Minggu, 17 Mei 2026, pukul : 09:35 WIB
Surabaya
--°C

Banyak Bicara, Satu dari Tiga Sifat yang Dibenci Allah

Hamid Abud Attamimi

Aktivis Dakwah dan Pendidikan, tinggal di Cirebon

KEMPALAN: Mengapa orang bijak sering digambarkan sebagai seorang yang lebih sedikit bicara dan kalaupun berbicara, dia tidak nampak terlalu mengumbar kata sehingga terkesan bertele-tele dan berputar-putar disitu.

Ya mungkin karena sejak kecil kita sudah terbiasa dikesankan bahwa pembual atau pembohong itu identik dengan yang banyak omong, atau malah disamakan dengan penjual obat.

Memang demikianlah nyatanya, orang bijak atau yang terasah kecerdasan serta emosinya, lebih memilih untuk banyak mendengar daripada bicara.

Bukan tidak suka atau tidak mau bicara, tetapi bicara jika memang harus dan perlu dan tidak bicara jika tidak benar-benar memahami masalahnya.

Seakan memang begitulah alasan mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan dua telinga dan satu mulut, agar lebih banyak kata yang kita serap daripada yang disuarakan.

Keselamatan seseorang terletak pada kemampuannya dalam menjaga lidahnya, akalnya diletakkan didepan lidahnya, bukan dibelakang, maknanya dia selalu berpikir sebelum menyatakan sesuatu.

Apalagi dijaman teknologi digital sekarang ini, semua semakin tidak berjarak lagi.

Apa yang kita sampaikan saat ini dalam hitungan menit sudah merebak dimana-mana, dan fatalnya orang demi menjadi yang pertama, sering tak merasa harus mendengar tuntas dan memahami sepenuhnya untuk kemudian menshare atau membagikan pada khalayak luas.

Kembali kita diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam bicara atau membuat narasi terkait masalah apapun.

Dahulu, kita sering terperangah ketika mendengar seseorang bicara, dia yang selama ini banyak diam dan kita anggap biasa-biasa saja, tetiba kita baru menyadari ternyata dia seorang yang bijak dan dalam ilmunya.

Mengapa sekarang yang terjadi malah sebaliknya, seseorang justru karena ingin dianggap ada atau diakui sebagai berilmu atau faham tentang sesuatu, maka dia berani bicara di depan forum tentang sesuatu yang bukan saja diluar kompetensinya, bahkan dia tidak faham sama sekali apa yang disampaikannya.

Ya.. Orang jadi gandrung ingin dianggap tau dengan bicara, bukan bicara karena tau.

Ini tingkat kebodohan yang paling tinggi, karena justru dengan banyak bicara, orang justru makin tau kadar keilmuannya, atau dengan kata lain, dia tengah membuka auratnya sendiri.

Bahkan yang paling menjijikkan seorang ‘akademisi’ yang notabene terbiasa berpikir berdasar ilmu, berani menyatakan atau menafsirkan sesuatu tanpa dasar pengetahuan, bahkan menyangkut Agama yang diyakininya.

Lebih baik dia membaca dan menelaah Hadits Rasulullah di bawah ini:

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah: ”Apa penyebab terbesar orang masuk neraka?” Nabi menjawab: ”Karena lidah dan kemaluannya.” (HR Turmudzi).

Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam yang lain:“Seorang muslim adalah yang keselamatan kaum muslimin terjaga dari lisan dan perbuatannya.” (HR Bukhari).

Ulama pewaris Nabi…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.