tapi ternyata meleset. Meski demikian, Sumut mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah PON ke-21 yang rencananya akan digelar pada 2024. Sumut akan menjadi tuan rumah bersama Provinsi Aceh.
Biasanya, kalau sudah menjadi tuan rumah barulah mengebut mengejar target juara, atau setidaknya masuk tiga besar. Tuan rumah Papua yang biasanya hanya bisa berada di sepuluh besar, tahun ini bisa bercokol di empat besar.
Sebagai bakal tuan rumah Sumut pasti mematok target tinggi, misalnya juara umum. Target semacam ini sebenarnya tidak masuk akal karena rekam jejak prestasi yang tidak meyakinkan. Tetapi, target ini bukan sekadar target prestasi, tetapi lebih banyak sebagai target politik. Selalu ada ambisi terselubung di balik target muluk itu.
Jalan yang ditempuh biasanya pintas dan instan. Yang paling umum adalah membeli atlet dari luar daerah. Selain itu, tuan rumah biasanya bisa memasukkan cabang olahraga dan nomor-nomor unggulan. Tuan rumah biasanya juga diuntungkan oleh faktor-faktor non-teknis, terutama dalam cabang olahraga yang tidak terukur.
Nama Edy Rahmayadi sebagai panglima Kostrad tidak dikenal publik. Namanya baru dikenal setelah menjadi ketua umum PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) pada 2016. Selama memimpin PSSI tidak banyak prestasi yang ditorehkan Edy Rahmayadi. Dia kurang fokus karena sibuk mencalonkan diri sebagai gubernur Sumatera Utara.
Edy Rahmayadi terpilih sebagai gubernur Sumut pada 2019 dan masih merangkap sebagai ketua PSSI. Tapi terlihat jelas bahwa Edy sudah kehilangan kontrol terhadap PSSI. Selama masa kepengurusannya banyak demo yang menuntutnya mundur. Akhirnya Edy Rahmayadi mundur dari PSSI pada 2019.
Penyakit lama masih…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi