
KEMPALAN: Hera diantar Hero naik motor menuju terminal bis Pulo Gadung.Hera naik ke dalam bis setelah salaman dengan adiknya.
“Hati-hati ya mbak,” kata Hero.
“Iya. Titip adik-adik ya. Bantu ibu ya,” jawab Hera sambil menahan sedihnya.
Ia mendapatkan bis yang kurang bagus kondisinya, mungkin karena tiketnya murah. Bis berangkat. Bis itu tidak ber-AC dan harus sering berhenti mencari penumpang. Hera masih memikirkan sikapnya, antara keras ingin mencapai cita-cita atau dia egois ingin enaknya sendiri. Masih terngiang kata-kata Tika adiknya. Dalam hati sebenarnya dia hanya tidak ingin cepat-cepat harus nikah, apalagi kalau dengan orang yang tidak dicintainya. Sekaligus dia ingin nanti membahagiakan ibu dan adik-adiknya.
Hera mulai mual dan muntah-muntah. Hera memang sering mabok perjalanan jika naik kendaraan selain kereta. Dia membawa minyak angin, antimo dan plastik kresek hitam kecil. Berungkali dia olesin minyak di bawah hidung dan di lehernya.
Bis yang ditumpangi lelet jalannya, sering berhenti cari penumpang.Ini yang membuat badan Hera makin lemah, karena perutnya mual terus. Plastiknya mulai dibuka dan beberapa muntahan telah mengisinya. Badan Hera lemas dan pucat sekali.
Sehingga orang yang duduk sebelahnya menghindar mencari tempat duduk lain. Karakter orang memang berbeda- beda dalam menyikapi situasi, ada yang ingin menolong ada yang menghindar takut ketularan kebawa muntah atau jijik. Hera sangat memaklumi. Dia lebih nyaman duduk sendiri, dengan kondisi sangat lemas.
Dia berpikir caranya turun nanti. Kalau dia lanjutkan perjalanan sampai terminal Terboyo yang lokasinya di Kaligawe arah Demak, pasti akan sangat jauh. Hera belum paham kota Semarang. Tapi Hera tahu Tagu Muda. Konon Tugu Muda itu Centernya kota Semarang, di dekatnya ada bangunan tua yang fenomenal yaitu Lawang Sewu.Dengan kondisi sangat lemah Hera akan menginjakkan kaki di kota yang belum dia kenal sama sekali, walaupun kata Pakdenya bapaknya mas Gatot, saat berpitan, Hera dibilang napak tilas pakdenya. Pakde saat remaja sempat sekolah SMA di Semarang.
Dia ikut budenya, kakak mbah Mangun Putri. Kakaknya mbah Mangun Putri yang menjadi koki di Kamp tentara KNIL, Koninklijke Netherlands- Indische Leger, tentara muda Belanda yang ditempatkan di Hindia Belanda. Kampnya ada di kota Semarang dan Magelang. Keluarga besar Mbah Mangun memanggil kakak perempuan mbah Mangun itu sebagai mbah Tuwo, orang-orang desa menjuluki mbah Semarang. Mbah Tuwo ini sangat moderen, bisa berbahasa Belanda. Dulu jaman pendudukan Belanda entah siapa yang mengajak, mbah Tuwo merantau ke Magelang dan Semarang, sempat menikah dengan tentara KNIL Belanda dan punya satu anak perempuan. Anaknya saat itu buat rebutan.
Saat tugas KNIL itu selesai, dan suami mbah Tuwo ingin kembali ke Negaranya, konon mbah Tuwo tidak mau dibawa ke Negeri Belanda. Anaknya dibawa ke Belanda ikut bapaknya. Mungkin karena mbah tuwo wong ndeso, dia takut dan tidak percaya diri. Simbah Tuwo sangat sayang kepada Hera saat bayi, hingga SD, karena mengingatkan kepada anaknya. Kadang sayangnya berlebihan, Hera selalu dipakaikan sepatu dan sandal kemanapun pergi, sementara teman-temanya di desa masih nyeker.
Mbah Tuwo mengurus cucu ponakan di Jakarta, mbah Tuwo membantu ibu Hera dan pakde Hera, mengasuh anak-anaknya, jadi memgasuh cucu-cucu ponakan. Waktu Hera dibawa ke desa itu sebenarnya saran dari mbah Tuwo, karena Hera sakit-sakitan. Mbah Tuwo membawanya ke desa, dijemput mbah Mangun Kakung. Mbah Tuwo meninggal saat Hera kelas 6 SD. Hera mempunyai banyak cerita tentang mbah Tuwo, Hera penasaran tentang anaknya, yang dibawa ke Negeri Belanda. Kalo masih hidup tentu seusia ibu Hera.
Tidak terasa bis sudah memasukin kota Kendal sebentar lagi sekitar setengah jam atau satu jam lagi, masuk kota Semarang. Hera membasuh buka dengat tissue basah dan tisue kering yg sudah hampir habis. Hera berbicara pada kernet bis kalau sudah dekat Tugu Muda, tolong diberi tahu.
*
Hera turun di pemberhentian bis dekat Tugu Muda. Lanjut mencari Ojek ke arah Jl. Imam Barjo, kampus UNDIP. Hera mencari kantin yang agak sepi, sambil numpang titip tas besar. Karena setelah regestrasi Hera akan lanjut mencari kost-an.
Hera membaca menu ada soto kudus, rata-rata di Semarang, genre sotonya adalah Soto Kudus, dan es blewah baru kali ini Hera tahu nama es blewah. Buah blewah pernah dia dengar seperti melon tapi dia belum pernah mencobanya. Pasti segar sekali pikir Hera. Hera bertanya kepeda pelayannya, seperti apa minuman es blewah itu, katanya minuman khas Semarang es blewah diserut panjang dicampur sirup Coco Pandan warna merah.
Hari itu Hera numpang duduk istirahat di kantin yang paling sepi diantara kantin lainnya. Dia makan soto kudus untuk menghangatkan perutnya dan Es Blewah untuk pertama kali karena penasaran. Sejak itu Hera hobi sekali minum es blewah. Meski tidak setiap saat musim Blewah, tapi anehnya di Semarang selalu ada blewah.
Setelah badan terasa nyaman, Hera beranjak dari kantin ke gerbang kampus dan menitipkan tas di kantin itu. Udara kota Semarang panas dan sumuk, membuat tubuh berkeringat dan badan menjadi enteng. Hera memasuki auditorium UNDIP. Di Auditorium yang luas itu, ada beberapa counter yang melayani regestrasi ulang, antrian Hera tidak terlalu panjang. Hera mendapat teman mengobrol, ada yang dari Madiun ada juga yang dari Purworejo. Mereka semua belum mendapatkan tempat kost dan merencanakan setelah selesai regestrasi akan sama-sama mencari kost.
Mereka diantar orang tua atau kakaknya, dan tentu umur mereka di bawah Hera. Setelah selesai regestrasi mereka bertiga yang baru kenal berjalan di komplek rumah-rumah seputar kampus mencari rumah bertuliskan ‘menerima kost putri’. Tidak terlalu sulit atau karana Tuhan memberi kemudahan. Tiga sekawanan yang baru kenal itu mendapat tempat kost di Jl. Singosari. Rumahnya tidak terlalu bagus, dihuni sepasang pensiunan wedana jaman dulu. Di tembok rumahnya bertuliskan R Soewandi. Milihat gensturnya pak Soewandi ini galak. Tapi tidak sempat berpikir. Yang penting sudah bisa dapat pondokan. Dan dekat kampus sehingga cukup berjalan kaki saja.
Mereka berbincang- bincang mengenai aturan-aturan yang berlaku, Pak Soewandi atau terkenal dengan Pak Raden berbicara bahasa Belanda kepada istrinya. Peraturannya Lumayan ketat dan disiplin, bagi Hera tidak masalah. Hera ingin segera menitipkan travel bag nya yg cukup besar. Setelah sepakat harganya yaitu 15.000 per bulan dan dibayar 3 bulan di muka. Hera memberi tanda jadi 5.000 rupiah. Dan menitipkan tas nya disitu dua temannya membayar sekaligus, saat itu juga dan langsung masuk. Karena asal daerah mereka cukup jauh dibanding Delanggu, Klaten.
Hera sudah tenang, dan pamit akan pulang ke desa menemui simbahnya. Tiga hari kemudian akan kembali. Uangnya tidak cukup untuk membayar uang kost 3 bulan dimuka. Hera naik becak menuju Halte, bersama keluarga dua temanya, Halte terdekat yang biasa dilewati bis antar kota yaitu Halte MULO, konon di dekat Halte Bis itu ada Sekolah MULO, Meer Uitgebried Lager Onderwijs Sekolah Jaman Belanda, setingkat SMP. Lidah Jawa Semarang menyebutnya Milo. Berada di JL. dr Cipto. Kembali Hera, naik Bis jurusan Solo turun Kartosura, hatinya deg- deg an takut muntah lagi. Sekitar 2,5 jam Bis tiba di Kartosura.
Hera lanjut naik bis jurusan Jogya dan turun di Delanggu. Sampai Delanggu sudah sore pas kebetulan ada andongnya pak Sakir, warga desanya. Pak Sakir orangnya tinggi besar kalau ada dapukan wayang orang dia menjadi Tokoh Wrekudoro atau Bima. Usianya sepantaran Jimo Belong. Pak Sakir termasuk salah satu korban fitnahnya.
Hera naik andong dari Delanggu. Andong mulai melaju dengan kecepatan sedang karena jalan sedikit menanjak.Andong melewati jalan dimana kanan kiri adalah sawah-sawah yang menghijau dan sebagian menguning. Semoga panennya bagus, biar para petani senang, bisik hatinya. Angin berhembus semilir,matahari sudah di ufuk barat menjelang senja. Burung Sriti beterbangandi atas sawah yang dilewati. Kadang ada serombongan burung emprit dalam kelompok yang terbang bersama setelah menikmati sedikit padi yang mulai menguning.
“Dari mana mbak? Kok sendiri?” Pak Sakir bertanya kenapa Hera sendirian, darimana
“Habis dari Semarang pak. Daftar sekolah,” Hera menjawab seperlunya.
Tapi pak Sakir bercerita tentang masa jecil Hera, awal-awal di desa. Setiap pulang sekolah dijemput mbah Semarang atau mbah Tuwo dipayungi, lalu Hera malah lari-lari malu. Kaki Hera tidak beleh kotor selalu pakai sepatu kaos kaki warna-warni , bikin ngiri anak- anak lain. Hera tersenyum dan Hera menjawab
“Saya nggak sreg Pak diperlakukan seperti itu”.
“Mbah Semarang, itu dulu biasa hidup di lingkungan sinyo- sinyo Londo. Jadi budayanya beda dengan orang kampung,” kata Pak Sakir menjelaskan.
“Tapi sebenarnya karena saya cacingan pak,makanya mbah Tuwo memperlakukan begitu,” kata Hera sambil tertawa.
“Oalaha…hahah…pantes kurus ya waktu kecil
Hera jadi ingat bahwa Hera harus nyekar mbah Semarang. Tidak terasa sudah nemasuki desanya.
“Terimakasih pak sakir,” kata Hera sambil memberikan ongkos. Semula pak Sakir tidak mau dibayar. Tapi Hera memaksanya.
“Tiga hari lagi kalau nggak ada pesanan, tolong antar saya nantike Delanggu ya pak..,”pesan Hera lagi.
Hera turun dari Andong, simbah kaget melihat cucu perempuannya datang. Dengan hati riang gembira mbah kakung, mbah putri dan si Brino anjing klangenannya menyambutnya. Brino sangat setia membantu mbah kakung mencari tikus di sawah. Anjing adalah binatang piaraan yang njelmo. Setia dan tidak minta sesuatu yang tidak diberikan. Anjing makan sesuai pemberian majikannya, tidak suka merebut. Kalau Hera dengar ada orang memaki kepada orang jahat dengan sebutan Asu atau Anjing., hati Hera rasanya tidak terima. Binatang baik kok disematkan untuk penjahat. Salah apa dia.
Hera duduk di kursi Sedan bercerita dengan mbah kakung, sementara mbah putri siap dengan ritualnya, ngadep bothekan, mendengar cerita Hera sambil meracik kinang.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi