Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 28 Okt 2021 07:59 WIB ·

Soempah Pemoeda 4.0


					Ilustrasi bendera merah putih. (Anggit Rizkianto-Unsplash) Perbesar

Ilustrasi bendera merah putih. (Anggit Rizkianto-Unsplash)

KEMPALAN: Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah pembentukan nasionalisme Indonesia. Ketika para pemuda itu berkumpul dari berbagai wilayah yang sangat berjauhan, 93 tahun silam, tidak bisa dibayangkan beratnya upaya dan perjuangan anak-anak muda itu.

Dan, yang lebih sulit dibayangkan pula, mereka yang rata-rata umurnya masih “likuran” sudah punya pandangan yang sangat dewasa, matang, visioner, sehingga mereka bisa merumuskan sumpah bersejarah itu.

Indonesia belum ada ketika itu. Bahkan, ide-ide mengenai konsep negara bangsa juga masih lamat-amat dipahami. Tapi, anak-anak muda itu digerakkan oleh semangat yang sama untuk mengakhiri penderitaan akibat penjajahan ekonomi dan politik yang berkelanjutan ratusan tahun.

Sumpah Pemuda adalah even bersejarah, bukan cuma di level nasional, tapi di dunia internasional, karena tidak banyak negara di dunia yang punya gerakan pemuda sehebat itu. Bahkan negara-negara Eropa yang mengalami beberapa revolusi pun tidak ada peran pemuda sepenting Indonesia.

Belasan tahun kemudian para pemuda itu jugalah yang menjadi mesin utama gerakan perlawanan melawan pendudukan Jepang yang kemudian meletuskan revolusi yang meluas. Anak-anak muda itu mencium bau darah karena Jepang sudah kehilangan kekuatan setelah Sekutu menjatuhkan bom atom di Nagasaki dan Hiroshima. Mereka pun menculik dan memaksa ‘’orang-orang tua’’ generasi Sukarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Tak pelak, Ben Anderson (1989) dengan penuh takjub menulis buku “Revolusi Pemoeda” yang mengungkap peran anak-anak muda dalam revolusi nasional 1944-1945. Beda dari revolusi di negara mana pun saat itu, bahkan di revolusi komunis Rusia, peran pemuda Indonesia benar-benar sentral.

Mereka menjadi kekuatan militan karena ditempa oleh kekerasan pendudukan kolonial. Para pemuda itu kemudian menjadi kekuatan yang mampu menghancurkan kekuatan pendudukan imperialisme.

Sungguh sebuah capaian yang keren. Pada 1928 anak-anak muda itu sudah bisa merumuskan tiga rumusan yang visioner dan relevan sepanjang masa; Bertanah Air Satu, Bebangsa Satu, Berbahasa Satu…Indonesia.

Mereka dengan tegas menyebut ‘’Indonesia’’. Dari mana mereka punya ide dahsyat itu. Mengapa mereka bersepakat hanya punya satu tanah air? Mengapa para pemuda itu bersumpah hanya punya satu bangsa? Mengapa mereka yakin hanya punya satu bahasa pemersatu?

Pada tahun-tahun itu kolonialisme dan imperialisme Eropa sedang ganas-ganasnya. Kapitalisme Eropa adalah hasil dari revolusi industri, anak dari kemajuan sains dan teknologi Eropa, hasil dari gerakan pencerahan di Eropa, yang kemudian melahirkan teknologi militer yang membawa Eropa menjadi kekuaran kolonial dunia.

Anak-anak muda itu tahu betul bahwa untuk menghadapi keganasan itu tidak ada jalan lain kecuali harus bersatu padu sebagai kekuatan yang utuh. Mereka datang dari latar belakang budaya yang beda. Kulit mereka beda, agama mereka beda, budaya adat istiadat tak ada yang sama.

Itulah hebatnya imajinasi anak-anak muda itu. Dengan merumuskan tiga sumpah itu mereka sama-sama membayangkan bahwa mereka diikat oleh cita-cita yang sama. Mereka sama-sama merasa senasib sepenanggungan, mereka diikat oleh sebuah imajinasi sehingga terbentuklah apa yang oleh Anderson disebut sebagai “imagined community”.

Anak-anak muda bisa dengan akur menemukan rumusan yang sangat visioner. Berbeda sekali dengan para pemimpin yang kemudian pada 1945 bersidang menyiapkan rumusan dasar negara. Perumusan itu ribut dan ribet karena memperdebatkan peran agama dalam pondasi kenegaraan.

Anak-anak muda peserta Sumpah Pemuda itu tahu, kalau saja faktor agama dimasukkan dalam rumusan sumpah pemuda, maka yang terjadi malah ribut, atau sangat mungkin sumpah pemuda tak bakal pernah lahir di dunia. Bayangkan kalau ada yang ngotot minta supaya rumusan ditambah dengan “Beragama satu, agama….”

Pasti banyak di antara mereka yang menjadi aktivis Islam, karena Muhammadiyah sudah lahir 16 tahun sebelumnya, NU lahir dua tahun sebelumnya. Tapi, mereka menempatkan agama pada posisi yang tepat dan terhormat sebagai spirit perjuangan tanpa harus memasukkannya ke dalam rumusan formal.

Titik krusial ketika itu…

Artikel ini telah dibaca 34 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Preman

28 November 2021 - 09:25 WIB

Toilet

27 November 2021 - 09:14 WIB

Sapujagat

26 November 2021 - 09:31 WIB

Presiden Satu Jam

25 November 2021 - 08:42 WIB

‘’Nerror’’ di Istana

24 November 2021 - 09:07 WIB

Lockdown (Lagi)

23 November 2021 - 09:13 WIB

Trending di Kempalpagi