Cerbung Prof Budi Santosa PhD & Dra Hersis Gitalaras (Seri 44)

Sebuah Pertaruhan

  • Whatsapp

KEMPALAN: Hera berusaha mengalihkan kegalauan hatinya pada kuliahnya, dan aktif membuat paper dan makalah pra- skipsi.Harapannya makalah-makalah itu yang akan dikembangkan sebagai materi untuk skripsi. Hera sudah memasuki semester 6 dan merencakan akan ambil Mata kuliah KKN yang menurut info kuotanya ditambah. Jadi bagi mahasiswa yang sudah mengumpulkan minimal 90-100 SKS, diperkenankan mengikuti KKN selagi kuota masih tersisa. Hera mulai mendaftar dengan segala persyaratannya.

Suatu siang, Siti , pembantu rumah kos memberitahukan kalau ada tamu yang dulu pernah datang. Hera keluar melihat sosok Danang dengan bawaan tas besar dan dengan raut wajah yang nampak sedih. Hera kaget melihat kedatangannya. Apa-apaan lagi ini Danang.

BACA JUGA

“Lho mas kok nggak ngabari dulu kalau mau datang?!” sapa Hera tergopoh.

“Iya dik, aku memutuskan untuk pergi lagi merantau”, kata Danang sendu.

“Lha memangnya mas Danang mau kemana? ” tanya Hera masih dalam kekagetan.

“Seperti yang aku bilang, aku mau pergi merantau ke Kalimantan Tengah”, jawabnya.

“Lho apa sudah jelas ada yang dituju??  Siapa ?” tanya Hera antara kasihan dan entah mengapa ada kerisauan di hatinya.

“Ada dik. Ada saudara sepupu, putranya bude,  kakaknya ibu”, Danang menjelaskan.

” Berarti pamit baik-baik dengan bapak- ibu kan?” tanya Hera penasaran.

“Iya pamit dengan baik dan memang bapak-ibu menghendaki aku pergi. Katanya nyepet-nyepeti mata kalau di rumah. Luntang-lantung nggak ada kerjaan”, Danang bicara sambil tersenyum kecut dan Hera juga tersenyum kasihan.

“Ya mungkin ini jalan terbaik untuk membuktikan bahwa mas Danang bisa mandiri dan produktif sesuai kemampuan”, jawab Hera.

“Iya memang begitu, aku sadar dengan keterbatasan aku dik. Di rantau pedalaman sana, tenaga saya mungkin lebih dibutuhkan ” , kata Danang memberikan alasan bahwa sudah seharusnya keputusan pergi ke Kalteng itu diambil.

“Iya mas aku salut dan bangga lho, mas ambil keputusan ini, gentle”, kata Hera bangga tidak dibuat-buat.

“Ooh ..kamu setuju dan senang ya dik aku merantau jauh ?” tanya Danang, dan membuat aneh hati Hera.

“Lha aku jelas-jelas setuju lah mas, itu pilihan tepat, konon di Kalimantan masih banyak membutuhkan SDM muda dari Jawa yang dianggap lebih unggul”, Hera memberikan semangat.

” Iya Dik doakan aku ya semoga segera dapat pekerjaan di sana”, Danang menimpali dengan suara pelan. Hera berpikir apakah Danang berharap Hera menahan atau memberikan saran lain untuk tidak membiarkan pergi??

“Pasti mas, aku orang yang akan paling banyak berdoa untuk kesuksesanmu disana.Siapa tahu aku bisa menyusul hehehe” , kata Hera penuh support.

” Betul dik, tenan mau nyusul,  wah aku jadi semangat nih “, kata Danang dengan wajah riang

” Lho ya tenanlah di Kalteng kan masih gampang cari kerja, aku pingin kenal dengan orang-orang suku Dayak, konon mistisnya kuat. Yang penting lagi di pedalaman, di pelosok hutan sana tidak ada orang mempersoalkan statusku hahaha” , kata Hera bergelora memberi semangat.

“Iyo dik, tapi ya jangan kaget hidup neng alas ki serem jauh dari keramaian nggak bisa ke Dept Store seperti di Jakarta atau Semarang”, kata Danang lagi.

“Ngak masalah, duwitnya malah utuh. Hahaha.”

“Iyo dik serba adoh numpak gethek, perahu klothok, lalu lintasnya lewat kali gede,  serem  pokoke”, Danang menuturkan, mungkin itulah gambaran yang dia peroleh dari saudaranya tentang keadaan di lokasi yang akan dituju.

“Oya mas, saudara yang di Kalteng itu bekerja di Perusahaan apa??” tanya Hera penasaran.

“Perusahaan HPH milik Konglomerat  Jakarta, banyak perusahaannya selain logging juga ada pabrik kayu lapisnya kata saudaraku. Ada messnya,  banyak sarjana yang ikut program MT disana, kata saudaraku. Makanya nanti kalau sudah lulus nglamar ikut program MT saja”, kata Danang. Di setiap perusahaan besar salalu membuka recruitment melalui program MT,Menejemen Trainee. Biasanya diikuti oleh para sarjana- sarjana Fresh Gradute.

“Wah menarik, makin semangat juga nih untuk cepat selesai kuliah”, Hera girang tidak dibuat-buat spontan mendekati Danang. Lalu Danang dipeluknya. Danang kaget, hatinya mekar, seperti mendapat sebuah jawaban bahwa Hera menerimanya kembali.

Di sisi lain Hera berpikiran beda,  aksinya yang spontan itu adalah bentuk motivasi dan semangat agar Danang tidak ragu-ragu dalam melangkah maraih cita-citanya. Sejenak kemudian mereka diam. Danang masih memikirkan dekapan Hera.

“Oya dik, aku titip tas-ku ya, mau ke kosnya  Waluyo. Aku mau minta antar beli tiket ke Biro travel, pemberangkatan besok, semoga dapat pesawat yang kangsung ke Cilik Riwut Palangkaraya”, kata Danang.

“Ayo aku antar, sekalian makan siang, di soto Bangkong atau Ayam goreng Andarira. Mas Danang pasti laper, aku yang traktir”,  kata Hera bersemangat. Padahal dalam hati, Hera mikir buat bayar uangnya cukup nggak ya. Sekali-kali Hera ingin mentraktir mas Danang makan enak sebagai ucapan selamat jalan dan penyemangatnya.

“Nggak usah repot-repot dik, kita makan indomie atau bakso di depan kosnya Waluyo saja”, kata Danang.

“Nggak,  kita harus makan yang enak, sekali-kali. Baru gajian ngajar”, jawab Hera berbohong.

“Okelah maturnuwun”,  kata Danang seraya tangannya mengelus pundak Hera. Danang merasa sangat tersanjung walaupun juga agak ragu Hera punya uang darimana.

Hera menuju kamar ganti pakaian, dan menyolek Nunik yang paling mapan perduwitannya.

“Nik boleh aku ngrepotin buat jaga-jaga saja, pinjem uang ya 15.000 saja?!” pinta Hera.

Nunik tanpa mikir panjang, ngambil dompetnya dan menjulurkan agar Hera mengambilnya sendiri. Hera mengambil sesuai kebutuhannya. Limabelas ribu untuk jaga-jaga jika uangnya kurang. Besok rencana Hera juga mau ikut ngantar ke Bandara. Siapa tahu ini untuk terakhir kalinya bertemu Danang.

Mereka berdua jalan menuju perempatan Bangkong dan memilih makan Ayam Goreng Tepung kremes Andarira.  Keduanya nampak riang gembira, terutama Danang, kelihatan sekali hatinya berbunga-bunga. Hera harus membuat Danang penuh semangat, seperti ketika Hera memotivasi Agung saat mau berangkat ke US.  Bedanya Agung akan berangkat sekolah menuntut ilmu di Universitas Top Dunia. Sementara, Danang mencari kerja di hutan belantara pedalaman Kalteng karena keterbatasan pendidikannya. Memang sangat mencolok perbedaannya tapi essensinya sama. Hera ingin memberikan motivasi kepada orang yang disayangi. Terlepas dari tujuan apakah kelak akan menjadi pendamping hidupnya atau tidak. Hera sudah tidak punya harapan muluk-muluk terhadap laki-laki. Hera ingin fokus pada kuliahnya agar cepat selesai.

Hera memesan dua potong Ayam Goreng Kremes dan dua gelas Es Jeruk. Mereka makan dengan lahap seperti orang kelaparan. Mungkin karena paginya mereka tidak sarapan.

Selesai makan mereka jalan menuju rumah kos Waluyo melewati kosnya Esti. Tapi, Esti belum pulang dari kerja. Jika dia ada akan diajak serta mengantar ke Bandara A.Yani jika dia mau.  Waluyo yang metal rambutnya dikuncir sedang merokok di teras rumah kosnya kaget melihat kedatangan Danang dan Hera. Dia menyambutnya dan menanyakan ada keperluan apa. Danang menyampaikan maksudnya dan kaget.

“Tapi kepergian mas Danang kali ini bukan karena marahan dengan bapak ibu kan mas?”  tanya Waluyo serius.

“Tidaklah..Aku pergi baik-baik tidak karena mutung, hehe” , jawab Danang meyakinkan.

“Bagus kalau begitu”, kata Waluyo mengangkat jempolnya.

“Iya nih Wal aku mau minta tolong antar beli tiket ke Palangka Raya, sebaiknya beli langsung ke Bandara atau Biro Travel”, kata Danang.

“Di ujung jalan ini ada Biro travel, kita ke situ yuk jalan aja. Untuk keberangkatan kapan?” tanya Waluyo lagi.

“Besok pagi kalau bisa”, jawab Danang.

Hera merencanakan mau mampir lagi ke kos Esti barangkali dia sudah pulang. Dan, benar ternyata Esti sudah pulang. Dia kaget melihat Hera tiba-tiba muncul tanpa pemberitahuan lebih dulu. Para cowok ke Biro travel dan Hera ke kamar kosnya Esti,karena waktu pertemuan yang lalu tidak sempat bercerita. Di kamar kost Esti, Hera menceritakan tentang kekesalan hatinya terhadap Agung.

“Lha kok Agung setega itu ya Her, rasanya kok gak mungkin kalau keputusannya itu berasal dari dirinya, pasti ada intenvensi”, begitu Esti menganalisa.

“Yo embuhlah yang jelas kami sudah putus tus, saling mendoakan aja semoga baik semuanya, aku harus belajar rela dan legowo”, kata Hera sok bijaksana.

” Nasib kita sama ya, aku jadi ingat nasehat Agung, disurat dulu yang menyuruhku berpikir panjang dan hati-hati dengan mas Budi. Eh ternyata benar, dasar mas Budi itu buaya darat”, kata Esti bernada geram. Esti berpikir Agung menasehatinya tapi dia sendiri meninggalkan Hera dengan cara yang sadis.

“Ya sudah kita konsen dan fokus pada tugas kita masing-masing dululah, kerja yang tekun, sisihkan uang untuk kuliah sore kelas karyawan Es”, Hera iseng memberi nasehat.

“Iya harus nabung dulu supaya bisa kuliah. Lha ngomong-ngomong hubunganmu dengan Danang bagaimana? apa sudah direstui oleh bapak ibu nya?”  tanya Esti ingin tahu.

“Yo belum, masih keras,  melarang, makanya Danang mau pergi lagi tuh besok akan ke Kalimantan,  mau cari kerja di hutan” , jawab Hera.

“Mau pergi lagi ?  Baru berapa bulan Danang di rumah sejak dia kabur ke  Sumatera dah mau kabur lagi?” Esti bertanya- tanya sendiri.

“Iya lha wong ribut terus sama bapaknya. Jadi ya mending kabur darpada tidak nyaman, hobi kok kabur ya hahaha” ,Hera bergurau.

“Iya memang sih harus berani kabur, aku aja sudah beberapa kali kabur, ke Jakarta, ke Jogya, ke Samarang. Kamu aja yang tidak berani kabur, sosokmu itu seperti pemberani tapi ternyata ciut, tidak pernah kabur hahaha”,  dengan wajah riang Esti menggoda.

“Emang ukuran seorang pemberani itu  kabur? Bukannya pemberani itu harus melawan??” Hera mengajak berpolemik .

” Lha percumalah melawan, penguasa yang ngasih makan kok dilawan, itu sama aja kutuk marani sunduk hahaha”, jawab Esti diplomatis. Hera melihat kemajuan pesat pada diri Esti sejak dia di Semarang, mungkin karena pergaulannya dengan orang kerja. Sehingga sudah agak pintar ngomong.

“Oya Es kalau nggak keberatan besok temani aku yuk antar Danang ke Bandara”,  ajak Hera.

“Wah kamu kok semangat banget ngantar mas Danang. Sepertinya ada getaran khusus ya?”

“ya memberi semangat. Siapa tahu dapat berkah jadi mudah dapat kerja nanti.”

“Betul ya. Kita harus menanam kebaikan meski kecil tapi siapa tahu bisa bermanfaat.  Kita lihat dulu tiketnya, besok jam berapa berangkatnya. Kalau siang jam 1 atau 2an saya bisa ijin setengah hari. Tapi kalau berangkatnya pagi, ya saya nggak bisa” , Esti menjelaskan.

“Baiklah kita tunggu mereka, semoga tiketnya siang ya “, Hera berharap bisa mengantar Danang, jadi berempat sama- sama satu SMA.

“Thok thok kulonuwun “, suara Waluyo sambil mengetok pintu. Esti dan Hera bersiap bergegas ke arah pintu depan.

Dua cowok sudah duduk di teras dan mengabarkan kalau besok berangkat jam 14.00 siang dengan pesawat Bouroq langsung Palangkaraya, Cilik Riwut.

“Hore Esti bisa ikut nganter, janji lho Es mau pulang cepat ijin setengah hari”, seru Hera sambil mengingatkan janji Esti.

“Gimana kamu Jokwal, semoga besok nggak ada kuliah siang ya?” tanya Esti pada Joko Waluyo.

” Gampang kuliahku bisa diatur, kita harus mengantar sahabat kita pergi berperang melawan orang utan hahaa”, canda Waluyo.

“Yang penting jangan sampai kecanthol gadis Dayak. Hera bisa terluka..”, canda Esti sambil melirik Hera dan Danang. Danang suka sekali dengan candaan itu. Tapi Hera bingung harus bagaimana.

Keesokan harinya jam 12.00 mereka naik Taxi ke Bandara. Sejatinya Hera akan tidak sanggup menghadapi situasi kesenduan sendiri. Lagi-lagi Hera teringat empat tahun sebelumnya, mengantar sahabat mereka di Bandara juga.Bedanya empat tahun yang lalu Agung pergi dengan segala kebanggaan dan puja-puja,  tujuannya jelas pergi ke sebuah Negara Super Power, dengan adab dan budaya lebih baik. Ibarat sebuah proses produksi, hasil dari proses yang baik terpola dan terukur dengan baik, akan menghasil produksi yang berkualitas baik pula. Satunya Danang akan pergi dengan goresan luka, dendam dan sakit hati yang dituju hutan belantara ke lingkungan yang mungkin peradapannya lebih primitif. Bisa dibilang karena prosesnya tidak baik tidak terpola dan terukur, maka akan menghasilkan produk tidak baik dan gagal. Proses akan dimulai dari awal, mengulang proses produksi lagi.  Belum ada jaminan apakah hasil produksinya lebih baik atau tidak. Jika gagal, waktu menjadi akan sia-sia dan akan merugikan banyak pihak.

Hara melamun sambil mengantuk di dalam Taxi. Driver telah memasuki gerbang Bandara Ahamad Yani.

Mereka bergegas masuk lobi Bandara. Danang segera bertanya kepada petugas, dimaklumi karena baru pertama akan naik pesawat seorang diri pula. Petugas mengarahkan untuk ceck in. Selesai ceck in,  mereka duduk di ruang tunggu. Bandara A Yani tidak terlalu ramai.

” Tetap semangat ya mas Danang, yakinkan niat pasti sukses”, hibur Hera menepuk punggung Danang.

” Iya semoga perjalanan lancar, dipertemukan dengan orang-orang yang baik”, tambah Esti.

” Selamat menjadi Rambo ya bung, tak gentar hadapi tantangan. Yakin saja semua baik, pesanku jangan tergoda cewek Dayak ya hahaha, bahaya “,  dengan penuh canda Waluyo menambahi nasehatnya. Mereka belum tahu bahwa cewek Dayak itu cantik-cantik. Entah apa bahayanya.

” Iya ya terimakasih teman-temanku yang baik untuk doa dan supportnya, Insya Allah aku baik-baik saja”, jawab Danang ada nada sedih di situ. Hera turut merasakan kepedihan yang dalam. Hatinya berkecamuk antara rasa kasihan dan rasa kesal kepada orang tuanya.

Perpisahan terakhir jelang boarding  ada peluk dan derai air mata dari Hera. Dua temannya ikut pilu menyaksikan. Mereka menguatkan hati Hera dan Danang. Danang pergi dengan sejuta harapan. Dia berpikir dalam hati jika ternyata kerjaannya bagus, dia akan kirimkan penghasilan pertamanya untuk Hera.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Berita Terkait