
KEMPALAN: Selepas subuh Hera nerobos pintu gedhek yang menghubungkan ruang dapur rumah simboknya dan ruang dapur simbahnya. Hari ini simbok jadwalnya adang gendar bukan mengiris gendar. Lalu Hera biasanya njerengin di anjang, semacam bambu yang dianyam besar-besar. Tapi ritualnya hari ini adang atau mengukus nasi dan rendaman intip nasi. Adang itu biasanya dimulai siang hari.
Hera mengajak simbok jalan pagi ke kulon desa untuk melihat pemandangan gunung Merapi Merbabu dan sawah yang menghijau dan beberapa bagian padi menguning. Pemandangan khas yang indah bak lukisan ketika sinar matahari mulai memancar dari arah timur. Kulon desa Hera adalah tempat ritual jalan-jalan pagi bagi para pemudik yang merantau. Hera mendengar simbok sedang mengaduk teh anget.
” Mbok ayo olah raga pagi jalan- jalan.”
” Lha simbok ki saben dina sudah olah raga nyepeda ontel sampai pasar Pengging bawa karak segunung di bronjong kok diajak olah raga.”
” Iki beda mbok, kita jalan santai lihat sawah menghirup udara segar, nggak kemrungsung ngejar ke pasar,” sahut Hera.
” Iya ya nduk, nanti siang kan bakal ngirup udara pawon, adang gendar sumuk sumpek, banyak asapnya. Pegane kemutuk. ”
” Lha iya, ayolah jalan sambil ngobrol.”
” Yo wis iki teh angete di sruput dhisik.”
Sejenak Hera menikmati teh anget manis bikinan simboknya. Mereka lalu berangkat jalan-jalan santai menuju kulon desa.
” Eh nduk, simbok iku penasaran,” kata Simbok sambil jalan pelan-pelan.
“Penasaran apa mbok?”
“Iku lho mas Danang. Mas Danang putrane pak camat itu piye? Bocah apik-apik kok terus nggak ada kabarnya.”
” Embuh mbok sekarang dimana, kabare piye, aku juga nggak ngerti.”
” Lha kok bisa ngomong nggak ngerti. Apa nggak pake layang-layangan, ee…surat-suratan maksud simbok?”
” Kan nggak ngerti alamat rumah Jakarta mbok. Aku juga nggak tahu alamatnya.”
“Oalah nduk gek kepiye. Jane simbok itu paling sreg lho sama mas Danang, apikan. Grapyak.”
” Lha cuma mas Danang yang simbok kenal.”
” Lha apa ada yang lain? Lha yang lain mana mau ngobrol sama simbok.”
” Ada mbok yang lagi dekat, teman SMA juga.”
” Siapa? Wong ngendi? Sebaik Mas Danang nggak?”
Mereka sudah sampai di gubuk. Duduk sebentar memandangi gunung di sisi barat.
” Ya baiklah mbok. Masa depannya lebih jelas, lebih cerah, uripku nanti bakal tidak rekasa begini.”
” Walah nduk, rekasa, susah, itu tidak ada. Rekasa atau tidak adanya di hati. Rekasa itu kalau mau ngliwet nggak punya beras.”
Hera terperanjat, mendengar kata-kata simbok itu..
“Kalau soal rekasa, simbok ini kurang rekasa apa, tidak pernah istirahat hanya demi uang receh. Adang gendar njojoh gendar semua kerjaan berat, lalu nyetak gendar, nanti merajang dan njereng, lalu njemur mbolak mbalik karak biar keringnya merata, belum kalau gerimis lari-larian ngangkat anjang dari jemuran yang tinggi. Kamu kan ikut ngalami, ikut simbok susahkah? Kamu senangkah? Apa merasa itu siksaan? Sekarang semua simbok kerjakan sendiri dengan pakmu Rejo setelah kalian pindah ke Jakarta. Tapi hati simbok tetap bahagia. Nggak ada rekasa, susah atau stress.”
” Halah simbok kan gak ada pilihan lain selain bapak ? Hahaha itupun dijodohkan.”
” Lha orang dulu kan begitu.”
” Lha apa menurutmu mas Danang itu masa depannya tidak baik?? ” lanjut simbok ingin tahu.
” Ya saya kurang yakin, wong kuliahnya aja embuh lanjut apa nggak. Kasihan mbok kalau mikirin Mas Danang. Sepertinya saya merasa berdosa gara-gara hubungan dengan saya kok tidak jadi di kuliahkan sama orang tuanya. Sebenarnya yang rugikan anak pak camat dan pak camat sendiri ya mbok.”
” Lha itu nduk, rasa Kasih ditambah an, itu melebihi cinta lho…,” kata simbok.
Waah lagi- lagi Hera tersentak dengan ucapan simboknya. Kadang orang sederhana seperti simbok memang benar. Kata-katanya spontan muncul dari hati yang bersih.
” Oh ya nduk jangan lupa nanti aku dikte surat buat mbakyumu Ninik di jakarta, aku arep ngomong penting.”
” Lha simbok mau ngomong apa, nanti aku sampaikan, kan sama aja tho mbok, suratnya juga aku yang nulis.”
” Ya bedalah nduk, surat bisa dibaca berulang-ulang, kalau omongan gampang lupa. ”
Hera mengiyakan. Benar lagi kata-kata simbok. Pagi itu Hera dapat pelajaran banyak dari simbok. Seandainya simbok, simbah, punya kesempatan sekolah, pasti mereka pinter- pinter seperti ibu kita Kartini, pandai berbahasa Belanda, bisa banyak membaca buku dan menulis apa saja. Bisa jadi guru. Sayang jaman dulu tidak semua orang boleh sekolah. Belanda pasti berhitung, kalau rakyat yang dijajah boleh makan sekolahan, lalu pinter, pasti mereka akan melawan. Soekarno, Hatta adalah contohnya. Meskipun sempat ada politik balas budi tapi tetap terbatas yang bisa sekolah.
Hera tersenyum. Sejak dulu Hera selalu diminta untuk menulis surat kepada mbak Nik. Kadang sebelum simbok mendikte Hera sudah menulis duluan, pembukaan surat selalu isinya harapan untuk mbak Nik dan suaminya, lalu ditengah inti dan maksud yang mau dikemukakan. Lalu penutup surat, Hera juga sudah apal isinya doa-doa bagi kesejahteraan anaknya.
Hera kadang geli sendiri setiap main ke rumah mbak Nik. Dia melihat surat- surat dari simbok berserakan ada dimana- mana surat yang dia tulis, dia beresin. Dalam hati Hera membatin seandainya waktu itu Hera tulis minta kiriman duwit, simbok juga tidak tahu. Nanti simbok dapat kejutan dapat kiriman duwit dari anaknya. Tapi simbok tidak pernah lakukan itu. Itulah kekagumanku dengan simbok juga simbah, mereka nggak pernah minta kiriman uang pada anaknya yang pegawai, yang punya gaji dan bisa makan enak. Tapi mereka hidup nrima apa adanya. Hidup jadi demikian sederhana bagi mereka. Mereka orang-orang tua pinisepuh yang tidak habis-habisnya Hera kagumi.
Hera masih ingat peristiwa beberapa waktu lalu. Ada orang yang menolongnya menyeberangkan sepeda dan bronjong simbok di kali Pengging. Simbok sering ambil jalan pintas nyebrang kali biar tidak terlalu jauh. Nah di situlah ada seseorang yang menolongnya. Llalu simbok diajak ngobrol, kata simbok otang itu ramah sangat menawan, terus simbok ditanya dapat uang berapa. Lalu simbok menghitung uangnya , tiba- tiba saja orang itu memberikan amplop katanya biar duwitnya simbok aman harus dimasukan amplop. Nanti simbok buka amplopnya sampai rumah saja, simbok akan dapat kejutan. Uangnya bertambah banyak. Begitu pesan si orang itu. Simbok manut saja.
Sampai rumah memang simbok terkejut. Simbok menangis meraung-raung seperti orang kesurupan. Uangnya di amplopnya menjadi seonggok daun kering. Simbok kena hipnotis . Saat itu Hera masih SMA. Hera lalu diam-diam nulis surat untuk mbak Nik menceritakan kisah sedih simbok, agar mbak Nik segera mengirim uang untuk modal bikin karak lagi. Mbak Nik segera merespon, mengirim wesel untuk simboknya. Simbok tentu saja kaget melihat ada wesel yag tidak biasa itu.
Jika ingat hal itu Hera berlinang air mata. Untung pulang mudik kali ini ada sedikit titipan mbak Ninik untuk simbok. Simbok nampak sangat bahagia menerima kirimna uang dari anak satu-satunya. Hera berjanji dalam hati, nanti kalau sudah bisa cari uang akan tidak eman-eman ngasih uang untuk simbok. Mungkin simbok tidak mengharap, tapi Hera memang ingin sekali membahagiakan orang yang sudah mengajarinya mengerti makna hidup dengan contoh-contoh yang sederhana.
Selesai jalan-jalan pagi, simbah sudah menyiapkan sayur mayur untuk dimasak. Hera ingin masak jangan gori sayur nangka dicampur daun so. Semua tinggal methik di kebon halaman. Bacem tempe tahu, dadar telor, tidak ketinggalan ikan asin dan sambel terasi.
Simbah mengingatkan ini hari Kamis, simbah sudah pesan bunga di warung depan satu bungkus. Hera diminta memetik bunga- bungaan yang tumbuh di halaman sebagai tambahannya. Ada bunga mondokaki, bunga cempaka, bunga ceplok piring, dan bunga kenanga, tinggal pilih. Hera seneng banget dengan acara ritual nyekar. Di sanalah biasa akan ketemu banyak tetangga. Tradisi ini adalah local wisdom orang mengingat mati sekalian bersilaturahmi dengan tetangga. Tradisi yang patut dijaga.
Juga diingatkan oleh simbah untuk bikin kembang setaman. Hera pikir tradisi itu sudah ditinggalkan sejak Hera pindah Jakarta, karena tidak ada yang disuruh. Ternyata tidak, simbah melakukan sendiri, tapi karena ada Hera, jadi Hera yang harus membuat. Setiap malam jumat Hera menjejer 5 mangkuk plastik ada satu yang dari kuningan, mangkuk- mangkuk itu diisi air lalu dikasih bunga-bunga diatasnya. Tiga mangkuk di bawah tempat tidur atau dipan, yaitu bawah dipan mbah Kakung, bawah dipan mbah Putri, bawah dipan Hera yang sudah tidak dipakai, lalu di tengah senthong njero omah yang wadah kuningan paling besar. Satu mangkuk lagi dekat ndaringan dekat gentong tempat beras.
.
Sore hari itu Hera membawa sapu dan kembang di plastik berangkat ke makam. Eh tak dinyana ada wajah yang Hera akrab. Oh Larso. Larso libur semester juga pulang kampung. Saat itu Larso nyekar bapaknya dan saudara lain yang sudah meninggal. Ini pertemua tidak terduga. Ini mengulang memori lama yang manis. Kali ini tentu ia lebih berani. Rasa percaya diri Larso sudah jauh tumbuh sejak kuliah di Bandung dan mengikuti ospek.
“Kok pas pulang jeng?” sapa Larso.
“Iya kangen simbah, kangen simbok dan kangen….,” Hera tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.
“Kangen siapa…bukan aku kan?” Larso bercanda.
“Kangen suasana desa..kangen ke makam kang,”
“Lalu ketemu aku?”
“Boleh aku main kerumah,biar lebih enak ngobrolnya?”
“Boleh.” kata Hera masih memegangi sapu lidi yang dipakai membersihkan makam.
Malam itu Hera masih memikirkan pertemuan sore tadi. Kenapa sering ada pertemuan dengan Larso yang tidak disangka.
Lalu keesokannya Larso main ke rumah simbah.
“Kapan datang?”
“Baru dua hari.”
“Loh kok sama. Aku baru dari jakarta 3 hari lalu.”
“Aku berencana mau ke Jakarta”
“Tumben?”
“Iya mau bezuk omku yang baru pulang dari Pulau Buru.Dia sakit.”
“Sepertinya ibuku kenal sama om Suyoanto. Iya om Suyanto kan?”
“Iya.Kasihan 15 tahun dipenjara di Pulau Buru. Dia pulang dengan ditangisi penduduk pulau Buru sana. Dia mengenalkan cara menanam padi metode baru. Hasilnya bagus. Produktivitasnya bisa naik dua kali lipat. Penduduk asli Buru tidak biasa menanam padi.”
“Wah hebat ya om Suyanto. Emas memang selalu berkilau.”
“Iya sepertinya Tuhan mengirimnya ke sana untuk jadi penyuluh pertanian. Gara-gara dia Pulau Buru jadi andalan daerah setempat sebagai penghasil beras.”
“Tidak pernah terpikir ya.”
“Iya kalau kondisi normal,mana mau mahasiswa UGM dikirim jauh-jauh ke pulau Buru.”
“Emm..tapi sepertinya badannya tidak terawat.Sekarang baru muncul penyakitnya.”
“Mirip bapakku.Pulang dari penjara,kesehatannya drop. Kurus ,seperti kehilangan daya pikirnya yang dulu tajam, kreatif,penuh humor. Nggak tahu perlakuan apa yang diterima di penjara .”
Iya bapaknya Larso punya dua adik. Satu yang dia ikuti di Jogja,Haryoko, kerja di dinas transmigrasi. Salah satu tokoh partai pemerintah yang sangat takut jika karirnya mandek gara-gara masalah politik. Adik yang lain adalah Suyanto yang ketika mahasiswa ditangkap dan dibuang ke pulau Buru tidak lama setelah peristiwa 1 Oktober 1965. Dia mahasiswa pertanian UGM saat itu.
Bapaknya Larso juga mewanti-wanti agar rahasia adiknya yang di pulau Buru tidak sampai terungkap. Suatu saat omnya dari dinas transmigrasi melakukan kunjungan ke daerah transmigrasi di pulau Buru. Haryoko sudah berpikir keras agar dengan kunjungan ini dia tidak sampai dideteksi bahwa ada hubungan darah dengan Suyanto. Jika sampai ketahuan ada adiknya ada di pulau Buru, karirnya bakal habis.Dia nggak mungkin untuk tidak ikut. Ini kesempatan mendapat SPPD sekaligus melihat dunia baru.
Saat sampai di pulau Buru, terjadilah kunjungan rombongan para pegawai dinas transmigrasi ke lokasi tahanan pulau Buru. Haryoko melihat kehidupan yang kurang manusiawi. Jauh dengan apa yang dia jalani di Jogja. Semua serba ada. Ini adalah hutan yang terpaksa dibuka untuk bisa ditinggali. Fasilitas seadanya. Banyak nyamuk. Haryoko melihat-lihat sekeliling. Dia menangkap sekilas mana wajah adiknya. Sudah sekitar 10 tahun tidak berjumpa. Dia tidak menyapa adiknya. Lebih baik karirnya selamat dengan cara itu.
Suyanto nggak habis pikir dengan sikap kakaknya. Tapi bagi Suyanto lebih baik dia menderita asal kakaknya bisa selamat. Daripada keduanya harus menderita jika sampai ketahuan. Dia sudah cukup terlatih menderita bertahun-tahun. Untung tidak ada yang tahu cerita diantara keduanya.
Suyanto memandangi wajah kakaknya yang bersih, tampak sangat berkecukupan. Dia ingin mendekat lalu merangkul. Tapi itu hanya jadi angan-angan. Kakaknya tidak juga mendekat. Dia juga merasa tidak pantas mendekat ke kakaknya. Dia seorang tahanan, dia seorang tertuduh, wong mambu. Kakaknya pejabat penting di departemen Transmigrasi itu. Sementara Haryoko sekali-sekali mencuri pandang. Suyanto kurus, hitam, tampak tua. Sakit hati Haryoko…sebagai kakak dia sangat sakit. Tapi ini persoalan besar, bukan soal kemanusiaan. Tapi soal masa depan.
Sampai kunjungan itu selesai, mereka seperti dua orang asing.
Larso datang justru bercerita persoalan yang membuat Hera makin sedih. Begitu banyak cerita kemanusiaan yang menyayat di balik cerita politik.
“Gimana kuliahmu?”
“Ya aku sibuk praktikum. Itu yang menguras waktu dan tenaga. Njenengan gimana jeng?”
“Oh aku baik-baik kok.Mungkin akan tes lagi. Mau pindah program s1.”
“Wah bagus. Aku setuju. Kemampuanmu memadai untuk kuliah S1.”
“Doakan saja bisa lulus kang.”
“Oh pasti..”
Larso lalu pamit pulang setelah cukup lama melepas rindu dengan Hera. Larso yang dulu gembleleng sekarang jadi santun dan tenang. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi