Selasa, 14 April 2026, pukul : 06:32 WIB
Surabaya
--°C

Literasi Keuangan Milenial, Bukan Masih, tapi Sudah 16% 

KEMPALAN: Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Demikiranlah kutipan kata-kata bijak yang sering disampaikan sebagai ungkapan pendewasaan diri untuk menunjukkan eksistensi seseorang. Begitupun perilaku enam generasi yang ada saat ini; traditionalist atau silent generation, baby boomers, Generasi X, Generasi Y atau milenial, generasi Z, dan generasi alpha.

Semua memiliki perilaku dan indikator tersendiri, dan semuanya memiliki level perubahan yang berbeda. Dari keseluruhan pembagian tersebut, di Indonesia sendiri dalam 10 tahun terakhir terdapat penambahan jumlah penduduk  32,56 juta jiwa.

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut tentunya menjadikan jumlah penduduk Indonesia menjadi di kisaran 270,20 juta jiwa sampai awal 2021 ini. Sejalan dengan BPS yang mempublikasi peta kependudukan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menampilkan perolehan tentang literasi keuangan di masyarakat.

Sebagai seperangkat keterampilan dan pengetahuan masyarakat untuk membuat keputusan yang efektif dengan memanfaatkan semua sumber daya keuangan yang dimiliki, literasi keuangan diidentifikasi OJK sesuai survei-nya; 21,84% masyarakat masih tergolong well literate, selanjutnya 75,69% termasuk sufficient literaste, dan 2,06% masuk dalam kelompok less literaste, sisanya yang 0,14%  adalah yang non literate.

Mencermati perolehan tersebut terkandung makna bahwa  pengetahuan keuangan masyarakat di Indonesia dinilai sudah cukup untuk memanfaatkan fitur, risiko, hak, dan kewajiban terkait produk jasa keuangan. Namun meskipun demikian masyarakat masih sangat perlu untuk diedukasi mengenai pentingnya literasi keuangan.

Sesuai hasil akhir Sensus Penduduk BPS 2020 diketahui bahwa indeks literasi keuangan nasional ada di angka 38,03%. Di bawah 50%, jika perolehan tertinggi adalah 100% maka 38,03% ini boleh dikatakan rendah. Selanjutnya BPS mengidentifikasi untuk generasi yang lebih khusus, pada Generasi Z (Gen Z) yang berusia diantara 8 sampai dengan 23 tahun.

Diketahui bahwa pada generasi ini memiliki komunitas sangat besar, 74,93 juta jiwa (27,94% dari total populasi). Pada saat survei dilakukan untuk kelas interval yang lebih kecil lagi, umur 15 sampai dengan 17 tahun, ternyata memiliki indeks literasi keuangan 16%.

Berangkat dari release tersebut pada gilirannya sangat banyak pihak yang beranggapan bahwa literasi keuangan milenial (baca: generasi usia 15-17 tahun) masih rendah, 16%. Fakta ini memunculkan pernyataan miring bahwa milenial belum melek teknologi informasi keuangan.

OJK disarankan merancang langkah-langkah strategis mengenjot pemahaman milenial akan arti penting literasi keuangan ini. Banyak pernyataan yang intinya menyayangkan capaian  literasi keuangan milenial 16% ini, dianggapnya masih rendah.

Terkini, sebenarnya sudah ada Building a Financially Capable Generation yang digelar  Bank HSBC Indonesia dengan Prestasi Junior Indonesia (PJI) untuk meningkatkan literasi keuangan di kalangan anak muda. Dilakukan sejak pertengahan tahun lalu dan sudah menjangkau lebih dari 1.000 siswa sekolah menengah di beberapa kota di Indonesia.

Indeks literasi keuangan milenial yang 16%, ini sebenarnya tidak bisa dikatakan rendah atau masih rendah apabila dicermati empat faktor di dalamnya. Pertama, secara umum literasi keuangan 38,03%, yang berarti sebenarnya juga tidak tinggi karena ada di bawah 50% dengan asumsi indeks tertiggi adalah 100%.

Mencermati besaran ini, perolehan milenial yang 16% tentunya tidak dapat dianggap rendah. Kedua, perolehan indeks 16% ini berasal dari generasi yang berusia 15-17 tahun, sangat mudah dimengerti bahwa usia ini adalah usia anak sekolah. Sudah barang tentu literasi keuangan bukanlah fokusnya.

Ketiga,  keberadaan anak-anak di usia tersebut pada kondisi belum punya penghasilan. Ketika diedukasi untuk melakukan literasi keuangan dengan sumber daya terbatas  tentu mengurangi daya tarik. Keempat,  dengan range usia 15-17 tahun pasti jumlahnya sangat sedikit.

Dari kendala yang demikian,  sejatinya dapat dikatakan bahwa indeks literasi keuangan milenial sudah tembus di  16%, dan bukan masih 16%. Pertanyaannya sekarang kita geser untuk skala yang lebih luas. Literasi keuangan kita masih 38,03% atau sudah 38,03% ?. Salam. (Bambang Budiarto-Redaktur Tamu Kempalan.com, Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.