Titik krusial ketika itu adalah semangat merumuskan terbentuknya negara-bangsa (nation-state) yang ketika itu idenya sudah mulai bermunculan di negara kolonial Asia dan Afrika. Maka tiga rumusan sumpah itulah yang kemudian menjadi penyangga utama, pembentukan negara bangsa Indonesia, Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang kemudian menjadi modal utama kemerdekaan 1945.
Kini, 93 tahun berselang. Semangat sumpah pemuda harus terus-menerus direvitalisasi supaya tetap relevan. Ketika Indonesia sekarang tengah terkoyak oleh berbagai isu yang mengancam eksistensi NKRI maka kita bisa berkaca lagi kepada wisdom anak-anak muda itu.
Saat ini, dibutuhkan revitalisasi sumpah pemuda menjadi “Soempah Pemoeda 4.0”. Para pemuda milenial sekarang menghadapi tantangan yang berbeda. Kalau dulu, dunia terbelah antara dunia pertama Eropa dengan dunia ketiga yang menjadi korban opresi, maka sekarang dunia sudah menjadi satu. Dunia sudah menjadi global village, desa buana, yang mempunyai aspirasi yang sama terhadap perdamaian dan kesejahteraan.
Revolusi informasi 4.0 menjadikan dunia terkoneksi menjadi satu. Kalau dulu imagined community hanya sebatas garis nasional maka sekarang anak-anak muda milenial itu mempunyai komunitas bayangan baru yaitu Imagined Community Global. Konsep negara bangsa, nation-state, sudah obsolete, tak cocok lagi menjawab tantangan globalisasi. Yang dibutuhkan sekarang bukan pemikiran sektarian dan parokial. Anda tak mungkin bisa menang sendiri kaya sendiri, dan membiarkan orang lain kalah dan miskin.
Dunia sudah berubah, kita hidup dalam dunia yang terkoneksi satu sama lain. The Rise of Network Society, kata Manuel Castells. Masyarakat jaringan adalah sebuah masyarakat sosial yang struktur dan kegiatan-kegiatannya diatur oleh jaringan informasi yang diproses melalui teknologi informasi.
Masyarakat jaringan telah menggantikan masyarakat tradisional yang didasari bentuk organisasi sosial tradisional yang sudah kedaluwarsa. Masyarakat jaringan memproses dan mengelola informasi dengan menggunakan mikro-elektronik yang berbasis teknologi
Interaksi antara jejaring sosial baru berbasis teknologi dengan institusi sosial lama yang konservatif dan mempertahankan status quo akan melahirkan banyak ketegangan.
Teknologi informasi yang canggih melahirkan jenis eknonomi baru, the new economy, yang sangat berbeda dari ekonomi lama yang berbasis pada produksi dan distribusi manual.
Kemunculan industri crypto-currency, mata uang kripto akan menjadi fenomena baru dunia jaringan. Institusi sosial lama berusaha bertahan dengan cara-cara defensif, misalnya dengan mengeluarkan fatwa haram.
Sumpah pemuda versi 4.0 membutuhkan tafsir ulang supaya relevan dengan fenomena masyarakat berjaringan. Teknologi informasi telah menghasilkan jaringan w.w.w (world wide web) yang menyatukan planet bumi menjadi satu jaringan yang bisa diakses dengan ujung jari. Otoritas sosial tradisional kehilangan kekuasan akibat munculnya jaringan baru ini.
Lembaga-lembaga tradisional lama yang dulu menjadi penguasa dunia–seperti PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) dan organisasi-organisasi di bawahnya—sudah semakin kehilangan otoritasnya. Sebagai ganti kini muncul institusi global baru seperti Google, Facebook, dan Amazon yang bisa mengakses manusia di seluruh penjuru bumi dan menyatukan mereka ke dalam tata ekonomi baru.
Tiga institusi ini menjadi sangat powerful dan mempunyai otoritas yang ditaati karena memberikan kebebasan kepada masyarakat berjaringan untuk saling berinteraksi dan saling mendapatkan keuntungan ekonomi dari interaksi itu. Tidak akan lama lagi mata uang Libra, yang dikeluarkan Facebook, menjadi kurensi yang diakui di seluruh dunia. Bahkan, mata uang Dolar pun akan tergusur oleh kurensi digital ini.
Tafsir ulang terhadap Sumpah Pemuda sangat diperlukan kalau ingin tetap relevan dengan kebangkitan masyarakat berjaringan. Dunia sudah berubah, dunia telah menjadi satu kesatuan dalam masyarakat berjaringan. Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Satu Dunia. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi