Selasa, 14 April 2026, pukul : 07:31 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Hera masih menyesuaikan diri di kamar kosnya. Ada 6 kamar di kos-kosan itu dengan 12 penghuni. Ada kamar yang dipakai bertiga. Para penghuni saling berkenalan. Sepertinya mereka dari kelas ekonomi yang rata-rata sama, kalangan bawah. Tetapi eranya emang begitu. Maka mereka sepakat untuk masak bareng agar bisa lebih murah. Mereka iuran setiap minggu Rp 1000. Ada yang bagian belanja dan masak, bergantian.

Bapak ibu kos terkesan galak sikapnya. Apalagi kalau bicara,mereka pakai bahasa Belanda, kesan angkernya makin terasa. Tetapi para anak kosnya merasakan keguyuban di situ. Mereka menikmati tinggal di situ. Anak-anak kos dipanggilnya ‘Den’. Seperti warisan kolonial ketika memanggil para kaum terpelajar dengan den. Begitu juga Yu Semi pembantu di situ memanggil para anak kos dengan Den. Sepertinya Pak raden tidak suka melihat Hera terlalu akrab dengan Yu Semi. Entah ada rahasia apa sehingga bersikap begitu.

Hera masih pusing memikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk menggenapi uang SPP. Kurang Rp 5000 untuk SPPnya. Dia punya akal. Lauk pauk yang dia bawa dari desa dia tawarkan untuk dijual kepada kelompok anak kos itu. Ternyata teman-temannya seuju. Sambel dan keringnya Hera dihargai Rp5000. Hera ikut menikmati makanannya sendiri setelah dibeli oleh kelompoknya. Suatu simbiosis yang saling menguntungkan. Cukup untuk beberapa minggu  dengan tambahan sayur atau karak.  Sejenak permasalahan Hera untuk masalah uang beres.

Balasan surat dari Agung sudah datang. Cukup lama Hera menunggu. Agung mengirim foto-foto kampus dan foto dirinya. Agung terlihat lebih bersih mukanya. Tapi Hera merasakan surat Agung sepertinya mulai kehilangan semangat . Tidak menggebu-gebu lagi. Ini seperti perkiraan Hera, Agung terlalu emosional dan itu sepertinya pertanda buruk. Hera juga akan bercerita tentang kuliahnya di surat berikutnya. Mungkin akan monoton, masing-masing punya dunia yang berbeda. Hera khawatir hubungan ini memang tidak akan berjalan langgeng.

Suatu saat Hera penasaran akan sikap Agung yang sepertinya mulai ogah-ogahan membalas surat Hera. Dia nulis surat ke Jono sepupu Agung di Jakarta . Jono selalu jujur kepada Hera. Hera bertanya pada Jono apa yang terjadi dengan sepupunya. Tidak diduga jawaban Jono yang mengutip kata-kata Agung

Katanya ‘si Merpati yang jinak-jinak itu sekarang terasa banget kalau kutinggal, biar dia merasakan bagaimana diombang-ambingkan perasaannya.’

Hera begitu kagetnya dengan kata-kata Agung itu. Secepatnya dia ingin ke Jakarta menanyakan hal itu kepada Jono. Nyesek rasanya mendengar kata-kata itu , padahal baru beberapa bulan lalu ia mecium tangannya dengan disertai janji-janji manis. Hmm…

Teman-teman kos Hera tahu Hera punya teman kuliah di US. Ini membanggakan Hera.Tetapi juga sepertinya ada teman-temannya yang minat untuk kenalan dengan Agung. Ini tes case yang bagus. Bagi Hera memang berat jika ada saingan tetapi sekaligus menguji apakah Agung akan setia menjalani hubungan jarak jauh. Dia berikan alamat Agung kepada dua temannya, siapa tahu minat.

Hera di kampus ikut aktif di ekstra kurikuler pers kampus, koran  dan theater kampus. Dia sangat menikmati kegiatan dari ketiga unit itu. Dia sering menulis cerpen  atau puisi untuk koran kampus. Kadang dapat honor, kadang sukarela. Tapi tidak banyak honornya, cuma cukup unuk beli sepiring soto dan minum teh manis atau es Blewah. Tapi itu nggak terlalu penting. Bagi dia yang penting hobinya tersalurkan.

Ada senior di unit kegiatan  yang sepertinya memperhatikannya. Pemuda cungkring, tinggi  dan rambut gondrong , pokoknya nyeni, suka senyum-senyum ke Hera.

“Asal dari mana Dik?” tanyanya saat berpapasan di depan ruang pers kampus setelah mereka berkenalan.

Namanya Bagas. Nama yang bagus.

“Dari Jakarta.”

“Mana Jakartanya?”

“Utan kayu..”

“Wow dekat om Pram ya?”

“Dekat banget. Penggemar ya?”

“jelaslah. Siapa penyuka sastra yang nggak suka Pramudya..”

“Di sini kos dimana?”

“Di jalan Singosari.”

“owh..”

Hera berpikir apakah Mas Bagas mau main ke kosnya. Ah terlalu jauh. Itu kan cuma basa-basi.

Mas Bagas suka bersepeda atau naik motor bebek honda 70 ke kampus. Hera suka gaya mas Bagas. Hidup sepertinya enak sekali bagi mas Bagas. Terlihat oleh Hera mas Bagas ini enteng menjalani hidup. Dia melihat dunia benar-benar sekedar tempat mampir nggombe. Hidup baginya bukan dijalani dengan hitungan untung rugi . Dia menikmati hidup, dia lakukan apa-apa yang dia sukai. Hidupnya merdeka. Hera ingin begitu tetapi sejatinya dalam hati dia sangat ambisius. Dia justru ingin seperti Agung. Kadang ia iri lihat cara hidup mas Bagas. Tapi mungkin mas Bagas tidak mengalami beban hidup seperti yang ia rasakan. Ia berjanji akan membahagiakan adik dan ibunya. Bagaimana pun dia harus kerja keras untuk mewujudkan mimpinya.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.