Jumat, 17 April 2026, pukul : 06:39 WIB
Surabaya
--°C

Penyesalan yang Sia-sia

Bu Nyai Mihmidati Ya’cub

KEMPALAN: Hidup ini terlalu singkat untuk di sia-siakan. Kalau bisa sampai berusia 80 tahun, itu artinya sama dengan hanya 2 hari hitungan kehidupan di akhirat. Hidup kita saat ini menentukan kehidupan kita kelak di alam akhirat atau alam barzakh. Karunia umur yang diberikan Allah SWT kepada kita saat ini, seharusnya kita gunakan semaksimal mungkin  mencari bekal untuk kehidupan  yang abadi selanjutnya. Mencari bekal untuk hidup bahagia yang abadi. Jangan mencari kehidupan yang menyusahkan, menyengsarakan, menghinakan, menistakan diri sendiri. Bagaimana bisa bahagia dan tidak ada penyesalan dalam hidup ini?

Dalam Surah Al-Mukminun, dalam rangkaian ayat yang panjang dari 99-107, Allah telah menceritakan sebagaimana firman-nya yang artinya:

“(Demikian keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sungguh itu dalih yang tidak  diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh-barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan. Apabila sangkakala ditiup,maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (hari kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya. Barang siapa berat timbangan-(kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang ringan timbangan-(kebaikan)nya, maka  mereka orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. Wajah mereka dibakar api neraka, dan mereka di neraka dalam keadaan muram dengan bibir yang cacat. Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu, tetapi kamu selalu mendustakannya? Mereka berkata, Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan kami adalah orang-orang yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkan kami darinya (kembalikan kami ke dunia), jika kami masih juga kembali (kepada kekafiran), sungguh, kami adalah orang-orang zalim.”

Di dunia adalah alam ujian, belum ada yang namanya azab. Penderitaan, kebahagiaan,  susah dan senang hanyalah bersifat sementara. Apa yang terjadi di alam barzakh kita juga tidak bisa membuktikannya, tidak bisa ditanyakan kepada siapapun, karena orang yang sudah ke sana sampai sekarang belum ada yang kembali.

Tapi Allah Maha Sayang, sudah memberitahukan ini semua kepada kita,  supaya kita mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, mengantisipasi, serius mengabdi kepada Allah agar tidak ada penyesalan yang sia-sia nantinya.  Kita harus gunakan sisa umur di dunia ini untuk melakukan kebaikan dan amalan sholeh dan menjauhi maksiat serta banyak bertaubat kepada Allah atas dosa di masa lalu. Jangan sampai waktu kita hanya habis untuk mencari dunia, harta, jabatan, dan harta duniawi saja.

Disadari atau tidak, dalam kehidupan sehari-hari manusia seringkali terjebak dalam amalan yang sia-sia (al-laghwu). Perbuatan yang kelak di hari kiamat tidak mendatangkan pahala, bahkan sebaliknya mendatangkan kerugian yang pada akhirnya menyeret pelakunya ke neraka. Karena itulah kita mesti berhati-hati dalam bertindak, melangkah dan bersikap.

Setiap perilaku kita, baik perkataan maupun perbuatan harus selalu disandarkan kepada Allah. Allah harus senantiasa hadir dalam hati kita apapun yang kita lakukan karena segala sesuatu yang di dalamnya tidak terdapat dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, seperti sabda Rasulullah SAW yang artinya, “Segala sesuatu  yang di dalamnya tidak terdapat dzikrullah (mengingat kepada Allah) merupakan perbuatan sia-sia, seperti senda gurau dan permainan. Kecuali empat hal yaitu senda gurau suami-istri, melatih kuda, berlatih memanah dan mengajarkan renang.”

Salah satu cara Allah yang membuat kita menjadi hebat adalah dengan meletakkan penyesalan di posisi paling belakang. Penyesalan adalah perasaan yang sesungguhnya Allah ciptakan dengan maksud tertentu. Barangkali setiap orang merasakan perasaan ini. Ia datang biasanya di akhir saat sesuatu yang tak mengenakkan terjadi. Apapun yang Allah ciptakan pastilah ada maksudnya, bukanlah sesuatu yang sia-sia, entah dalam pandangan kita hal itu positif atau negatif.

Percayalah semua ada hikmahnya. Semua ada keterangannya. Hanya saja kemampuan kita yang tak bisa menembusnya. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Jika kamu tidak bisa menangkap hikmah, bukan karena hikmah itu tidak ada, melainkan karena kelemahan pikiranmu sendiri.” (*)

Transkrip oleh:
Adib Muzammil

 

 

 

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.