Menu

Mode Gelap

kempalanda · 18 Okt 2021 07:50 WIB ·

Pada Rasulallah Shallallah Alaihi Wassalam Kita Belajar dan Meneladani


					Ilustrasi lempengan bertuliskan lafadz Nabi Muhammad Saw. (Abdul Muizz-Unsplash) Perbesar

Ilustrasi lempengan bertuliskan lafadz Nabi Muhammad Saw. (Abdul Muizz-Unsplash)

Oleh: Hamid Abud Attamimi

Aktivis Dakwah dan Pendidikan, tinggal di Cirebon

KEMPALAN: Ada sementara orang yang meyakini bahwa agar apa yang disampaikan atau diserukan lebih mudah dipahami dan diikuti maka harus disampaikan dengan bersuara keras dan lantang.Atau dengan kalimat yang berbeda, untuk menyampaikan sesuatu yang baik dan benar, seseorang harus menyampaikannya dengan berteriak dan bernada keras.

Seolah orang hanya akan mendengar suatu ajakan atau seruan jika itu disampaikan dengan suara yang keras, sehingga lalu terbentuk suatu pola pikir, semakin keras dan lantangnya sebuah ajakan disuarakan, menunjukkan semakin penting dan bahkan akan jauh lebih besar kemungkinannya untuk didengar dan ditaati.

Benarkah memang demikian kenyataannya? Kemauan seseorang untuk terus mendengarkan sebuah ajakan, nasihat, himbauan, saran, dan bahkan lalu menerima dan mengikutinya, sangat bergantung pada apakah dia mengerti dan tentu juga menyetujuinya. Dan untuk sampai pada tahap itu, dia harus memiliki kesempatan untuk mencerna dan merenung tentang hakekat pesan yang disampaikan. Bagaimana bisa dicerna jika si penyampai mengabaikan retorika dan kondisi psikologis si pendengarnya.

Sampai pada bagian ini seharusnya kita memahami, mengapa keras dan lantang saja tidaklah cukup, si penyampai juga harus mampu memilih bahasa dan kata yang tepat, nada suara atau intonasi yang variatif dan bahkan jika perlu disertai permisalan yang lebih mendekatkan pada suasana psikologi si pendengar atau audiens.

Bahkan ada yang sering dilupakan, penampilan yang simpatik dari si pembicara juga sangat berpengaruh pada kesan mendalam si pendengar.

Rasulallah Muhammad Shallallah Alaihi Wassalam adalah pribadi agung dan paripurna, padanya berhimpun seluruh teladan, karena Beliau memiliki akhlak yang maha terpuji, maka tidak layak kita menengok pada uswah atau teladan yang lain.

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.(Q.S Al-Qalam, ayat 4).

Demikian pujian Allah Subhanahu wa Ta’ala pada sosok Rasullallah.

Beliau pendengar yang sabar sekaligus pembicara yang amat hati-hati, sehingga tiada sahabat yang merasa kecewa setelah berjumpa dan mendengar tutur kata dan petunjuknya.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.(Q.S Aali-Imraan, ayat 159).

Rasulullah Shallallah Alaihi Wassalam bersikap demikian karena bagi Beliau semua sahabat penting dihadapannya, oleh karenanya setiap orang merasa menjadi pribadi khusus.

Merasa menjadi khusus dan…

Artikel ini telah dibaca 82 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Tentang Suara

4 Desember 2021 - 12:24 WIB

Teladan Bagi Wanita Muslimah

30 November 2021 - 13:00 WIB

In Memoriam: Bens Leo, Wartawan Berpembawaan Tenang dengan Wajah Selalu Berhias Senyum

30 November 2021 - 11:18 WIB

Pada Sekerat Daging Ada Kezaliman yang Tak Termaafkan

29 November 2021 - 12:21 WIB

Keakraban yang Hilang

26 November 2021 - 09:26 WIB

Guru

25 November 2021 - 14:26 WIB

Trending di kempalanda