Sejarah pelacuran sudah membentang jauh sampai seumur peradaban manusia. Masyarakat kuno di Sumeria atau Mesir Kuno mempunyai kebiasaan memberi persembahan kepada dewa-dewa untuk mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan panen mereka. Dalam kesempatan itu para lelaki menempatkan istri atau anak perempuan mereka di kuil besar, dan lelaki-lelaki lain kemudian melakukan hubungan seksual dengan perempuan-perempuan itu.
Peradaban pelacuran kuno ini berlangsung dan berkembang semakin canggih sampai sekarang. Para lelaki Sumaria Kuno yang menyediakan perempuan di kuil itu sekarang bertransformasi menjadi germo atau muncikari profesional. Kuil persembahan itu di era modern berubah wujud menjadi lokalisasi pelacuran yang tersebar di seluruh dunia.
Salah satu lokalisasi terbesar yang pernah dikenal di Indonesia adalah ‘’Dolly’’ di Surabaya. Sebelum resmi ditutup pada 2014 lokalisasi ini disebut-sebut sebagai tempat pelacuran terbesar di Asia Tenggara. Diperkirakan hampir seribu rumah bordil berdiri di lokalisasi itu dengan jumlah pekerja mencapai angka 10 ribu.
Rumah bordil itu dikenal dengan sebutan ‘’wisma’’. Sebuah wisma besar dan paling terkenal seperti ‘’Wisma Barbara’’ bisa menyediakan sampai 50 perempuan, dan wisma-wisma kecil biasanya punya lima atau enam perempuan.
Bisa dibayangkan berapa jumlah perempuan yang berkeja di Dolly. Belum lagi para pekerja yang melayani sektor-sektor pendukung, seperti warung, tempat parkir, penjagaan keamanan, dan para penjual minuman keras dan operator perjudian.
Dolly menjadi legenda. Menurut sejarah lisan yang beredar dari mulut ke mulut Tante Dolly adalah wanita keturunan Belanda bekas pelacur yang pada 1960-an menyediakan rumah yang berisi perempuan untuk melayani orang-orang Belanda. Awalnya hanya beberapa orang Belanda yang mampir ke rumah Dolly. Tapi, lambat laun semakin banyak orang yang mengetahui rumah Dolly dan kemudian menjadi pelanggannya. Perempuan yang disediakan pun semakin banyak.
Pelanggan Dolly pun berkembang, dan orang-orang pribumi ikut menjadi pelanggan. Peluang bisnis itu dimanfaatkan juga oleh orang-orang pribumi. Maka jadilah wilayah Jl Girilaya, Putat Jaya, di Surabaya itu menjadi pusat layanan syahwat laki-laki yang populer.
Studi mengenai Dolly ditulis oleh Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar dalam buku ‘’Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Kompleks Pelacuran Dolly’’ (1982). Menurut penelitian itu, dahulu daerah Putat Jaya merupakan kompleks makam Cina. Setelah peristiwa PKI 1965 lokasi itu mulai ditempati oleh para pendatang yang kemudian menghancurkan bangunan-bangunan makam.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi