
KEMPALAN: Tidak lama becak pun sampai di daerah yang dituju. Becak berhenti di jl Percetakan Negara, mereka memotong melewati jalan pintas lewat pasar Genjing, sampailah mereka di sebuah bangunan besar luas yang berpagar tinggi dengan kawat-kawat berduri menghiasi pagar di empat sudut tembok. Di beberapa sudut berdiri menara untuk mengawasi kondisi penjara dilengkapi dengan pengeras suara.
“Ditunggu ya Pak ,” kata Ratmi. Tukang becak itupun memarkir becaknya di tepi jalan di dekat pohon.
Mereka berjalan menuju pintu utama. Di situ ada petugas yang mencatat para pembezuk. Ratmi mengantre untuk mendaftar pada petugas loket, lalu dicatat untuk menentukan jadwal pertemuan jam berapa. Lalu Ratmi menuju ruang tempat menyerahkan makanan yang akan dikirim untuk suaminya. Para pembezuk yang lain melakukan hal yang sama. Ruangan itu terletak di samping loket. Para petugas tidak jarang menggoda para ibu-ibu muda dengan bahasa orang dewasa yang kurang pantas. Hera mendengar dengan perasaan yang tidak senang. Meskipun dia tidak begitu paham yang mereka ucapkan tapi hatinya membaca ada nada pelecehan di sana.
Di antara para pembezuk ada beberapa yang berpendidikan, orang-orang pinter yang suaminya adalah mantan pejabat penting. Tapi para pegawai rendahan itu menggoda dengan bahasa yang sama. Meskipun Ratmi benci ucapan-ucapan mereka tapi demi ketemu suami dan juga membawa pertama kalinya anak yang sudah hampir 6 tahun tidak ketemu bapaknya, ia tidak pedulikan kata-kata yang penuh pelecehan itu. Ibu-ibu muda yang cantik dengan pakaian rapi menawan dan dandanan yang menarik demi ketemu suami atau ayah mereka memang menggiurkan bagi para penjaga penjara itu. Wajah para pembezuk cerah dan berseri walaupun dalam hati tidak tahu apa yang mereka rasakan.
Hera memakai baju bagus hasil jahitan ibunya, rambutnya dikepang dua. Tetapi mungkin berbeda dengan para pembezuk yang lain, Hera merasakan sesuatu yang lain. Hatinya sedih, gugup, gemetar, ingin tahu, semua campur aduk. Baru pertama kali ia mengunjungi tempat ini. Ingin sekali dia melihat wajah bapaknya. Terakhir bertemu adalah ketika dia baru berumur 3,5 tahunan. Ketika itu bapaknya sebentar dibebaskan tahun 68. Entah apa alasan pemerintah membebaskan Ngadiman, tapi lalu ditahan lagi.
Ngadiman ditangkap ketika pulang dari sebuah pertemuan organisasi buruh Internasional di Wina , Austria. Saat pulang dia tidak punya firasat akan bernasib buruk. Suasana masih serba tidak jelas. Angin berubah arah. Tetapi kabarnya beberapa tokoh penting di pemerintahan Soekarno atau tokoh yang mempunyai jabatan penting di partai terlarang banyak dicari atau tidak berani pulang. Ngadiman tiba di tanah air sekitar minggu terakhir bulan Oktober di lapangan terbang Kemayoran. Begitu keluar dari terminal sejumlah pasukan sudah menghadangnya. Beberapa saat diinterograsi lalu Ngadiman tidak tahu apa salahnya. Dia ikut organisasi resmi yang diakui pemerintah Soekarno. Sejak itu dia nggak pulang-pulang lagi hingga tahun 68an itu.
Ratmi bersama beberapa ibu-ibu muda sejak saat itu sering bertanya-tanya ke kodim menanyakan keberadaan suami mereka. Ratmi yang sedang hamil muda dan kadang menggendong Hera kecil yang masih berumur 4 bulan bolak-balik ke kantor tentara dengan naik becak untuk menanyakan keberadaan suaminya. Sampai akhirnya diketahui suaminya, Ngadiman, ditahan di penjara Salemba.
Tidak itu saja penderitaannya. Rumahnya yang di pinggir jalan raya dipaksa untuk diambil oleh aparat keamanan, barang-barang berharga termasuk mobil Fiat merah salah satu simbol kemewahan saat itu pun diambil paksa. Ratmi meminta tenggat 1 tahun karena sedang mengandung dan punya bayi. Penderitaan yang tidak pernah dibayangkan. Dia cuma ibu rumah tangga biasa. Tetapi harus menanggung beban seperti itu untuk suatu hal yang tidak ia ketahui. Suaminya tidak pernah diadili. Lalu setelah anak yang dikandungnya lahir dia harus terusir dari rumahnya sendiri. Ratmi mencari kontrakan pada rumah yang jauh lebih kecil dan sederhana di gang dalam tidak jauh dari rumah lamanya. Di sanalah akhirnya dia tinggal hingga kini.
*
Hera menunggu untuk bertemu dengan ayahnya. Ayah yang wajahnyapun ia agak lupa. Yang ia ingat di masa kecilnya ayahnya berkulit coklat tua. Ini kontras dengan kulit ibunya yang putih bersih. Hera mewarisi kulit bapaknya. Mereka tidak bisa langsung ketemu suami atau ayahnya. Mereka harus menunggu dulu karena banyak pembezuk yang datang. Lalu mereka menunggu di luar gedung di trotoar yang tengahnya ditanami tanaman hias yang berbunga kecil warna ungu. Mereka sering menyebutnya bunga Jakarta. Sekitar setengah jam mereka menunggu. Lalu petugas melalui pengeras suara memanggil nama keluarga yang mendapatkan giliran masuk.
Hera merasakan detak jantungnya makin cepat. Hera melihat kiri kanan dengan perasaan deg-degan. Ratmi menggandengnya memasuki ruangan berukuran persegi panjang kira- kira 3 x 5 m. Di ruang itu terdapat dingklik panjang dipepetkan tiap sisi tembok sehingga di tengahnya kosong, ibu mengambil posisi duduk pada dingklik yang menghadap ke arah pintu dimana tahanan akan masuk ke ruang itu. Semua keluarga pembezuk duduk dengan rapi.
Ruang itu dijaga oleh dua petugas bersenjata pistol dipinggangnya. Pemandangan yang membuat jantung Hera berdegup kencang. Wajah mereka juga kurang bersahabat. Tidak lama tibalah saatnya para tahanan keluar dari ruang tahanan dan masuk ruang itu. Ratmi menyambut suaminya dengan mengembangkan tangannya. Sejenak bapak mencium ibu lalu langsung menunduk jongkok mencium kening Hera.
“Ohh ini Heraku, anak bapak sudah besar, sudah mau gadis,” ucap bapak nampak sangat bahagia melihat anaknya lagi. Ingin ia memeluk dan memangkunya. Tapi Hera merasa kikuk dan risih selain banyak orang di situ. Sosok ayah yang dia bayangkan berbeda dengan apa yang ia lihat sekarang. Ngadiman, bapaknya nampak kurus, rahangnya jadi lebih menonjol, bajunya lusuh. Ada beberapa lubang bulat di kemejanya mirip bekas sundutan rokok. Ia ingat bapaknya bukan perokok.
Bapaknya mulai bertanya
“Sekolahmu bagaimana nduk?”
“Kelas lima.”
“Bagaimana rapotmu? Ada merahnya?” Pancing Ngadiman lagi sambil memgang jari anaknya.
“Nggak..”
“Juara berapa?”
Hera hanya menunjukkan dua telunjuk jarinya.
“Wah pinter ya anak bapak,” Ngadiman mulai tidak bisa menyembunyikan air mata bahagianya dengan merangkul anaknya itu.
Ratmi yang melihat pembicaraan bapak dan anak itupun tak kuasa menahan air matanya. Hera mulai merasa sedikit ada perasaan dekat dengan bapaknya.
“Kalau pelajaran, apa yang Hera sukai?”
“Hmm.. aku suka mengarang,” jawab Hera agak panjang.
“Wow ..hebat!! Nanti bisa seperti om….,” Ngadiman mau menyebut nama Pramoedya tapi ingat nama itu sangat tidak disukai pemerintah Orde Baru. Tentara yang berdiri di sudut ruangan adalah mata-mata pemerintah, mereka sumber informasi yang dipasang di penjara. Ya Ngadiman satu penjara dengan Pramoedya. Dia sering melihat Pram mengetik naskah cerita di dalam penjara. Namun belakangan dia nggak melihat lagi Pramoedya. Kabarnya Pram sudah dipindahkan ke Pulau Buru bersama beberapa tahanan yang lain. Ngadiman pun sudah was-was menunggu giliran kalau dia di-Buru-kan.
Hati Hera berubah menjadi senang. “Benar kata simbah. Bapak itu orangnya perhatian dan penuh kasih sayang,” batin Hera kecil. Sepanjang pertemuan itu tangan Ngadiman tidak lepas mengelus membelai rambut Hera. Rambut tebal berkepang dua dengan hiasan pita merah membuat Ngadiman begitu bahagia. Apalagi Hera pakai anting ago-go bulat merah mengkilat yang membuatnya makin lucu dan manis.
“anak bapak cantik ya..,” Ngadiman memganganti-anting yang menggantung di kedua telinga anaknya itu. Hera makin kerasan di sisi bapaknya.
“Jam pertemuan telah selesai,” kata petugas tiba-tiba seperti membentak. Hera kaget. Ibunya hanya menyaksikan pertemuan keduanya. Tidak banyak bicara.
Selama pertemuan dua petugas berdiri seperti patung tapi menguping pembicaraan para keluarga pembezuk. Hera merasa mata petugas itu menatapnya tajam. Hera kecil balas menatap dengan ketidaksukaan akan sikap itu. Hera merasa belum puas dengan pertemuan itu. Justru di saat hatinya mulai cair dan behagia berada di dekat bapaknya.
Kembali petugas berkata keras
“Waktu pertemuan telah habis !”
Mereka pun saling berpelukan . Air mata mengalir deras di antara ketiganya.
Mereka, Ratmi dan anaknya meninggalkan ruangan itu setelah mengambil rantang yang tadi dibawanya.
“Aku usahakan bapak nggak dipindah ke Pualu Buru,” bisik Ratmi di telinga Ngadiman sebelum pergi. Ngadiman mengangguk. Dia bangga kepada istrinya yang tetap setia mengunjunginya hampir tiap minggu sejak tahun 65. Sudah hampir 9 tahun diselingi kepulangan Ngadiman pada tahun 68. Saat pulang itu pun mereka mendapatkan buah hatinya yang ke 5. Lagi-lagi Ratmi harus mengurus anak-anaknya sendiri saat masa sulit. Banyak tahanan lain yang sudah tidak pernah dikunjungi keluarga, istri atau anak. Beberapa ditinggal kawin karena tidak kuat menahan penderitaan. Ratmi tetap setia meskipun beberapa orang mengajaknya nikah. Tapi rasa tanggungjawab dan kesetiaan cintanya mengalahkan iming-iming mendapatkan hidup yang lebih baik.
Ratmi makin rajin menekuni pekerjaan menjahit. Dari sana dia bisa menghidupi anak-anaknya walaupun dalam keterbatasan. Hera mulai paham kenapa dia dikirim ke desa. Ibunya harus membesarkan beberapa anak dan tidak cukup untuk hidup layak di tengah masa sulit itu di ibukota. Tapi Hera belum tahu kenapa bapaknya ditahan.
Ratmi punya saudara agak jauh yang jadi tentara dengan pangkat rendahan. Saudaranya ini dulu ke Jakarta karena dibawa Ngadiman. Beruntung saudaranya itu jadi sopir seorang jenderal berpengaruh. Dalam beberapa kesempatan Ratmi menghubunginya
“Tolong ya Masmu jangan sampai dipindah ke pulau Buru.”
“Aku usahakan mbakkyu,”jawab si prajurit itu.
Dalam perjalanan pulang Hera masih menyimpan beberapa pertanyaan.
“Bu kenapa baju bapak bolong-bolong?”
“Emm…Oh ya minggu depan akan ibu bawakan baju yang bagus buat ganti,” jawab Ratmi agak bingung. Ibunya tidak menjawab kenapa. Sehingga Hera tidak mendapat jawaban yang ia harapkan.
Lalu Ratmi berusaha untuk mengajak Hera mampir ke warung makan. Tapi Hera cuma menggeleng. Hera merasa masih ada yang disembunyikan atau tidak jelas kenapa bapaknya bajunya bolong-bolong dan mengapa bapaknya hidup di penjara. Ratmi mungkin tahu Hera dicekam kesedihan yang mendalam sehingga tidak bernafsu makan dan tak ingin mampir-mampir.
Sesampai di rumah Hera langsung masuk kamar. Hera pendam teka-teki yang berkecamuk di dalam hati. Ia tidak berani lagi bertanya kepada ibu atau simbah tentang kenapa bapak berada di tempat itu. Katanya sentra kerajinan, tapi ternyata tempat yang menakutkan. Dia akan cari sendiri jawabnya. Dia sekarang paham kenapa simbahnya nggak suka setiap kali ada yang bertanya ‘iki anake sapa?’ . Ya pasti simbahnya tidak ingin orang-orang tahu bahwa Hera adalah anak malang yang orang tuanya ternyata seorang tahanan. Apalagi masyrarakat sering tidak bisa memisahkan seseorang ditahan karena apa, dan Hera tidak tahu apa-apa. Dia cuma seorang anak yang tidak beruntung.
Rasanya ia ingin segera pulang ke kampung, melihat sawah hijau, mandi di sungai, mendengar kicau burung dan kokok ayam di rumah mbah atau mbokdenya. Dia membayangkan jambu depan rumah pasti sudah ranum. Ingin segera ia memanjatnya sepulang dari Jakarta. Ia ingin segera lotisan dengan mbak Nik anak mbokdenya. Liburan yang dia tunggu-tunggu ternyata berakhir sedih, tidak seperti harapannya. Hera berkata dalam hati untuk tidak akan liburan lagi ke Jakarta entah sampai kapan. Lebih baik dia di kampung menikmati masa remajanya dalam damai meski hidup dalam kesederhanaan. Catatan: lotisan bahasa Jawa Klaten, artinya rujakan. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi