Saat ini kondisi (ekonomi) Indonesia relatif berbeda. Cadangan devisa lebih kuat, pengawasan perbankan lebih ketat, dan sistem ekonomi lebih siap menghadapi gejolak global, meskipun risiko tekanan ekonomi tetap harus diwaspadai.
Oleh: Ir. Gunawan Adji, PhD
KEMPALAN: Apa yang terjadi jika 1 USD = Rp. 20.000?
Banyak masyarakat mengira Rupiah merupakan mata uang dengan nilai tukar terendah di ASEAN terhadap Dollar AS. Faktanya, posisi itu ditempati oleh Dong Vietnam (VND).
Saat ini, 1 USD berada di kisaran 26.000 Dong Vietnam, sedangkan Rupiah sekitar Rp 17.500 per USD.
Menariknya, Dong Vietnam dan Rupiah memiliki pola yang hampir sama, yakni sama-sama mengalami pelemahan bertahap terhadap USD dari tahun ke tahun. Namun pertanyaannya, apakah pelemahan mata uang otomatis berarti ekonomi suatu negara sedang terpuruk?
Kasus Vietnam menunjukkan jawabannya tidak sesederhana itu. Dalam dua dekade terakhir, Vietnam justru tumbuh menjadi salah satu pusat manufaktur baru di Asia. Berbagai perusahaan global seperti Samsung dan Intel menjadikan Vietnam basis produksi ekspor mereka.
Vietnam secara sadar menjaga mata uangnya tetap kompetitif untuk mendorong ekspor dan industrialisasi. Dong yang relatif murah membuat biaya produksi menjadi rendah sehingga produk Vietnam mampu bersaing di pasar global.
Pelajaran pentingnya adalah bahwa nilai tukar bukan satu-satunya ukuran kekuatan ekonomi. Mata uang yang lemah belum tentu menandakan ekonomi lemah, selama negara tersebut memiliki industri produktif, ekspor kuat, dan investasi yang terus tumbuh.
Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia memiliki tantangan yang berbeda. Struktur ekonomi nasional masih banyak ditopang konsumsi domestik dan komoditas. Ketika harga komoditas turun atau arus dolar keluar, Rupiah menjadi rentan tertekan.
Karena itu, agenda utama Indonesia bukan sekadar memperkuat kurs Rupiah, melainkan memperkuat fondasi industrinya. Hilirisasi, penguatan manufaktur, efisiensi logistik, dan peningkatan produktivitas jauh lebih menentukan masa depan ekonomi dibanding sekadar stabilitas kurs jangka pendek.
Pertanyaan berikutnya, bagaimana jika suatu hari nilai tukar mencapai Rp 20.000 per USD? Dampaknya tentu tidak sederhana.
Barang impor akan menjadi lebih mahal, biaya energi dan bahan baku meningkat, inflasi berpotensi naik, dan daya beli masyarakat bisa tertekan. Dunia usaha yang memiliki utang dolar juga akan menghadapi tekanan lebih besar.
Tapi di sisi lain, pelemahan Rupiah juga bisamemberi keuntungan bagi eksportir dan sektor industri yang berorientasi ekspor apabila fondasi produksinya kuat.
Kemudian, apakah kondisi itu otomatis akan memicu krisis seperti tahun 1998? Belum tentu. Krisis 1998 bukan hanya soal Rupiah melemah, tetapi juga karena kombinasi utang luar negeri swasta yang besar, lemahnya sistem perbankan, krisis kepercayaan, dan situasi politik yang tidak stabil.
Saat ini kondisi (ekonomi) Indonesia relatif berbeda. Cadangan devisa lebih kuat, pengawasan perbankan lebih ketat, dan sistem ekonomi lebih siap menghadapi gejolak global, meskipun risiko tekanan ekonomi tetap harus diwaspadai.
Pada akhirnya, negara yang kuat bukan hanya negara dengan mata uang kuat, tetapi negara yang mampu memproduksi, mengekspor, dan menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan.
*) Ir. Gunawan Adji, PhD, Peneliti/Rektor UNSURI 2016-2020

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi