Webinar Palestina-Israel

Membuka Hubungan Diplomatik dengan Israel Dirasa Perlu oleh Narasumber Webinar SMRC

  • Whatsapp
Pemaparan Survei oleh Ade Armando

SURABAYA-KEMPALAN: Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengadakan webinar dengan topik “Sikap Publik Nasional terhadap Konflik Israel dan Palestina” pada Senin (31/5) pukul 13.00 WIB untuk memaparkan hasil survei dan memberikan gambaran tentang solusi strategis yang harus diterapkan Indonesia supaya dapat berkontribusi penuh untuk Palestina

Webinar ini diisi oleh Ade Armando sebagai Direktur Komunikasi SMRC sekaligus memaparkan hasil survei, Akhmad Sahal sebagai salah satu ahli tentang Yahudi, Dinna P. Raharja sebagai Founder dari Synergy Policies, Luthfi Assyaukanie sebagai Dosen Hubungan Internasional Universitas Paramadina, serta Martin Lukito Sinaga sebagai Theolog Agama Kristen.

Webinar dibuka dengan pemaparan survei dari Ade Armando yang mengambil 1201 responden pada 25-28 Mei 2021 melalui sambungan telepon. Survei tersebut memiliki Margin of Eror 2.9 persen dengan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.

Sesi penutup Webinar SMRC

Poin yang menjadi sorotan dalam survei kali ini adalah penyebab konflik antara Palestina dan Israel yang berdasarkan agama, peran Indonesia dalam menangani konflik ini, serta solusi yang tepat untuk mengatasi konflik berkepanjangan antara kedua negara tersebut.

Berdasarkan pemaparan survei, 65 persen setuju bahwa konflik ini berlangsung atas dasar agama. Sementara itu 14 persen tidak setuju dan 22 persen tidak tahu atau tidak menyatakan sikap.

“Sekitar 65 mengatakan bahwa ini sebetulnya konflik antara Yahudi dan Islam,” kata Ade Armando

Untuk tingkat kontribusi, sebanyak 63 persen responden menilai bahwa peran Indonesia sudah besar/sangat besar dalam menangani konflik Palestina-Israel sedangkan 19 persen responden menganggap kecil/sangat kecil dan 18 persen tidak tahu atau tidak menjawab.

Dalam memilih solusi untuk Konflik Palestina-Israel, 35 persen menyatakan bahwa Palestina dan Israel harus sama-sama diakui dan hidup berdampingan sedangkan 41 persen menilai bahwa Israel tidak boleh diakui karena menjajah Palestina. Di sisi lain 24 persen lainnya tidak menjawab dan tidak menyatakan sikap.

Pendapat Ahli

Dinna Prapto Raharja menanggapi tentang survey yang disampaikan oleh Ade Armando. Ia menilai bahwa informasi tentang Palestina dan Israel di Indonesia kebanyakan dapat dari media yang selalu memberikan berita yang pro Palestina

Dinna menyampaikan beberapa pertanyaan sebagai brainstorming seperti “Indonesia mendukung Palestina sejak dulu. Apakah hal ini sudah baik?” dan “Bertahun-tahun kita menyaksikan kelemahan Palestina. Sementara itu, kok Israel justru tampil begitu kuat?”

Dinna menyampaikan bahwa di kawasan Asia Tenggara terdapat 3 negara yang tidak ada hubungan diplomatik dengan Israel yakni Indonesia Brunei dan Malaysia. Namun menurut data ketiga negara tersebut masih berhubungan dagang ekspor dan impor dengan Israel

“Kalau langkah kita saat ini lebih ke kalangan narasi dan bantuan. Langkah kita termasuk dalam Langkah pasif, belum assertif. Sampai kapan kita mau bergantung dengan narasi ini?” tanya Dinna.

Luthfi Assyaukanie sependaapt dengan media Indonesia yang hanya menyoroti tentang salah satu pihak dalam Konflik Palestina-Israel dan bisa dibilang mengglorifikasi. Seharusnya media Indonesia ini menampilkan kedua sisi supaya teredukasi.

“Wajah Palestina diwakili saat ini oleh Hamas,. Tahun 1990, Palestinian Liberation Organization PLO mewakili Palestina dan mencantumkan kelompok plural di sana. Citra Palestina yang religius di sini disebabkan oleh komposisi politik yang religius di sana,” ungkap Luthfi.

Two-state solution sudah tidak realistis lagi bagi kedua pihak. Para intelektual mulai memikirkan opsi-opsi lain yang cenderung one-state solution karena stalemate karena Israel tidak mungkin mundur dari Tepi Barat.

Mengomentari tentang hubungan diplomatic dengan Israel. Luthfi cenderung setuju kalau pemerintah membuka hubungan diplomatik dengan Israel karena timbal baliknya akan kembali ke Indonesia dalam kontribusi terhadap Palestina

Isu Palestina itu isu kaum-kaum modernis karena kaum tradisionalis Indonesia secara umum tidak terlalu menganggap itu isu mereka.

“Membuka jalan damai dengan Israel bukan berarti mendukung tindakan Israel terhadap Palestina. Warga Indonesia harus mengetahui fraksi fraksi di Israel yang mendukung jalan damai,” ujar Luthfi.

Sementara itu, Akhmad Sahal yang mendalami studi tentang Yahudi mengunkapkan bahwa ketika konflik sudah menyangkut tentang agama, problemnya adalah implikasi terhadap sikap mutlak untuk saling mmebinasakan satu sama lain. Sahal menilai bahwa agama ini soal penafsiran yang mampu melanggengkan konflik atau menyudahi konflik.

Di kalangan Islam, sikap anti Yahudi bahkan terlihat tanpa melihat secara langsung. Hal ini juga sering dikaitkan dengan Ayat Qur’an yang menggambarkan Yahudi sebagai culas, ngeyel, dan memusuhi umat Islam

Sahal juga menyampaikan bahwa Piagam Madinah pada zaman Nabi Muhammad SAW itu menggambarakn bahwa kerja sama antara Islam dan Yahudi itu mungkin dan mengatakan bahwa Yahudi itu satu umat dengan Islam.

“Orang Yahudi jangan digeneralisir, ga semuanya baik ga semuanya jahat begitupula dengan Islam dan Kristen,” tegas Sahal

Yang membuat situasi lebih runyam adalah terdapat religionisasi konflik yang serupa di Israel. Di Palestina kita melihat munculnya hamas, di Israel terdapat kelompok ultra ortodoks yang sangat radikal tentang agama bernama Gush Emunim.

Situasi menjadi pelik setelah muncul satu insiden yang menjadi titik balik dari Israel adalah perang enam hari antara Israel melawan Mesir, Yordania, dan Suriah pada tahun 1967. Israel berhasil meluluh lantahkan ketiga negara Arab dalam tiga hari.

Kemungkinan jalan damai dan perundingan adalah menjadi buntu karena implikasi mutlak-mutlakan antara Palestina dan Israel

Sementara itu, Martin Lukito Sinaga, Pendeta yang mendalami Theologi Kristen menyampaikan bahwa 56% yang meyakini two state solution menunjukkan bahwa masih ada kelompok di Indonesia yang meyakini bahwa konflik ini masih bisa diselesaikan

Menurut Martin, kaum-kaum Sekuler dari ketiga agama yang berkumpul membahas isu tanah, politik, dan isu rasa bersalah eropa adalah bentuk titisan dari anak Abraham yang dinilai dapatmenyelesaikan masalah konflik ini dengan mengesampingkan agama terlebih dahulu.

Martin menyampaikan bahwa Dewan Gereja sedunia memiliki kantor di Timur Tengah khusus untuk konflik Israel Palestina yang telah membuat draft yang mencakup Langkah-langkah supaya negara Israel agar dijauhkan dari ketakutan dan negara Palestina dijauhkan dari penindasan.

Ketiga narasumber memiliki pandangan yang sama tentang langkah Indonesia supaya dapat membantu Palestinya yakni dengan membuka hubungan diplomatik dengan Israel sehingga Indonesia bisa ikut mengecam tindakan secara nyata usai menjalin hubungan seperti embargo dan surat peringatan ke duta besar.

Webinar diikuti sebanyak 60 partisipan dan ditutup dengan kesimpulan dari moderator pada pukul 15.15 WIB. (Belva Dzaky Aulia)

Berita Terkait