Bisnis

Banyak Perusahaan Teknologi Lakukan Listing di Bursa Saham Amerika Serikat, Apa Alasannya?

  • Whatsapp
Ilustrasi bursa saham Amerika Serikat.

NEW YORK-KEMPALAN: Di awal dekade ini, banyak sekali bermunculan perusahaan-perusahaan baru berbasis teknologi dan digital. Hal ini tentu fenomena yang lumrah, karena perkembangan zaman membuka ruang-ruang inovasi bagi munculnya perusahaan-perusahaan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Ada suatu manuver bisnis yang menarik, di mana banyak perusahaan teknologi skala internasional yang melakukan pendaftaran di bursa saham Amerika Serikat. Ketika ditelisik, perusahaan ini mengerucut pada income valusasi dari Initial Public Offering (IPO) dengan nilai yang tinggi.

BACA JUGA

Seperti pada perusahaan Robinhood Markets Inc, yang mana korporasi ini memiliki target valuasi IPO hingga nominal 35 miliar USD. Robinhood Markets membuka sahamnya hingga kisaran maksimal 55 juta saham dengan harga 38 USD sampai 42 USD per saham. Jika taktik IPO mencapai optimalisasi, maka diprediksi dapat mengantongi dana hingga 2,3 miliar USD.

Selanjutnya ada Salesforce.com yang merupakan perusahaan teknologi perangkat lunak. Perusahaan ini akan direpresentasikan oleh Salesforce Ventures sebagai anak perusahaan di sektor investasi. Di mana mereka menjadi salah satu pembeli saham di strata kelas A senilai 150 juta USD dengan harga yang sesuai dengan list nominal dari sistem IPO.

Kembali ke perusahaan Robinhood Markets, juga memiliki skema untuk membagikan beberapa sahamnya di IPO untuk para konsumen. Porsi saham kisaran 20% dan 30% ditawarkan kepada para konsumen tergantung demand dari pelanggan maupun investor terkait.

Melihat maraknya perusahaan teknologi yang listing di bursa saham, Duolingo Inc juga melakukan taktik serupa dengan mengerucut di income valusasi hingga 3 miliar USD. Aplikasi edukasi bahasa ini akan menggunakan dana segar hasil IPO untuk mengoptimalkan sistem aplikasi di tengah kondisi yang serba sulit ini.

Duolingo Inc memiliki sekitar 40 juta pengguna aktif bulanan, yang belajar 40 bahasa, termasuk bahasa Irlandia dan Hawaii, di mana perusahaan mengklaim ada lebih banyak pembelajar online daripada penutur asli. (Rafi Aufa Mawardi)

Berita Terkait