Cerbung Prof Budi Santosa PhD & Dra Hersis Gitalaras (Seri 42)

Sebuah Pertaruhan

  • Whatsapp

KEMPALAN: Hera tidak sempat ketemu Larso lagi,  karena pagi-pagi sudah siap-siap kembali ke Semarang.Dia tidak ingin ketinggalan kuliah. Paling Larso akan melanjutkan ceritanya melalui surat. Seperti juga Agung, Larso suka menulis dan suka bercerita. Sejak dia SMA nderek pakliknya di Jogya,  Larso rajin menulis surat untuk Hera, bercerita apa saja, walaupun Hera tidak dibolehkan membalasnya. Hera yang hobi membaca dan juga menulis tentu senang. Bagi Hera berkomunikasi melalui surat lebih bebas tanpa ada tekanan enak atau tidak enak. Hubungan emosional antara Hera dengan Larso sebenarnya lebih lama dan lebih duluan tumbuh, daripada dengan Agung atau Danang. Hanya saja Larso bersikap hati-hati dan tidak ingin buru-buru mengungkapkan perasaannya. Larso ingin berkonsentrasi pada sekolahnya, ingin mewujudkan cita-citanya. Larso sangat hormat kepada paklik dan kepada kakak tertuanya yang telah membiayai sekolahnya.

Hera kembali ke Semarang berkonsentrasi pada kuliahnya dan ingin cepat lulus, walaupun KKN belum dijalani. Larso semakin rajin menulis surat dan Hera juga selalu membalasnya. Larso telah menyampaikan perasaannya dan keinginannya ke sebuah hubungan yang serius kepada Hera. Mungkin karena Larso sudah merasa saatnya dan Hera adalah pilihan hatinya. Dalam surat balasannya Hera menjawab datar,  tidak kaget atau gembira, justru Hera meminta Larso pikir-pikir dulu jangan mengikuti emosinya. Hera bukan tidak senang dengan ungkapan perasaan Larso yang demikian tulus, tapi ia traumatik atas dua peristiwa yang telah melukai hatinya, sehingga membuat Hera tidak antusias lagi menerima ungkapan cinta dari seorang laki-laki.

BACA JUGA

Hera  secara terselubung sering berdiskusi dengan teman- teman kampus yang netral dan diam-diam mengadakan survei kecil-kecilan untuk dirinya sendiri. Secara tidak serius Hera bertanya, cita-cita mereka teman-teman Hera,  setelah lulus dari kuliah ingin kerja dimana atau ingin  jadi apa. Rata-rata jawaban mereka ingin bekerja di BUMN atau menjadi PNS, ada yang ingin daftar Wamil setelah lulus, sehingga lebih mudah jenjang kariernya langsung bekerja di lingkungan ABRI. Hera pernah juga bertanya kepada teman laki-laki di kampus yang dari rantau,  luar jawa, adakah pesan-pesan dari orang tuanya saat dia akan merantau? Hera mendapat jawaban mengagetkan seperti ini : jika kelak kamu punya pacar untuk dijadikan istri hal yang penting yang harus diketahui adalah dia anak siapa keturunan PKI atau bukan, dan anak gundik atau bukan. Waduuuh Hera kaget dan sangat tersinggung, tapi tidak diperlihatkan. Kenyataan yang takpernah terpikirkan sebelumnya bahwa syarat bukan PKI menyebar di seantero nusantara.

Dari jawaban-jawaban hasil survei iseng itu menunjukan bahwa generasi dimasanya masih sangat alergi, dan takut- takut dengan segala sesuatu yang berbau partai mambu itu. Mereka cenderung meyakini apa yang dipropagandakan Orde baru itu benar, dan tidak mancari kebenaran dari sumber lain dengan akal sehatnya. Memang sepertinya manusia lebih suka ercaya pada kebohongan yang terus meneus disampaikan daripada memanfaatkan anugerah termewah berupa akal dari Tuhan.

Hera pernah juga bertanya kepada Larso. Saat pertama kali ke rumahnya di Jakarta, tentang cita-citanya, jawabnya  ingin menjadi PNS, kerja di kantor Pemerintah. Sehingga ada yang mengganjal di hati Hera. Hera beberapa kali janjian denga Larso jika mudik. Dan, Larso selalu menyempatkan main ke rumah Hera. Simbah merasa senang dengan kehadiran Larso tapi Hera dilanda kegelisahan karena perasaan Hera menduga pasti akan terjadi sesuatu. Indikasinya sudah nampak jika Larso main ke rumah Hera selalu ada saja yang menyusul ke rumah Simbah Mangun. Dengan alasan motornya mau dipakai atau alasan lain. Hal ini tidak hanya sekali. Batin Hera mengatakan ada keluarga Larso yang tidak setuju dan akan melarang hubungan Larso dengan Hera.

Suatu hari pernah Larso menanyakan secara langsung tentang keseriusannya kepada Hera

“Jeng, aku ki serius tenan lho tentang hubungan kita ini, wong umur kita wis cukup,  kok sliramu tanggapannya seperti adem aja, apakah tidak mau atau gimana?” tanya Larso hati-hati.

“Bukan begitu kang, aku bukannya tidak mau atau menolak…tapi justru aku heran kok penjenengan ki berani-beraninya mengemukakan keseriusan kepadaku “,  jawab Hera diluar dugaan Larso.

“Lha kenapa tidak berani,  lha wong ini kata hatiku yang terdalam, memangnya salah saya bilang ingin serius ???” Larso jadi merasa ada yang aneh.

“Tidak salah kang, tapi siap-siap aja kita berdua kecewa”, kata Hera to the point.

“Kalau kang Larso tidak percaya ya buktikan saja”, lanjut  Hera. Mata batin Hera melihat karakter Larso yang taat aturan, santun, pasti tidak ada keberanian melawan jika para tetuanya sudah bertitah. Diluar dugaan Hera, ternyata Larso terlalu yakin bahwa cintanya kepada Hera akan mulus, ataukah dia tidak peka ?? Sedangkan Hera yang berada di sisi luar sudah merasakan, walaupun belum tentu juga benar.

“Buktikan bagaimana jeng, caranya?” Larso masih penasaran.

“Ya tanyakan kepada keluarga besar kang Larso saja, nanti akan tahu jawabnya”,  kata Hera.

“Mungkin malah sebelum sampai kang Larso tanya, sudah didahului instruksi”, lanjut Hera  sedikit muring.

“Aku nggak ngerti maksudmu jeng, bingung”, kata Larso memang tidak paham.

“Ya sudah biar berjalan alami saja kalau begitu, sampai kita tahu sendiri endingnya bagaimana”.

“Endingnya kan tergantung kita tho jeng? Wong kita yang mau melakoni, kita sudah sama-sama dewasa”, Larso agak gusar.

” Ya kita lihat saja nanti, benarkah seperti harapanmu itu. Perkawinan bukan  semata urusan kita, tetapi keluarga besar “,  jawab Hera apatis.

Larso mengkerut dahinya tidak paham dengan apa yang sudah disampaikan oleh Hera. Sehingga Hera menjadi makin gusar mengapa Larso yang cerdas itu tidak paham dengan maksudnya. Hera memang mengatakan secara implisit saja, tidak mungkin dengan bahasa yang fulgar, rasanya akan nyesek kalau mengatakan apa adanya. Aib turunan itu tidak layak dikemukakan, tetapi cukup dinyatakan secara implisit. Sayang lawan bicaranya tidak mudeng.  Kekesalannya Hera menjadi menumpuk.

Hera kembali serius pada kuliahnya, semester depan harus sudah bisa ambil Kuliah Kerja Nyata ( KKN) . Kegiatan kampus agak ia kurangi. Hal ini karena Mas Bagas juga sudah lulus kuliahnya, sudah menyandang gelar Ir. Dan, tentu ia sudah tidak  aktif lagi di pers kampus.  Hera juga menjadi tidak bersemangat.

Suatu siang Siti pembantu di rumah kos mengentuk pintu  panggil- panggil.

“Mbak Hera …wonten tamu”

“Siapa tamunya mbak Siti ..??” jawab Hera dari dalam kamar.

“Saya nggak kenal, bukan yang biasa nya mbak Hera”,  jawab Siti.

“Berapa orang mbak Siti?” Hera hari itu sepertinya malas mau menemui tamu.

“Ada dua orang mbak Hera”, jawab Siti lagi.

“Ya sudah suruh duduk aja di ruang tamu ya mbak Siti. Jangan disuruh masuk ke belakang kalau bukan tamu yang biasa”,  Hera memberi penjelasan ke Siti.

“Nggih mbak” , jawab Siti dari balik pintu.

Hati Hera bertanya-tanya dan deg-degan siapakah gerangan tamu itu. Hera menyisir rambut lalu mengikatnya dengan langkah gontai dia membuka pintu. Dia melihat sosok yang duduk di ruang tamu. Jantung Hera hampir copot dari tempatnya karena detaknya yang terlalu kencang. Hatinya makin nggak karuan. Ia mau teriak, nggak menyangka.

Hera melihat sosok ganteng yang sangat dikenalnya, Danang! Oh bagaimana Danang bisa datang ke kota ini. Tapi memang duu dia yan nantang ke adiknya , kalau Danang memang serius pasti akan datang ke Semarang. Kini saatnya tiba. Mengapa Danang datang saat dia mendapat ajakan untuk menjalin hubungan serius dengan Larso.  Dan satu lagi temannya juga dia kenal, Waluyo teman SMP dan SMAnya. Kedua tamu itu satu SMA, Waluyo rumahnya sedesa  dengan Danang. Kuliah di UNIKA Sugiyo Pranoto Semarang. Tak sengaja pernah bertemu dengan Hera di Perempatan Bangkong. Waluyo sempat bercerita kalau tidak sengaja bertemu Esti saat mau naik angkot. Hera kaget benarkah Esti, teman sebangkunya saat SMA, berada di Semarang?? Kata Waluyo benar Esti berada di Semarang dan bekerja sebagai pegawai honorer di Kantor BPN. Hera belum sempat menemuinya. Kebetulan ini Waluyo datang pasti Hera akan tanyakan secara detail. Hera menata hati dan pikiran dan menenangkan jantungnya. Kalo tidak malu dengan Waluyo, mungkin Hera akan memeluk sosok yang berada disamping Waluyo itu. Sosok yang tidak pernah pergi dari alam bawah sadarnya Hera.

Hera kembali ke kamar mengambil segelas air putih  dan meminumnya.

“Her ada apa kok tegang dan seperti orang bingung gitu?”  sapa Nunik

“Nggak apa-apa aku mau menenangkan hatiku sebentar”, jawab Hera.

“Memang tamunya siapa?” Nunik ikut penasaran.

“Mas Danang”, kata Hera pelan, setengah berbisik.

“Hahhh yang benar sudah pulang dari kabur?” sahut Nunik.

“Sstt.. aja banter-banter”,  Hera meletakkan jari telunjuk di bibirnya.

“Ya sudah sana ditemui “,  kata Nunik pelan.

Hera kembali keluar kamar berjalan pelan menuju ruang tamu. Hatinya ditenang-tenangkan.

“Halloww….nggak salah nih mas Danang sampai kesini? Woow  seperti mimpi rasanya”, Hera terperanjat sambil ngucek- ngucek matanya. Adegan yang sudah dipersiapkan untuk mengusir kegrogian. Danang nampak sumringah menyaksikan Hera yang kini nampak lebih segar.

“Dan ini Joko Waluyo apa kabar, beberapa waktu lalu kita ketemu tapi situasinya buru-buru cuma sempat bertukar alamat saja ya” , Hera menyapa Waluyo.

“Apa kabarmu dik? ” sapa Mas Danang kaku dan nampak bingung. Mungkin dia merasa tidak enak atau merasa berdosa telah menyampaikan keputusan yang dibuat orang tuanya dan terpaksa dia sampaikan kepada Hera, dua setengah tahun yang lalu.

“Baik-baik saja mas, kabarmu bagaimana dan kemana saja selama ini?”  tanya Hera asal saja,  tidak mengandung maksud apa-apa.

“Saya pergi ke Sumatera, ikut bude bantu-bantu dagang”, jawab Danang, walaupun Hera sudah tahu dan Danang terbukti tidak mengarang cerita.

“Oh ya sudah punya lapak sendiri harusnya ya hehehe, dua setengah tahun kan lama? ” canda Hera. Hera yakin Tipe Danang tidak akan berpikir menjalankan binis sendiri. Terbiasa diatur-atur sama orang tanya, tidak akan menumbuhkan jiwa wirausaha.

“Saya cuma bantu-bantu saja kok dik,  ini disuruh pulang bapak, diminta menemui kerabat di Semarang. Beliau ingin menjembatani masuk kerja di BUMN, pakai jalur prestasi olah raga”, Danang menerangkan.

“Iya mas Danang,  lalu minta saya mengantarnya” , Waluyo ikut memberikan penjelasan.

“Oh gitu tho…lha pertemuan itu sudah berlangsung apa belum?”

“Sudah tadi pagi sampai siang, pulangnya cari-cari alamat sini” kembali Waluyo menerangkan.

“Ooh Alhamdulillah ikut senang semoga usahanya berhasil, jaman sekarang mencari pekerjaan harus begitu ya perlu koneksi orang kuat” , komentar Hera sekenanya. Padahal dia sendiri paling tidak suka nyari kerja dengan koneksi-koneksian jika itu melanggara aturan.

“Iya dik apalagi cuma pakai ijzah SMA”, jawab Danang merendah. Dalam hati Hera berkata ‘salah sendiri kenapa nggak kuliah, kenapa mau disuruh tidak kuliah. Kenapa tidak berjuang sendiri untuk bisa kuliah.’

“Oh ya Wal, benar nggak infomu bahwa Esti kerja disini, di Semarang? Apa kamu tidak salah lihat??” tanya Hera serius.

“Betul mbak Hera, kalau tidak salah kosnya di Jln. Karang Sari II..Sejalan dengan kosanku cuma saya di ujung di sebelah kiri, kalau Esti begitu masuk gang posisi kosnya ada di sebelah kanan ”  ,Waluyo menerangkan secara detail.

“Kalau begitu nanti kita kesana yuk, kita buktikan benarkah Esti disana”, usul Hera.

“Setuju ..kita tunggu dia pulang dari kerja” jawab Waluyo.

“Bagaimana mas Danang setuju gak? ” tanya Hera.

“Saya manut saja dik, kasihan Esti akhirnya putus tidak jadi dengan mas Budi yang sudah senior itu,  padahal dulu Esti sudah pernah dibawa kabur entah kemana “, Danang bercerita tentang kisah Esti, yang semuanya sudah diketahui oleh Hera. Hera dapat cerita dari Agung. Tapi Hera diam saja. Danang tentu tidak tahu kalau Esti kabur ke rumah Hera di Jakarta.

“Oh ya tega sekali ya mas Budi memutus Esti, saya tahu siapa saja yang suka dengan Esti. Semua cowok baik-baik, tapi Esti tetap memilih mas Budi. Eeh endingnya kok begitu”, Hera berkomentar seperti mengeluhkan dirinya.

“Iya, masalahnya apa sudah runtang-runtung kok putus, sekarang mas Budi sudah menikah dengan bu guru putranya yang jual sate di Polan”, Danang menerangkan.

“Oh berarti menikah dengan mbakyunya temanku SMP “, Hera menebak  pada sesuatu yang sudah pasti.

Mereka berbincang sampai sore dan merencanakan pergi ke kosnya Esti, meyakinkan keberadaan Esti.

Danang lalu bertanya,

“Dik, besok kan hari Sabtu apakah nggak pengin mudik ke desa ketemu simbah?”

Pertanyaan Danang membuat hati Hera seperti diketuk.

“Ya pengin sih, sudah sebulan nggak pulang, pasti simbah ngarep-arep”, Hera menjawab  seperti untuk dirinya juga.

“Ya sudah kita sama-sama pulang besok, malam ini saya nginep di kosnya Joko Waluyo”, Danang menyampaikan rencananya.

Hera diam saja.

“Ya nanti aku pikirkan.”

Besoknya Danang datang ke tempat Hera. Hera akhirnya pulang dengan Danang. Sepanjang jalan Hera lebih banyak diam. Sejatinya dia senang Danang datang. Masih seperti dulu, Danang penuh perhatian. Seperti kakak yang sellau melindunginya. Tapi, Hera sedang berpikir soal Larso. Iya ajakan Larso sangat serius. Hera tahu Larso sangat hati-hati ketika dia bicara, tidak emosional atau hanya  keinginan sesaat saja. Turun dari bis mereka berdua naik motor dari Delanggu ke rumah. Saat berangkat ke Semarang Danang menitipkan motornya di penitipan motor seberang stanplat bis Delanggu.

Sampai di depan rumah simbah melihat sosok Danang. Simbah merasakan kelegaan luar biasa.

“Mas danang apa kabar?”

Danang yang dia ingat sangat sopan, ramah dengannya dan mampu membuatnya senang. Danang segara mencium tangan mbah Mangun. Tidak lama Danang berpamitan. Danang melihat sikap Hera yang lebih banyak diam. Tapi Danang tidak marah. Dia memahami perasaan Hera. Danang masih ingat bagaimana mereka dulu pisah. Jadi maklum jika Hera bersikap aga dingin kali ini.

Tapi mbah Mangun bingung juga karena beberapa waktu lalu sempat melihat Larso main ke rumah.

“Nduk jane kamu itu milih Danang atau Larso?”

“Mbuh mbah. Mas Danang baru datang muncul Dia juga belum kerja. Kuliah juga nggak. Apa yang bisa diharapkan.”

“Lha Larso?”

“Itu juga sama mbak. Belum tentu keluarganya setuju.”

Mbah Mangun tahu arah pembicaraan cucunya. Mbah Mangun jadi sedih mengingat nasib anak-anak wong mambu.

Ternyata kehadiran Danang sebentar ke rumah Mbah Mangun tercium Jimo Belong. Jimo segera melapor ke Pak Camat.

“Awas hati-hati Pak, mas Danang mulai mendekati Hera lagi.”

“Wah bahaya ini. Kok ya tetap saja. Apa nggak ada wanita lain. Sudah ke Sumatera  dua tahun lebih, kok ya balik lagi ke desa tetangga.”

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Berita Terkait