Peluncuran dan Bedah Buku “Langkah Sunyi Menuju Puncak” di Dyandra Convention Center Surabaya, Kamis (16/4)..
SURABAYA-KEMPALAN: Perjalanan hidup dari titik terendah hingga mencapai puncak karier dipaparkan Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir dalam peluncuran dan bedah buku “Langkah Sunyi Menuju Puncak” di Dyandra Convention Center, Kamis (16/4).
Munir mengisahkan, kesuksesan yang diraihnya tidak lepas dari peran besar sang ibu, almarhumah Hjjah Rumini. Ia menegaskan bahwa doa ibu menjadi kunci utama dalam setiap langkah hidupnya.
“Jujur saya katakan, saya bisa meraih posisi seperti sekarang, pertama karena doa ibu,” ujarnya.
Pria kelahiran Sumenep, 15 Desember 1966 itu mengaku sempat berada di titik sulit saat kuliah di FISIP Universitas Negeri Jember. Pada semester tujuh, ia terancam tidak bisa melanjutkan studi karena keterbatasan biaya.

Akhmad Munir menandatangani buku “Melangkah Sunyi Munuju Puncak” yang memuat tentang biografinya karya jurnalis LKBN Antara Abdul Hakim.
Ucapan ibunya yang menyatakan tidak mampu lagi membiayai kuliah menjadi titik balik dalam hidupnya. Dari situ, Munir mulai mengubah diri—dari yang sebelumnya dikenal sebagai pemain band, menjadi sosok yang tekun menulis demi membiayai kebutuhan hidup dan kuliah. “Di situlah hidup saya berbalik 180 derajat,” katanya.
Sejak saat itu, ia meyakini kekuatan doa ibu sebagai fondasi utama kesuksesannya. Bahkan, ia mengaku mendedikasikan hidupnya untuk memuliakan sang ibu.
Dalam dunia jurnalistik, Munir meniti karier dari bawah sebagai pembantu koresponden di Sumenep dengan penghasilan tidak tetap. Ia kemudian berkembang menjadi koresponden, karyawan tetap, hingga menduduki berbagai posisi strategis, seperti Kepala Biro Antara Surabaya, direktur pemberitaan, direktur utama LKBN Antara, hingga ketua dewan pengawas.
Di organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), ia juga menapaki karier secara bertahap, mulai dari anggota biasa di PWI Jatim, Ketua SIWO dua periode, Ketua PWI Jatim dua periode, hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua Umum PWI Pusat.
“Tidak ada satu pun jabatan yang saya dapat dengan melompat. Semua saya jalani dari bawah,” tegasnya.
Munir juga aktif di berbagai organisasi olahraga seperti PSSI Jawa Timur, Persebaya, dan KONI Jawa Timur, dengan prinsip yang sama: memulai dari posisi dasar hingga dipercaya menduduki jabatan strategis.
Ia menekankan, selain doa orang tua dan ketekunan, penting untuk tidak memiliki ambisi berlebihan terhadap jabatan. Menurutnya, posisi yang diraih justru datang dari kepercayaan, bukan hasil mengejar jabatan. “Semua datang dari dorongan dan kepercayaan dari bawah,” ujarnya.
Melalui buku “Langkah Sunyi Menuju Puncak”, Munir ingin menunjukkan bahwa kesuksesan adalah hasil dari proses panjang yang dijalani dengan konsisten, disertai doa dan dukungan keluarga. “Selama kita menekuni apa yang kita lakukan, jalan itu akan terbuka dengan sendirinya,” tandasnya.
Sementara itu, Suko Widodo memberikan catatan kritis terkait minimnya minat mahasiswa menjadi wartawan. Dari sekitar 150 mahasiswa yang ia ajar di FISIP Unair, hanya sekitar lima orang yang bercita-cita menjadi jurnalis.
Ia menilai buku ini dapat menjadi “oase” dan mendorong generasi muda untuk kembali melirik profesi wartawan, dengan menekankan pentingnya perilaku, budaya membaca, dan keaktifan berorganisasi.
Sedangkan Imawan Mashuri menilai kedekatan Munir dengan ibunya menjadi kunci spiritual dalam perjalanan suksesnya. Ia berharap buku tersebut dapat menjadi inspirasi bagi puluhan ribu anggota PWI di seluruh Indonesia untuk tetap menjunjung nilai-nilai luhur profesi jurnalistik.. (Dwi.Arifin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi