KOLOM

Bismillah, Presiden Tiga Periode

  • Whatsapp
Ilustrasi wacana presiden tiga periode

KEMPALAN: Bismillah mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Semua pasti sudah tahu soal itu. Tapi, beberapa hari terakhir ini di media sosial lagi trending ‘’Bismillah’’ yang di belakangnya diberi embel-embel ‘’Komisaris BUMN’’, sambil menyebutkan nama BUMN yang diinginkan.

Setiap akan melakukan sesuatu yang baik, seorang muslim diharuskan membaca Bismillah. Kalimat itu merupakan awal dari Surat Alfatihah yang disebut sebagai induk Kitab Alquran. Bahkan, setiap perbuatan yang tidak diawali dengan menyebut Bismillah akan ditolak oleh Allah swt.

BACA JUGA

Di Indonesia kalimat itu bisa berubah fungsi karena sekadar diucap tanpa paham maknanya. Hal semacam ini sering terjadi. Ungkapan ‘’Insyaallah’’, misalnya. Ungkapan ini berarti ‘’Jika Allah menghendaki’’, artinya jika seseorang berjanji, maka dia akan menepati janjinya. Tetapi, sebagai manusia dia tidak kuasa memastikan kecuali atas izin Allah.

Dalam Alquran bahkan diingatkan agar seorang muslim tidak mengatakan secara pasti bahwa dia akan melakukan sesuatu esok hari. Ketika berjanji untuk melakukan sesuatu, seorang muslim harus mengatakan Insyaallah, jika Allah menghendaki.

Tapi, di Indonesia beda lagi. Ungkapan Insyaallah bisa berubah makna. Kalau seseorang diminta hadir di sebuah acara dan menjawab Insyaallah, maka konotasinya dia tidak akan hadir, atau minimal belum pasti hadir. Padahal, yang benar harus sebaliknya, dia pasti akan hadir, kecuali jika Allah tidak menghendaki.

Ungkapan Bismillah menjadi trending topic karena banyak warganet yang kelihatan kesal atas pengangkatan Abdi Negara Nurdin alias Abdee Slank sebagai komisaris perusahaan plat merah PT Telkom. Banyak yang menganggap Abdee tidak layak menjadi komisaris perusahaan sebesar dan sesetrategis PT Telkom.

Menteri BUMN Erick Thohir dianggap bagi-bagi jabatan untuk membayar utang budi kepada pendukung Jokowi. Semua tahu bahwa grup band Slank menjadi pendukung berat Jokowi sejak pilpres 2014 sampai sekarang. Konser Dua Jari yang bisa mengumpulkan puluhan ribu massa pada 2014 merupakan hasil kerja Abdee Slank.

Ilustrasi Erick Thohir bongkar pasang direksi dan komisaris BUMN

Konser itu memang banyak disebut sebagai salah satu ‘’killing punch’’, pukulan mematikan yang memenangkan Jokowi-Jusuf Kalla atas pesaingnya Prabowo-Hatta. Tetapi, meski jasa Abdee cukup penting, ia tetap dianggap tidak pantas mendapat ganjaran sebagai komisaris Telkom, karena Abdee dinilai tidak punya ekspertis yang memadai.

Erick Thohir, tentu saja, membela diri. Ia menyebut Abdee diperlukan di Telkom karena mempunyai kemampuan dalam menciptakan konten-konten lokal. Rekam jejak Abdee juga menunjukkan dia pernah berpengalaman mengelola sejumlah perusahaan. Alasan itu bisa saja dijadikan justifikasi, tapi warganet tetap sulit diyakinkan, dan Erick tetap dianggap salah pilih.

Kasus salah pilih mirip Abdee pernah terjadi dalam skala yang lebih besar. Saat penyusunan Kabinet Indonesia Maju pada periode kedua, Jokowi memilih Wishnutama Kusubadio sebagai menteri pariwisata dan industri kreatif.

Wishnutama dikenal kiprahnya sebagai eksekutif media televisi. Ia kemudian digandeng oleh Erick Thohir untuk menggarap perhelatan Asian Games 2018 yang menampilkan pesta pembukaan dan penutupan yang spektakular. Atas jasa itu Wishnu diganjar jabatan menteri. Tapi, tidak sampai setahun terbukti kapasitas Wishnu tidak mencukupi, dan dia menjadi korban resafel pertama, didepak dari kabinet.

Kemampuan kreatif di industri hiburan ternyata tidak jalan ketika diterapkan untuk memimpin kementerian. Skalanya tidak sama dengan Abdee, tapi ada paralelnya. Kemampuan kreatif Abdee di industri musik tidak serta merta menyambung ketika diterapkan di dunia korporasi.

Karena itu warganet pada protes. Dan protes itu berlangsung cukup lama. Lebih dari seminggu sejak Abdee diangkat, protes masih berlangsung. Malah sekarang menjadi ramai lagi setelah cuitan ‘’Bismillah Komisaris’’ muncul di twitter. Sindiran warganet ini lucu tapi tajam. Ada yang menyebut Bismillah Komisaris sambil mencantumkan BUMN yang diincarnya, misalnya ‘’Bimillah Komisaris PT Antam’’.

Para politisi dan pengamat ramai merespons perkembangan ini. Ada yang mengatakan bahwa cuitan warganet itu adalah tumpahan kekesalan yang muntap karena kejengkelan yang meluap. Meski begitu, kejengkelan itu diluapkan dengan sindiran yang sarkas dan cerdas sehingga sulit dijerat oleh Undang-Undang ITE.

Fadjroel Rachman, timses Jokowi yang sudah menjadi komisaris BUMN

Sudah banyak kejadian pengunggah kritik di medsos yang terjerat UU ITE. Musisi Ahmad Dhani Prasetyo yang mengunggah sebutan ‘’idiot’’ di medsos, akhirnya mendekam di LP Medaeng karena terjerat pasal hate speech, ujaran kebencian.

Sama dengan Abdee, Dhani yang lebih dikenal sebagai Dhani Dewa, juga aktif terjun ke dunia politik dengan aksinya di media sosial maupun di panggung pertunjukan. Bedanya, Abdee berada di pihak Jokowi, dan Dhani dikenal sebagai pendukung berat Prabowo Subianto.

Dhani bahkan pernah bertarung di arena pilkada mewakili Gerindra. Dhani belum beruntung. Tapi istrinya, Mulan Jameela, diangkat menjadi anggota DPR RI dari Partai Gerindra melalui pergantian antar-waktu, 2020.

Para pendukung Jokowi sudah banyak yang kebagian jabatan di berbagai BUMN sebagai komisaris. Tapi, kelihatannya bagi-bagi jabatan masih akan terus berlangsung, karena itu warganet mengunggah cuitan supaya para pendukung Jokowi bersabar karena antrean masih panjang.

Ungkapan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang sangat masyhur pada 1963 menyebutkan ‘’Ask not what your country can give, but ask what you can give for your country’’, jangan tanyakan apa yang bisa diberikan negara kepadamu, tapi tanyakan apa yang bisa kamu berikan kepada negara.

Ungkapan itu sangat idealistis dan sangat patriotis. Sudah hampir 60 tahun ungkapan itu diucapkan, tapi sampai sekarang masih tetap sering dikutip dalam pidato-pidato kepala negara dan politisi di seluruh dunia, karena masih dianggap relevan dengan perkembangan zaman.

Kennedy menekankan ketulusan dan keikhlasan dalam mengabdi kepada negara, tanpa harus meminta imbalan ganjaran atau jabatan. Pada saat Kennedy berkuasa, Amerika tengah menghadapi persaingan Perang Dingin yang keras dengan Uni Soviet.

Timses Jokowi-Ma’ruf, menunggu jatah?

Perang dingin itu nyaris pecah menjadi perang panas saat terjadi insiden Teluk Babi, 1961. Ketika itu Amerika dan Kuba sudah saling menyerang di Teluk Babi. Amerika ingin menyerang Kuba yang merupakan negara komunis satelit Uni Soviet. Tapi, serangan Amerika bisa dipatahkan dan Amerika menarik mundur pasukannya.

Kalau saja insiden Teluk Babi menjadi perang terbuka, maka Amerika akan berhadapan langsung dengan Uni Soviet. Adu senjata mutakhir bisa saja terjadi, dan perang dunia ketiga bisa menjadi kenyataan.

Ketika itu Kennedy mengatakan, ‘’right or wrong my country’’ benar atau salah tetap negaraku. Ungkapan itu ditujukan untuk menegaskan nasionalisme dan patriotisme bangsa Amerika. Sampai sekarang ungkapan itu tetap sering diungkapkan oleh politisi dan kepala negara.

Di Indonesia kubu pendukung Jokowi bisa memakai ungkapan ‘’right or wrong my country’’. Tapi, kubu anti Jokowi bisa meledek para buzzer dengan ungkapan ‘’ask not what your country can give’’, jangan minta jabatan komisaris kepada negaramu.

Mumpung sekarang lagi ramai ‘’Bismillah’’ tidak ada salahnya mereka yang punya ambisi dan target politik membuat unggahan Bismillah dengan versi masing-masing. Yang masih ngarep menjadi komisaris silakan sebutkan BUMN yang diincar.

Para politisi yang masih mengincar kursi kabinet dan berharap ada resafel lagi bisa mencuit ‘’Bismillah, Reshuffle Lagi’’ sambil sebutkan jabatan menteri yang diincar. Mereka yang bercita-cita menjadi anggota DPR, bisa mencuit ‘’Bismillah, DPR RI 2024’’. Atau, kalau sudah tidak sabar dan mengharap PAW (pergantian antar waktu) bisa mencuit ‘’Bismillah, PAW 2021’’.
Para calon jamaah haji yang gagal tahun ini mungkin bisa ramai-ramai membuat unggahan ‘’Bismillah, Haji 2022’’. Atau kalau masih tidak yakin tahun depan akan berangkat, bikin unggahan ‘’Bismillah, Haji 2023’’, atau tahun-tahun sesudahnya.

Para calon presiden yang ingin maju pada pilpres 2024, ada baiknya juga membuat unggahan ‘’Bismillah, Presiden 2024’’. Tidak perlu malu-malu, toh semua orang sudah tahu siapa saja yang sudah kebelet maju pada 2024. Daripada diam-diam tapi mau, lalu menggergaji langkah sesama kader partai, lebih baik terbuka saja kepada rakyat dan segera mencuit ‘’Bismillah, Presiden 2024’’.

Para pendukung Jokowi yang ingin memperpanjang jabatan kepresidenan menjadi tiga periode juga tidak perlu malu-malu. Mulai sekarang silakan mencuit beramai-ramai ‘’Bismillah, Presiden Tiga Periode’’.

Tapi, khusus untuk pendukung tiga periode sebaiknya cuitan ditambah dengan ‘’Insyaallah’’ (*)

Berita Terkait