Menu

Mode Gelap

kempalanalisis · 28 Okt 2021 08:04 WIB ·

Negeri Para Bedebah


					Orangtua di Negeri Bedebah. (Mbambung Official) Perbesar

Orangtua di Negeri Bedebah. (Mbambung Official)

KEMPALAN: Negeri Para Bedebah, salah satu novel karya Tere Liye paling utama. Termasuk best seller dalam penjualan, dan karenanya menaikkan namanya sebagai novelis paling produktif. Setelah Negeri Para Bedebah, muncul berturut-turut karya novel lainnya. Tampaknya sudah lebih dari hitungan jari tangan novelnya di-publish.

Membaca judulnya saja sudah menarik. Kata “bedebah” itu yang menjadikannya menarik. Bedebah itu kata lain dari bajingan. Penyebutan dengan kata bedebah, memang agak “sopan” ketimbang jika disebut bajingan, Negeri Para Bajingan. Kata bedebah di negeri para bajingan, itu menjadi menarik.

Tulisan ini tidak sedang membincangkan novel itu, tapi sekadar ingin memakai judul novel itu untuk menggambarkan “bedebah” itu yang menyergap negeri ini dalam pusarannya. Semua menjadi bedebah saling memangsa apa yang bisa dimangsa bahkan dihisap sehisap-hisapnya sampai tidak ada lagi yang bisa menetes.

Negeri Para Bedebah memberi ruang untuk itu semua, untuk melakukan hal sama yang saling memangsa dan menghisap. Begitu kesempatan datang, maka semua lalu menjadi bedebah yang tidak lagi saling mengenal mana pemimpin dan mana yang dipimpin. Rakyat yang dipimpin jadi mangsa untuk dihisap tanpa ampun.

Inilah berita hari-hari ini di negeri para bedebah. Bagaimana Covid-19, yang semua prihatin dan ingin memeranginya. Rakyat dituntut patuh dengan protokol kesehatan, lalu perintah vaksin… tapi lagi-lagi para bedebah yang sebenarnya tidak banyak dalam hitungan jari, tapi (seakan) punya kuasa luar biasa menentukan segalanya. Dan itu tentang PCR yang jadi proyek para bedebah untuk memancing ikan di air keruh.

Ya… hari-hari ini rakyat mesti bergerak menjalankan usaha setelah tiarap sekian lama dengan ketiadapastian, dan itu dengan moda transportasi antar kota dengan jarak tempuh tertentu, tapi harus terbentur PCR dengan harga mencekik. Protes rakyat di negeri para bedebah pun bergemuruh seperti bergelombang, akhirnya “sang pemimpin” berteriak agar harga PCR mesti turun dikisaran Rp 300 ribu.

Mendapat tekanan “sang pemimpin” agar harga PCR turun, para bedebah tidak hilang akal tetap memangsa dan menghisap rakyat di negeri para bedebah. Akal licik-jahat-culas mencari celah dan jalan bagaimana mangsa terus-menerus bisa dihisapnya. Jika yang lalu PCR dicukupkan hanya bagi penumpang pesawat terbang, maka selanjutnya semua perjalanan dengan moda transportasi, kereta api dan bahkan bis pun wajib PCR.

Di negeri para bedebah semuanya bisa dimungkinkan, terkadang dengan akting drama segala. Sang pemimpin tampil seolah bersama rakyat, tapi dari arah “belakang”, ya dari belakang sang pemimpin, tiba-tiba muncul kekuatan dahsyat, tampak bagai pengendali negeri para bedebah. Kekuatan misterius yang tidak tahu siapa itu, tapi gerakan jahatnya terasa. Lalu spekulasi menyebut dan menamakan itu dengan Mr. Oligarki “Si Pengendali”.

Hari-hari ini di negeri para bedebah muncul keresahan dahsyat, memprotes dengan hati sumpek juga kesal. Kereta api perjalanan jarak jauh tadinya cukup dengan antigen yang hanya Rp 45 ribu, tapi kini (akan) harus dengan PCR. Begitu juga perjalanan jarak jauh dengan bis, cukup pernah vaksin, free dengan tetek bengek aturan lain dari negeri para bedebah. Tapi aturan tetek bengek itu akan juga dialami penumpang bis. Hal absurd di mana harga tiket bis tidak lebih mahal dari biaya PCR.

Tidak ada yang aneh dan terasa janggal di negeri para bedebah ini, kecuali peraturan dibuat sewenang-wenang. Jika rakyat protes keras, maka peraturan dibuat landai… tapi tetap akan berakhir dengan tetap mencekik rakyat negeri para bedebah dengan sadisnya. Semuanya ini akan terus dipertahankan, dan itu sampai rakyat paham bahwa ia hidup di negeri para bedebah! (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

Artikel ini telah dibaca 292 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

AFF 2020, dan Kelompok Pelangi yang Mewarnai

8 Desember 2021 - 15:13 WIB

Semeru Mbledos Risma Ngowos

8 Desember 2021 - 05:59 WIB

Jenderal Dudung, dan Tausiah Tak Bersandar

6 Desember 2021 - 11:20 WIB

Aksi 212 Dicegat, Rakyat Nekat | Sak Iki Haul Km 50..!

6 Desember 2021 - 06:31 WIB

Pikiran Positif Anies, dan Kekhawatiran Dahlan Iskan Tuai Kebenaran

5 Desember 2021 - 11:24 WIB

Maksud Baik Risma

4 Desember 2021 - 13:19 WIB

Trending di kempalanalisis