Jumat, 17 April 2026, pukul : 06:34 WIB
Surabaya
--°C

Tujuan Bukan Segalanya!

Pada gilirannya, mereka akan meyakini satu-satunya cara agar dia dihargai dan memiliki kewibawaan adalah dengan meraih sesuatu yang dicita-citakan. Adapun masalah cara atau proses menuju kesana tidaklah penting, asalkan sesuatu yang diidamkan dapat diraih, maka cara tak menjadi relevan dipersoalkan dan dipertanyakan.

Fenomena kriminalitas, perilaku menyimpang yang menyeruak di media cetak, elektronik dan media sosial kini, tak bisa dipungkiri adalah karena orangtua mengabaikan penanaman akhlak sejak usia dini.
Bahkan sikap tak perduli pada proses juga menggejala pada kalangan akademisi di lembaga formal, pun pada aktivitas keseharian di sektor nonformal, juga pada Organisasi Kemasyarakatan.

Kebenaran dan kebaikan tak lagi disandarkan pada norma Dien, tetapi pada kenyataan bahwa fakta yang ada telah disepakati dan didukung banyak orang, mendatangkan keuntungan secara materi, akan membuat mulus bagi pengembangan program di masa depan.

Seolah parameter tersebut yang nantinya akan ditanyakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, seolah maslahat dan mafsadat adalah ukuran duniawi dan ditentukan berdasar hitungan angka dan nominal di atas kertas.

Kebaikan adalah jika berkesesuaiannya antara kepentingan dan tujuan, adapun bahwa untuk mencapai tersebut harus menabrak syariat dan aturan negara, bertentangan dengan asas keadilan dan kepatutan, “Ini sebuah realita, bersifat darurat, tak bisa dinafikan, dan demi tujuan yang lebih besar!” Demikian alasan yang ringan dikemukakan, tak perduli bahwa dengan itu semua mereka telah merebut hak orang, mencederai kehormatan sesama dan bahkan berbuat dholim.

Beginilah Ideologi Setan Komunis terlahir, dan bangsa ini punya sejarah kelam paling tidak dua kali, yaitu pada tahun 1948 dan 1965. Demi tujuan, mereka menghalalkan segala cara, mereka membenci Tuhan dan Agama terutama Islam.

Perikehidupan Rasulullah Shallallah Alaihi Wassalam adalah teladan secara paripurna, dalam berkeluarga, sebagai ayah dan suami, bermasyarakat, berdakwah dan memimpin ummat, karena Beliau terpelihara dan dibimbing wahyu, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat An Najm (53) ayat 3 dan 4.

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ

Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya.

إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحَىٰ

Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur (QS. Al Qalam: 4).

Perjuangannya tak pernah sepi dari derita dan kekalahan, namun bersama kesabaran, Beliau meyakini bahwa pertolongan dan kemenangan pasti dan sudah dekat… Nashrun Minnallah Wa Fathun Qoriib, selama kita menjaga Niat dan Istiqomah dalam syariat-Nya.

Wa Allahu A’lam. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.