Menu

Mode Gelap

kempalanda · 17 Nov 2021 09:00 WIB ·

Budak Energi


					Ilustrasi jalanan yang ramai. (Fikri Rasyid-Unsplash) Perbesar

Ilustrasi jalanan yang ramai. (Fikri Rasyid-Unsplash)

Daniel Mohammad Rosyid

KEMPALAN: Belum lama ini Presiden menyempatkan hadir di sirkuit Mandalika di Lombok Tengah untuk mencoba motor RI1 -entah bermerk apa- di atas track balapan internasional itu. Pada saat yang sama Kalimantan Tengah dilanda banjir dan genangannya belum surut hingga hari ini. Saya tidak mempersoalkan mengapa Presiden tidak berkunjung ke kawasan bencana di Kalimantan itu, tapi mempersoalkan bencana yang bisa ditimbulkan oleh motor yg mungkin tidak disadari Presiden.

Motor adalah senjata pembunuh massal, baik secara langsung atau tidak. Arena balap di Mandalika itu adalah perayaan akan efektifitas motor untuk membunuh manusia. Setiap hari ada sekitar 10 korban tewas di jalanan Jawa Timur. 7 diantaranya adalah pesepeda motor. Setiap hari! Sementara itu setiap hari Metropolitan Surabaya digerojog dengan 1500 motor baru dan sekitar 150 mobil baru. Setiap bulan sekitar 1 Ha lahan habis dilalap oleh mobil dan motor sekedar untuk menampung budak-budak energi ini di parkiran tempat parkir, garasi rumah atau jalan-jalan perumahan.

Setiap mobil maupun motor -tak satupun buatan Indonesia- menuntut BBM untuk mencegahnya menjadi rongsokan canggih. Budak-budak energi ini sumber pencemaran dan akar ketidakadilan energi di negeri kepulauan seluas Eropa ini. Karena 60% lebih penduduk tinggal di Jawa, bisa dibayangkan konsumsi BBM di Jawa untuk sekedar dibuang oleh para budak energi ini untuk lalu lalang merajai jalanan di kota-kota di Jawa. Kemacetan kota-kota di Jawa sebuah keniscayaan yang tinggal menunggu waktu. Sementara itu ketimpangan konsumsi energi antara Jawa dan Luar Jawa semakin menganga lebar.

Obsesi motor pada anak muda, hingga usia SMP yang belum cukup dewasa untuk punya Surat Ijin Mengemudi, sudah mengerikan. Apalagi pembelian motor sangat dipermudah dengan hutang. Setiap pagi usai Subuh dan menjelang maghrib, di dermaga Kamal yang sepi di seberang Surabaya, kita bisa saksikan kebut-kebutan pemotor muda dengan suara yang memekakkan telinga. Juga di jalanan lain di Kenjeran dan di banyak tempat lainnya. Penggunaan motor ini telah menyebabkan penurunan tingkat kesehatan warga muda karena penurunan aktifitas fisik (berjalan kaki dan bersepeda) bahkan di pelosok desa sekalipun. Seiring dengan itu juga peningkatan polusi udara.

Yang membunuh warga muda saat ini bukan infeksi virus semacam Covid-19 atau penyakit menular yang lain, tetapi penyakit degeneratif seperti diabetes, jantung koroner, gagal ginjal dan kanker. Semuanya lebih disebabkan oleh gaya hidup yang semakin tidak aktif secara fisik. Ditambah keranjingan gadget, warga muda semakin pasif secara fisik dan mental. Ini adalah gejala defisit imunitas nasional yang berbahaya.

Setelah kota-kota…

Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Keakraban yang Hilang

26 November 2021 - 09:26 WIB

Guru

25 November 2021 - 14:26 WIB

Apa Karena Memang Lidah Tak Bertulang?

23 November 2021 - 16:00 WIB

Anjuran Menikah

23 November 2021 - 13:24 WIB

UBAYA Kembangkan Program Studi Anti-Nganggur

22 November 2021 - 11:03 WIB

Jika Kebutaan Telah Menjangkiti Hati

19 November 2021 - 14:18 WIB

Trending di kempalanda