Minggu, 26 April 2026, pukul : 23:56 WIB
Surabaya
--°C

Singa vs Rubah, dan Trah Moeldoko

KEMPALAN: Dalam politik, tidak ada cara yang berlaku untuk berkuasa selain tiga cara ini. Cara pertama adalah melalui kecakapan, yang berarti keterampilan dan kemampuan pribadi. Yang kedua adalah melalui rejeki nomplok, artinya keberuntungan. Cara ketiga adalah melalui kejahatan, seperti melalui kudeta, konspirasi, atau pembunuhan.

Cara pertama adalah cara yang demokratis. Cara yang memang dilakukan seseorang untuk berkuasa karena berlakunya merit system. Seseorang berkuasa karena keahlian, kecapakan, kepintarannya, prestasinya. Orang-orang yang mendukungya adalah orang-orang yang memang memiliki akal sehat.

Kalau hanya kecakapan seseorang tanpa dibarengi akal sehat pendukungnya, merit system ini tidak akan jalan. Dan demokrasi meniscayakan kesadaran kolektif akan kriteria sang pemimpin yang berprestasi dalam pengertian positif dari setiap warganya.

Cara kedua, yakni keberuntungan. Seorang raja menjadi raja adalah karena keberuntungannya. Ada faktor gawan bayi atau bawaan orok, yakni para pangeran yang kemudian melanjutkan tahta kekuasaan menggantikan sang ayah sebagai raja pertama yang membangun monarkhi.

Sudah alamiah bahwa seorang raja akan mewariskan apa yang dimlikinya sebagai raja kepada keturunanya, terutama untuk juga menjadi raja. Ini merupakan insting seorang raja, bahkan insting ini pun juga ada pada diri seorang presiden di era modern. Seorang presiden juga akan “memaksakan” anaknya menjadi pemimpin menggantikan kedudukannya.

Banyak presiden yang lalu di era modern Indoensia ini menghasratkan keturunannya menjadi penerus kepemimpinannya. Baik langsung maupun tidak langsung, sang presiden maupun generasi setelahnya akan memiliki ambisi untuk mempertahankan apa yang menjadi hak “genetis” atau darahnya.

Bahwa seorang pemimipin akan menghasratkan anaknya menjadi pemimpin karena merasa di dalam dirinya ada gen kepemimpinan yang menurun kepada anaknya dan bagi keturunannya adalah untuk menjaga warisan yang telah dibangun oleh ayahnya.

Mereka pun di sebut sebagai trah, atau dalam Bahasa inggrisnya adalah seed, benih, anak biologis; membentuk sebuah dinasti. Di Indonesia modern telah bermunculan banyak trah tersebut. Trah lama di Indonesia kita kenal trah Soekarno dan Soeharto. Dan kemudian selanjutnya ada trah-trah baru seperti Abdur Rahman Wahid (Gus Dur), dan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY); dan yang paling fresh adalah trah Joko Widodo (Jokowi). Namun ada juga yang berharap menjadi trah, trah wannabe, seperti Surya Paloh.

Keluarga Presiden Joko Widodo yang kini telah menjadi trah politik baru di Nusantara.

Para generasi setelah para bapaknya ini adalah orang-orang yang memang kemudian didapuk bisa mempertahankan legacy sang ayah, kakek, dan buyutnya. Itu adalah keuntungan yang dimlikinya sebagai keturunan. Karena didukung oleh orang –orang di sekitarnya yang kemudian memaksakan sang trah untuk melanjutkan kekuasan leluluhurnya karena ia mendapat keuntungan setidaknya kecipratan kekuasaan jika trah ini berkuasa.

Banyak dari partai di Indoensia kini yang anggotanya adalah orang-orang yang memang adalah sangat menghrapkan berkah trah dari sang pemimpin untuk menjadi pemimpin negara, setidaknya dari partainya. Kita lihat trah Soekarno ada pada partai PDI-P. Trah Soeharto ada pada partai Berkarya. Trah Abdur Rahman Wahid diharapkan menjadi memimpin PKB dan sangat memungkin kan akan muncul trah baru Muhaimin Iskandar. Trah SBY ada pada partai Demokrat. Trah Surya Paloh di partai Nasdem. Partai-partai ini ibarat monarkhi. Dan di beberapa tahun mendatang, akan ada banyak “pangeran” dan “putri” yang akan berebut tahta Republik Indonesia sebagai presiden.

Cara ketiga, adalah cara yang biasanya digunakan oleh orang-orang yang tidak cakap dan tidak memiliki trah. Bahkan, bisa jadi orang yang memang cakap, namun tidak memiliki kesabaran. Cara ketiga ini dilakukan dengan cara-cara yang tidak beretika.

Etika ini menjadi penting. Menurut Romo Frans Magnis Suseno, dalam bukunya “Etika” menyampaikan bahwa etika adalah apa yang membuat seorang manusia itu adalah manusia. Karenanya sebutan tidak beretika bagi seseorang adalah sebutan yang paling rendah. Karena itu menandakan derajadnya tidak lagi pada derajat manusia, namun lebih rendah.

Cara tidak beretika ini pun ditampilkan seperti dalam pembunuhan, konspirasi, dan kudeta. Dari proses ini memunculkan seorang pemimpin baru. Jika ia telah menjadi pemimpin, istilah tidak beretika yang tersematkan pada dirinya akan memudar dan hilang, bahkan berubah menjadi pahlawan, dan menjadi trah baru dalam kekuasaan. Seperti trah Saudi yang kini menjadi monarkhi di negara Arab dengan nama negara Arab Saudi.

Salah satu pengeran dari partai yang kini sedang mendapatkan tantangan adalah pangeran dari Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sebagai pemilik trah SBY, AHY mendapat rongrongan baik dari dalam maupun dari luar partai. Terutama dari lingkar luar Partai Demokrat yang mendapat tantangan pendongkelan dari Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko yang barasal dari lingkar dalam Presiden Jokowi yang menjadi trah baru kekuatan politik Indonesia.

Mengikuti nasehat filsuf politik asal Italia Nicolo Machiavelli, bahwa seorang pangeran harus berusaha untuk bertindak dengan itikad baik jika memungkinkan, tetapi harus mampu bertindak dengan itikad buruk, jika bertindak dengan itikad buruk diperlukan untuk mempertahankan kekuatan politiknya. Machiavelli menjelaskan keuntungan seorang pangeran menjadi seperti rubah dan singa (The Prince, Bab XVIII). Rubah dikenal sebagai representasi sosok yang licik namun cerdik. Sedangkan singa sebagai sosok representasi kekuasaan dan wibawa.

Dalam diri baik itu AHY maupun Moeldoko, terdapat dua potensi tersebut, yakni singa dan rubah. Namun dari statusnya, maka apa yang tengah dipertontonkan kali ini adalah seperti laga antara singa dan rubah yang dideskripsikan oleh Machiavelli. Sang singa yang berusaha mempertahankan kekuasaannya dan sang rubah yang ingin menggantikan posisi sebagai raja.

Dalam konteks ini AHY harus menunjukkan karakter singanya untuk melawan Moeldoko yang merepresentasi sebagai rubah. Melalui cara-cara yang tidak beretika, kemudian Moeldoko melancarkan serangannya secara licik dan cerdik untuk menggulingkan AHY dari kursi teratas Partai Demokrat.

Keduanya, seperti usul Machiavelli, berpotensi berperilaku tidak bermoral, seperti penggunaan tipu daya dan pembunuhan orang tak berdosa. Ini merupakan hal normal dan efektif dalam politik. Dia juga secara khusus mendorong para politisi untuk melakukan kejahatan ketika hal itu diperlukan demi kepentingan politik.

Pertaruhannya, apakah AHY akan menggunakan cara-cara yang tidak beretika tersebut untuk menandingi cara-cara Moeldoko yang telah disebut sebagai tidak beretika.

Namun, terlepas dari apa pun, jika Moeldoko berhasil memenangkan pertandingannya di Kemenkumham, yang mana peluangnya mungkin 100 persen, membuka pintu terbuka lebar baginya untuk menjadi presiden. Jika itu terjadi, maka orang akan mengatakan “Welcome to the club”, selamat datang di perkumpulan trah politik Indonesia. Sebuah usaha yang “worth it.”(*)

 

*Dr. Kumara Adji Kusuma adalah dosen pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan Penanggung Jawab LKBH Umsida

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.