Rabu, 29 April 2026, pukul : 03:04 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Hera bercerita kepada simbah kakung tentang keputusannya memilih sekolah di UNDIP dan akibatnya, baik untuk nasibnya di IKIP Jakarta maupun biaya di kampus baru. Simbah mendengarkan dengan seksama. Dengan berat hati Hera menyampaikan permintaan bantuan dana dari simbahnya untuk membantu kekurangan uang kost, juga untuk kebutuhan hidup, setidaknya sebulan saja.

Simbahnya tidak keberatan walau  hanya punya uang sedikit. Bagi simbah, Hera  kembali bersekolah di Jawa,  dan bisa sering-sering tengok simbahnya adalah kebahagiaan terbesar, mengalahkan hal-hal lain. Kehadiran Hera akan mengusir rasa kesepiannya, karena sudah tidak ada satupun cucu yang ikut simbah. Demikian juga simboknya. Sudah tidak sekuat dulu, tidak bikin karak banyak- banyak, simbok  hanya bikin karak berdasarkan pesanan saja.

Mbah Kakung membuka kupluk hitam yang dipakainya dan meletakkan diatas meja bundar di depan Kursi Sedan yang didudukinya. Hera walaupun sebenarnya tahu, kalau mbah  Kakung sering menyimpan uang di sela-sela tepian kupluknya,  tapi Hera pura-pura kaget.

” Lho Mbah Kakung kok melepas kupluk, ada apa mbah?”

” Iki lho nduk, nang selipan kupluk iki ono duwite,” kata mbah Kakung sambil menarik uang kertas dari sela-sela kupluknya.

” Horee simbah sugih,” sambut Hera kegirangan.

” Caba dihitung ada berapa,” kata simbah.

Lalu Hera menghitung, ada beberapa lembar uang Rp 5 ribuan, ada Rp 10 ribuan.

” Wah lumayan mbah akeh iki, total ada 70.000,” pekik Hera.

” Lumayan nduk,  bisa buat bayar kostmu 3 bulan dan bisa buat makan,” kata simbah. Uang itu adalah tabungan mbah Kakung selama setahun. Biasanya ada kerabat yang ujung atau sungkem  pada saat lebaran memberi pitrah. Ujung adalah istilah Jawa, ketika orang berkunjung kepada orang yang lebih tua atau dituakan untuk bersilaturohmi maaf-maafan saat Hari Raya Idul Fitri.  Uang dari Kupluk Mbah Kakungnya,  lebih dari cukup untuk membayar kekurangan kost  Rp 40.000,  masih sisa Rp 30.000 untuk makan sebulan, masih sisa.

Lalu untuk  uang SPP semesteran  uang darimana? Pikir Hera. Uang semesterannya sebesar Rp 50.000. Sisa Rp 30.000 masih kurang Rp 20.000. Satu-satunya cara, Hera akan bernego dengan bapak kost untuk membayar sebulan dulu.  Hera akan bikin alasan yang masuk akal.  Hera sangat bersyukur memiliki simbah yang gemati, baik dan sayang kepada semua cucu-cucunya. Kebetulan Hera yang paling dekat lama tinggal bersama simbah, jadi wajar jika mendapat perhatian lebih.

Supaya ngirit, Hera lalu memasak lauk yang tahan lama untuk dibawa ke Semarang. Hera membuat kering tempe dicampur teri, dan membuat dua jenis sambal, sambal pecel dan sambal terasi. Hera juga akan membawa karak dari simboknya. Makan nasi dengan lauk sambal dan karak bagi Hera nikmatnya luar biasa.Meski dari sisi gizi nggak memenuhi syarat, saat itu yang penting perut tidak lapar.

Sebelum kembali ke Semarang, Hera nyekar mbah Tuwo dan simbah- simbah lain keluarga dari mbah Kakung dan mbah putri. Tapi yang utama adalah nyekar “mbah eyang”  orang desa menyebutnya ” Mbah Yang”.   Ada dua kuburan di dalam Cungkup di pesarean desa itu.  Cungkup adalah bangunan rumah seperti Gardu di dalam kompleks pesarean.  Ada kuburan yang di keramatkan oleh warga desa setempat. Di bawah cungkup itu  dua makam suami istri,  orang desa mempercayai ” mbah Yang ” sebagai cikal bakal desa itu. Orang yag dulu babat alas membuka desa itu atau orang yang pertama kali tinggal di desa itu. Cungkup itu berornamen ular Naga yang ekornya saling melilit. Warga desa tidak ada yang tahu siapa sebenarnya ” mbah Yang” itu, dan siapa keluarganya atau kerabatanya yang msih hidup. Warga desa setiap nyekar  ke sarean tidak lupa menyempatkan nyekar dan berdoa di cungkup itu. Hera bahkan kalau nyekar mendahulukan  bersih-bersih cungkup dan  menabur bunga dan berdoa, baru nyekar ke makam keluarga.

Ada perasaan tidak enak di hati jika nyekar di cungkup itu belakangan. Warga desa tidak ada satupun yang mengenalnya. Siapakah nama Mbah Yang yang bersemayam di cungkup itu. Sangat misteri tapi warga desa bahkan dari desa lain ada yang ngalap berkah di cungkup itu. Konon ada beberapa orang yang nyepi disitu melihat penampakan sosok orang tua berjubah putih dengan ikat kepala seperti Pangeran Diponegoro. Ada lagi yang melihat penampakan seekor macan putih. Dan ada lain- lain penampakan. Saat Hera menyapu halaman cungkup, diantara daun-daun kering yang berjatuhan tiba-tiba Hera melihat dua ekor ular Lare Angon sebesar jempol kaki. Ekor dua ular itu saling melilit dengan kepala berlawanan. Persis seperti gambaran ornamen yang melinkari cungkup itu. Saat itu Hera cuma memandangnya tidak panik dan tidak berkata-kata, karena khawatir orang yg sedang nyekar akar memburu dan menggebuk.

Sejak kecil mbah Mangun selalu menyarankan agar Hera setiap nyekar menyapu kuburan di cungkup itu. Hera hingga selalu ingat nasehat itu. Bukan hanya Hera,  beberapa warga perantau  dari desanya jika mudik selalu  nyekar ke cungkup itu.

Di belakang cungkup itu ada lahan kosong yang diwakafkan lalu di bangun masjid kecil  dengan biaya 100% dari kakaknya Larso. Hari itu Hera tidak bertemu Larso, karena Larso tidak sedang pulang,  sibuk dengan kegiatan kampusnya.

Kesesokan harinya Hera menyiapkan perbekalan untuk kembali ke Semarang. Pagi jelang siang terdengar suara andong pak Sakir, berhenti lalu membunyikan belnya

“Kleng kleng..”

Hera mengenali itu sebagai bunyi bel andong yang suaranya khas.  Bergegaslah Hera berpamitan kepada simbah kakung dan putrinya.

Simbah yang bijak itu berpesan agar hati-hati  ada satu nasehat yang mungkin tidak lazim, tapi itulah nasehat mbah Putri. Hera  selalu dinasehati harus nengenakan celana panjang jika berpergian. Kata simbah putri biar brukut dan bebas dan lincah bergerak.

Dalam hati Hera setuju ada benarnya juga.

Pak Sakir membantu menaikan bawaan Hera. Pak Sakir mengingat pesan Hera, untuk menjemput 3 hari yang lalu tanpa konfirmasi lagi. Hera pun meyakini Pak sakir akan datang.  Cara kerja yang sederhana sekali iya sampai waktunya tetap ditepati. Lalu mulailah andong meluncur pelan lewat jalan tanah sebelum mencapai jalan besar beraspal menuju Delanggu.

Hera ngobrol basa-basi dengan Pak Sakir. Tanpa diduga oleh Hera Pak Sakir menanyakan tentang hubungannya dengan Danang putra pak Camat.

“Mbak Hera, sudah tahu belum kalau mas Danang putra pak Camat pergi dari rumah?”

“Iya pak saya tahu, tapi nggak tahu pergi kemana?” jawab Hera sambil tetap tenang. Ia berharap pak Sakir tahu kemana Danang.

“Kabarnya, mas Danang kesal karena dilarang gandeng dengan mbak Hera,”  pak Sakir lugu menerangkan sambil mengendalikan kudanya.

“Pak Sakir tahu darimana?”  tanya Hera penasaran.

“Welah kusir andong gitu lho, gudangnya info. Banyak penumpang ngobrol tentang apa saja. Ibu-ibu lurah sering carter andong lalu ngomongin putra pak Camat. Ibu lurah desa paling sering ditanya soal mbak Hera,” dengan semangat pak Sakir bercerita

“Ooh. Lha kok bu camat nggak tanya saja ke pak Sakir ya, kan pak Sakir lebih paham, ” sahut Hera

“Kalau soal itu, bu camat lebih percaya kepada Jimo. Si tukang fitnah itu mbak… hahaha, ” ucap Pak sakir sambil tersenyum kecut. Ada rasa kesal dalam ucapan pak Sakir karena pernah jadi korbannya.

“Semua orang dimata dia, salah, padahal dianya yang nggak bener,”  tambah Sakir.

“Iya pak saya juga heran,  hampir semua orang desa kita nggak suka, tapi kok pak camat , bu camat dan pejabat kecamatan suka ya?” Hera mempertanyakan.

“Karena mereka tidak tahu mbak, dan Jimo model orang yang suka menjilat.”

“Sepertinya begitu. Kalau orang nggak suka, ada orang yang suka, itu wajar. Lha ini tetangga sekampung semua tidak suka. O  ya pak,  bu lurah kita sering ditanya-tanya apa soal saya?” tanya  Hera penasaran.

“Ya tanya anak siapa, orang tua di Jakarta kerjanya apa, simbahnya bagaimana. Gitulah mbak.”

“Trus bu lurah jawab apa?”

“Ya dijawab baik- baik semua.”

“Bu camat sebenarnya baik kok mbak, tapi kepengaruh pak camat, kasihan mas Danang ya mbak.”

Hera lalu teringat kenangannya di desa bersama Danang.

“Iya pak,” jawab Hera singkat. Ia sedih teringat segala kebaikan Danang. Kadang dia merasa egois. Tapi ia ingat-ingat lagi yang membuat Danang pergi bukan dia tapi orang tuanya.

“Jadi mbak Hera sudah nggak berhubungan lagi?”

“Nggak pak. Lama. Saya nggak tahu dia dimana, nggak tahu alamatnya. Dia juga nggak tahu saya di Jakarta dimana.”

“Oh…mudah-mudahan Mas Danang masih hidup.”

“Eh kok bilang gitu pak.”

“Iya maksudnya mudah-mudahan selamat meskipun  ngggak ada kabar. Saya mendoakan yang baik. Mbak Hera masih mengharap mas Danang?”

“Sebagai teman iya. Tetapi untuk lebih dari itu saya masih mikir-mikir Pak.”

Hera jadi kepikiran. Iya apakah Danang masih hidup atau….Tapi naluri Hera berkata Danang masih hidup. Mungkin dia sedang berjuang.

Setelah kira-kira setengah jam, andong sampai di terminal Delanggu. “Sampun pak maturnuwun,” kata Hera sambil memberikan ongkos pada Pak Sakir sebesar Rp1000. Pak Sakir tidak pernah menentukan tarif. Benar-benar berapa pun pemberian orang dia terima. Tapi orang desa tahu kepantasan. Memang begitulah jaman itu. Seperti halnya tukang becak juga tidak pernah menentukan tarif. Semua berjalan dengan kebiasan yang tidak tertulis.

Orang Jawa umumnya bekerja tidak untuk mengejar untung. Mereka percaya jika kita bekerja dengan sepenuh hati, mencintai pekerjaan kita, maka kita akan merasa bahagia, orang aka merasa bahagia dan lingkungan akan jadi ikut behagia. Kehidupan akan berjalan tanpa takut nggak bisa makan. Seperti mbah Mangun punya uang Rp70ribu di pecinya juga nggak tahu. Semua disuruh ambil untuk Hera tanpa khawatir besok dia nggak bisa makan. Dia bahagi abisa memberi untuk cucunya. Dirinya sendiri nggak dipikirkan.  Sesungguhnya memang hidup ini akan terasa indah jika setiap orang mengerjakan pekerjaannya dengan senang hati dan penuh kesungguhan.

“Maturnuwun mbak. Ati-ati ya..,” pesan pak Sakir.

Hera lalu naik bis jurusan Kartosuro. Dia beruntung bisa duduk membawa bawaan yang cukup banyak. Dalam setengah jaman dia sampai di terminal bis Kartosuro. Dia harus pindah bis jurusan Semarang dari arah Solo. Inilah perjalanan yang berat bagi Hera, berganti bis dengan menenteng tas yang berat. Dia naik ke bis jurusan Semarang dengan cepat. Lalu bis jalan dengan kecepatan tinggi. Jalan cukup menanjak dan berbelok-belok. Perut Hera menjadi mual. Dia pakai tidur.

Jelang sore Hera tiba di kost Pak Raden Jl Singosari. Hera memencet bel. Sosok bapak tua rambut ikal,wajah tidak ramah, membuka pintu.

” Sugeng sonten pak, dalem Hera ,” sapa Hera sedikit takut.

” Ooh..sing kamare mburi yo, ” sahut Pak raden tanpa senyum.

” Injih bapak .”

” Sing durung mbayar?” lanjut Pak Raden ketus sambil menutup pintu.

” Njih pak, dalem nanti  badhe matur,” jawab Hera sambil menunduk, merasa nggak enak.

” Kono matur wae karo ibu, ” Pak raden melanjutkan.

” Njih bapak,” jawab Hera sambil berjalan.

Hera langsung menuju ke belakang, kamarnya dekat kamar pembantu. Pembantunya  bernama Semi, yu Semi itu panggilannya.

“Selamat sore yu..,” sapa Hera.

“Iya den. Baru datang ya?”

“Iya dari Klaten..”

“oh…iya mangga..”

Setelah meletakan bawaan di kamar, Hera siap-siap menghadap bu Raden. Hatinya ciut.  Terpaksa Hera akan membayar 2 bulan dulu , Rp 25 ribu lagi.

Uangnya sisa Rp 45 ribu buat bayar SPP, masih kurang 5 ribu. Hera sedih.

“Bu maaf ini saya nitip dua puluh ribu dulu nggih, masih nunggu kiriman wesel dari ibu di Jakarta,” kata Hera sedikit memelas.

“Oo gitu. Tapi bener ya?”

“Iya bu..” jawab Hera sambil berpikir gimana cara nyari uang untuk menggenapinya.

Malam itu Hera untuk pertama kali menempati kamar itu. Di dalam keheningan malam, Hera menulis surat untuk Agung. Dia bercerita bahwa dia sudah diterima di UNDIP Semarang. Hari pertama hidup di kost-an. Hera merasa perasaannya ploong, tidak ada yang mengganjal dan ada ruang yang sangat lega di dadanya.. Entah kenapa…Sepertinya ada sebuah kemerdekaan menentukan nasibnya sendiri. Ternyata kemerdekaan batin itu mahal harganya.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.