
KEMPALAN: Di setiap pertemuan dengan Hera, Agung tidak lupa mengingatkan agar Hera tekun belajar untuk persiapan mengikuti ujian masuk Perguruan tinggi negeri jalur Sipenmaru mengambil program S1. Hera mengiyakan. Terlepas dari nasehat Agung, Hera sendiripun menginginkan hal yamg sama. Dia ingin kuliah program S1, selain Hera merasa belum siap jadi guru, tapi ada alasan yang lebih utama yaitu agar tidak disarankan oleh orang tuanya untuk segera berumah tangga. Mungkin begitu juga motivasi Agung, agar Hera sekolah sambil memunggu kepulangannya. Lima tahun mendatang. Ya Agung bilang akan kuliah di US sekitar 5 tahunan.
“Kamu sebaiknya tes lagi Sipenmaru. Kemampuanmu lebih tinggi dari sekedar D2. Harus ambil S1”
“Hmm aku juga mikir gitu. Dulu kan kondisinya asal kuliah dulu saja. Cita-citaku kan mau jadi guru.”
“Setelah ketemu aku jadi berubah kan?”
“Ah nggak gitu juga.”
“Kalau aku lulus, pulang kamu pas lulus juga, bisa kulamar.”
“Berani apa?”
“Loh kalau perlu sebelum berangkat aku bisa lamar.”
“Nggak semudah itu. Perlu pertimbangan keluarga.”
“Yang mau njalani kan kita?”
“Kenyataannya perkawinan lebih rumit dari yang kita bayangkan.”
“Lho bisa juga kita bikin simpel. Kan tergantung kita.”
“Kamu bisa ngomong gitu sekarang. Tapi pas kita seriusi pasti ada campur tangan keluarga.”
Mereka asik ngobrol di atas bis kota.
“Eh ingat nggak dulu kalau aku ke rumahmu di desa?”
“Iya kenapa?’
“Aku harus melewati dua tempat yang serem. Ada desa yang satu kampung itu nggak ada penghuninya. Cuma pohon-pohonan dan rumah lama yang ditinggal penduduknya. Katanya di situ jadi rumah hantu.”
“oo itu…”, sahut Hera. Ya daerah itu dekat rumah Danang. Hera jadi ingat lagi.
“Ada lagi, dekat desamu. Ada tanah seperti pegunungan yang sepi. Biasanya orang takut lewat situ.”
“Iya tiap pagi kan kita lewat daerah itu. Kamu tarik tanganku naik sepeda, sementara kamu naik motor merahmu yang butut itu.”
“Haha…aku pura-pura perbaiki busi..sambil nunggu kamu lewat.”
“Modusnya hebat ya…”
“Eh tapi di rumahmu diawasi terus sama simbahmu itu. Sepertinya dia nggak suka sama aku ya?”
“Iya..kamu dianggap gembleleng, sok pinter..”
“Loh kan memang pinter?” canda Agung sambil megang rambutnya Hera.
“Iya…tapi simbah suka cowok yang lembah manah, sopan gitu,” sekarang Hera megang jemari tangan Agung.
“oh gitu ya. Kayak Danang ya?”
“Ya maunya pinter kayak kamu tapi yang rendah hati kayak Danang.”
“Wow…jadi aku harus berubah ya?”
“Ya dikurangi dikit soknya…”
“Simbahmu susah amat kalau aku mau ngajak keluar ya.”
“Ya cucu kesayangan, takut ada apa-apa.”
“Apa aku ada tampang bandel?”
“Simbah lebih paham tanda-tanda dari laki-laki..”
Sejenak suasana diam. Bis kota masih melaju. Agung berpikir untuk bicara serius.
“Oke…Jadi kamu mau menunggu aku lima tahun?”
“Ya maulah demi orang yang dicintai.,.” ucap Hera penuh kesadaran.
“Coba kamu ulang lagi..,” pinta Agung dengan mendekatkan kupingnya ke muka Hera.
“Hmm cukup nggak ada ulangan…,” sahut Hera tersipu.
Tidak masalah bagi Hera menunggu , masing-masing lulus kuliah dulu. Usia 25 tahun jelang 26 tahun adalah waktu yang pas untuk menikah. Dalam hati Hera berjanji akan menunggunya, jika tidak ada aral melintang.
“ Apa nggak mungkin ya kita nikah di tengah-tengah itu?” tantang Agung.
“Aku sih nurut saja,” Hera menimpali.
“Kalau bisa aku diajak ke sana bagus juga,” lanjut Hera.
“Kamu mau?”
“Ya kan pernah aku bilang.”
Hera membayangkan hidup di AS akan lebih beradab, lebih baik ekonominya, serba tertib, lebih modern lebih toleran dan menghargai perbedaan. Hera akan mengucapkan selamat tinggal atau setidaknya bisa meninggalkan stigma menyebalkan yang melekat selama ini di negaranya. Predikat baru yang akan disandangnya kelak, tentu akan lebih keren paling tidak bisa menjadi Diaspora.
Hera tersenyum dalam hati membayangkan Agung. Ibarat sebuah produk sampai dengan saat ini Agunglah yang paling memenuhi spesifikasi, yang diharap dan dibutuhkan seorang Hera. Bagi yang bukan berstatus seperti Hera mungkin memilih yang lain akan gampang . Seperti orang memilih mobil jika tinggal di pegunungan yang medannya terjal, pasti akan memilih mobil diesel 4 tack 4×4.
Hera mencoba realistis memandang cinta dengan logika walaupun hati juga dilibatkan.
Suatu malam habis jalan Agung maksa ngantar Hera ke rumah.
“Boleh aku mampir?”
“Walah nggak usah. Besok kamu kesiangan.”
“Loh besok kan Sabtu, cuma setengah hari trainingnya. Aku bisa tidur pulang dari training.
“Ya wislah..ayo.,” Hera menyerah.
Berjalan mereka sebentar. Sampai di teras rumah sudah ada motor parkir. Iya itu mas Raharjo. Memang tiap malam nongkrong. Tapi Raharjo orang yang matang, semenjak Hera bilang tidak, dia tetap main, seperti saudara. Raharjo sedang main gitar.
“Lho kok sampai malam Dik?” sapa Raharjo ramah.
“Iya biasa jalan sama Agung.”
“Lho katanya mau diajari main gitar lagu Vision?”
“Iya boleh mas,” jawab Hera santai.
Hera segera belajar kord yang sebenarnya sederhana. Kord-kord dasar..nggak pakai nada minir.
Agung merasa dianggurkan. Nampak mukanya kecut sedikit tegang. Sementara Hera menikmati kord-kord yang baru diajarkan Raharjo. Fokusnya mengepaskan antara syair dan kord yang harus dipencet.
“Hero wonten bu ?? “ tanya Agung kepada bu Ratmi, ibu Hera.
“Ada di atas. Biar ibu bel supaya turun.”
Tidak lama Hero turun
“Yuk naik..,” ajak Hero ke Agung.
“Main catur yuk? Atau mau baca buku.”
“Hmmm nggak. Aku butuh kertas,”jawab Agung tanpa riang.
Agung menulis surat, nampak serius dan tegang. Hero nggak berani mengajak ngobrol. Lalu surat dititip ke Hero.
Agung tidak lama di situ. Dia merasa sumpek. Tidak kuat hatinya melihat Hera akrab dengan Raharjo.
“Nah ini mencetnya harus keras, biar senar bisa bergema kalau digenjreng, nggak mati…”
“Wah susah ya..”
“Nggak…masalah kebiasaan saja. Nah perpindahan dari satu kord ke kord lain harus pas..Di situlah dibutuhkan kecepatan dan ketepatan.”
“Oo okey kata-kata yang harmonis, kecepatan dan ketepatan. Jadi ingat cepat tepat jaman SD mas..”
“Haha mirip..tapi cepat tepat itu perpaduan antara otak dan mulut. Kalau gitar antara hati dan jari.”
“Tapi kalau pas babak perebutan ada juga peran jari mencet tombol..”, Hera nggak mau kalah.
“Oo ya bener-bener..”
Agung segara minta pamit, dia makin tidak tahan. Hera melepasnya dengan santai. Hera berpikir semua baik-baik saja.
“Mbak ini titipan dari Agung…” kata Hero setelah Hera selesai belajar gitar.
Hera segera masuk. Kertas dari Agung segera dia baca.
“Kamu ternyata sengaja melarang aku mampir ke rumah karena kamu mau berakrab-akrab dengan Raharjo. Pantes. Bilang saja kalau kamu mendua. Nggak usah sok peduli takut aku kesiangan besoknya.”
Hera sakit hati dengan tulisan Agung yang menuduh itu. Dia tidak mau lagi saling jemput. Itu berlalu sampai beberapa hari. Agung panik karena Hera tidak ada di rumah ketika dia mencarinya. Agung nggak menduga Hera sekeras itu. Hera sengaja menginap di rumah mbak Ninik sepupunya di Halim. Ya mbak Ninik ini anaknya simbok di desa yang jualan karak. Ketika Hera ke desa justru mbak Ninik ke kota.
Agung meminta sepupunya Jono menghubungi Hera. Jono mencari Hera. Jono yang kampusnya di Rawamangun, berusaha mencari tahu jam kuliah Hera. Tidak sulit bagi dia karena ruang kuliah program diploma berada di SMA Lab school setelah jam sekolah SMA selesai. Saat itu Jono menunggu sampai Hera keluar. Sambil senyum-senyum dia membuntuti.
“Her…ayo mampir ke kostku..”
“Ngapain..males..”
“Ada surat untukmu ..”
Hera akhirnya mampir ke kost Jono dan di sana ketemu Agung. Agung menyampaikan permintaan maaf. Agung menyampaikan penyesalannya telah menulis kata-kata kasar ke Hera. Akhirnya Hera memaafkannya. Sebenarnya bukan semata-mata permintaan maaf Agung tapi Hera justru berpikir kalau psikologis Agung terganggu karena masalah ini. Hera tidak mau Agung gagal karena dia.
Hera makin matang sejak kegagalan hubunganya dengan Danang. Bagi dia cinta harus membantu, cinta harus memberi semangat, tidak boleh egois, tidak boleh menyakiti.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi