World No Tobacco Day 2021

Hari Tanpa Tembakau Sedunia Usung Tema “Commit to Quit”, Apa Alasannya?

  • Whatsapp
Ilustrasi World No Tobacco Day 2021

JAKARTA-KEMPALAN: Tidak terasa sudah memasuki tanggal 31 Mei, dimana bertepatan dengan Hari Tanpa Tembakau Dunia. Peringatan ini dirayakan setiap tahunnya di tanggal ke-31 di bulan Mei. World No Tobacco Day atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia merupakan satu dari delapan hari kesehatan Internasional yang dicanangkan oleh WHO.

Tujuan dari disemarakkannya Hari Tanpa Tembakau Dunia, yaitu untuk menarik perhatian khalayak umum dan sebagai hari untuk refleksi diri mengenai bahaya tembakau. Dimana diketahui bahwa hari ini juga berkaitan dengan fenomena kematian setiap tahunnya yang disebabkan oleh tembakau dan nikotin.

BACA JUGA

Menutip keterangan resmi dari WHO, Hari Tanpa Tembakau Sedunia hadir sebagai sarana untuk mensosialisasikan kepada masyarakat dunia mengenai bahaya penggunaan tembakau, praktik bisnis perusahaan tembakau.

Disini juga sebagai dedikasi dan komitmen WHO untuk memerangi epidemi tembakau, dan apa yang dapat dilakukan orang di seluruh dunia untuk mengklaim hak mereka atas kesehatan dan hidup sehat serta untuk melindungi generasi masa depan.

Sejak tahun 1987, Hari Tanpa Rokok Sedunia diperingati setiap tahunnya hingga sekarang. Dahulu secara redaksional menyerukan sebagai Hari Tanpa Rokok Sedunia, namun pada tahun 1988 mengalami revisi. Sehingga setiap tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

Tema Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun 2021, mengusung tema Commit to Quit atau dalam bahasa Indonesia dapat dimaknai sebagai Berkomitmen untuk berhenti. Di tengah pandemi Covid-19, perokok dapat lebih parah terkena efek dari tembakau jika dibandingkan dengan orang yang tidak merokok.

Berhenti dari ketergantungan tembakau bisa menjadi tantangan, terutama dengan tekanan sosial dan ekonomi tambahan yang datang sebagai akibat dari pandemi, tetapi ada banyak alasan untuk berhenti.

Di seluruh dunia, sekitar 780 juta orang mengatakan mereka ingin berhenti, tetapi hanya 30% dari mereka yang memiliki akses ke alat yang dapat membantu mereka melakukannya. Bersama dengan para mitranya, WHO akan menyediakan alat dan sumber daya yang dibutuhkan orang untuk membuat upaya yang berhasil. (Rafi Aufa Mawardi)

Berita Terkait