
KEMPALAN: Dengan hati sedih dan airmata berlinang, Hera mulai membenahi pakaian dan peralatan yang akan dibawa ke Semarang. Supaya ngirit, tidak harus membeli, Hera membawa juga satu set peralatan makan, piring, sendok garpu,cangkir, gelas, dan mangkok. Hera sedih karena akan meninggalkan adiknya yang bontot ragil cowok berumur 4,5 tahun, wajahnya cakep putih, bulu matanya lentik, Toni. Toni lahir setelah bapaknya Hera,Pak Ngadiman, keluar dari penjara. Ia adalah adik kesayangan kakak-kakaknya. Hera merasa sangat dekat dengan adik yang ragil ini, meskipun cengeng tapi lucu dan pinter ngomong walaupun cadel. Juga adik ceweknya yang baru masuk SMA, Tika. Hera merasa kasihan padanya. Pasti pekerjaan rumahnya akan menumpuk, nyuci pakaian orang serumah, setrika, nyapu ngepel. Begitu juga Bu Ratmi, biasanya urusan dapur tugasnya Hera, masak sehari bisa dua kali untuk banyak orang.
Bu Ratmi pasti akan sangat repot jarena selain menjahit, ia harus mengajar kursus jahit di rumah dan di dua tempat kursus di Cililitan dan Mampang. Murid jahitnya lumayan banyak. Kalau mengingat itu sebenarnya Hera merasa kasihan. Ibu Hera harus naik turun bis saat mengajar jahit. Pernah suatu ketika Hera pulang dari kampus IKIP melihat ibu dari arah berlawanan akan menyebrang ke halte dimana Hera turun dari bis, dan Hera akan menyeberang ke arah ibunya. Hera bergegas menyeberang untuk menjemput ibunya, tapi ibunya keburu menyebrang sehingga ketemu ditengah-tengah, lalu Hera kembali ke arah halte dimana Hera tadi turun. Ia menemani ibu menunggu bis jurusan Cililitan.
“Hera, tadi ada tamunya bapak lho nduk,” pesan Bu Ratmi.
“Kalau masih ada nanti ditawari makan, kasihan pasti lapar,” lanjut Ibu Hera.
Hera lalu mampir warung beli telor tiga butir dan kecap sasetan untuk bikin sambel. Sampai di rumah Hera lihat teman bapaknya masih ada. Ia memasak makanan untuk para tamu. Mereka masih berbincang bertiga.
“Si Anang itu sekarang sakit,” kata seseorang dari mereka.
“Wah kasihan ya. Sudah habis ditahan 15 tahun pulang-pulang sakit. Ada yang ditolak istrinya.”
“Pak Ngadiman ini beruntung,masih ditunggui istri yang setia, cantik pula,” yang satu menyahut lagi.
“Karena ada teman kita ditolak oleh keluarganya yang takut akan status bekas tahanan dan juga pengangguran.”
Lalu mereka tertawa meskipun dengan perasaan pahit.
“Ada juga si Tarman itu gantung diri,” yang tadi bercerita menyambung. Bapak Hera menghibur supaya teman-temannya sabar.Ya bapak Hera sendiri lebih banyak sakit setelah pulang dari tahanan. Tidak bisa banyak membantu menyumbang keuangan untuk rumah tangga. Tetapi beruntung istrinya sangat baik menerimanya meskipun kondisi sakit-sakitan .
Hera sedih sekali mendengar pembicaraan orang-orang mambu itu. Melihat fisiknya yang kurus dan nampak lebih tua dari umurnya, Hera makin nelangsa. Hera selesai menyiapkan makanan.
“Bapak makanan sudah siap,” Hera memberi kode untuk bapaknya untuk mengajak teman-temannya makan.
Hera masuk ke kamar. Dalam hati Hera bertanya dan berharap, kapan jaman akan berubah dan mereka menjadi manusia seutuhnya, menjadi manusia yang memiliki harkat dan martabat. Hera tersentak dari lamunannya, ketika adiknya, Tika, bertanya.
“Mbak, emang benar mbak akan pindah kuliah ke Semarang?”
“Iyaa Tika….,” Jawab Hera sambil tersedu.
“Mbak nggak kasihan sama saya dan ibu ya?”
Makin teriris hati Hera mendengar kata-kata adik perempuannya itu.
“Ya tentu mbak kasihan, kamu dan ibu yang paling berat aku tinggalkan. Pekerjaannya banyak.”
“Bukan masalah pekerjaan. Apa mbak belum puas hidup senang dengan simbah di Jawa? Belum ada dua tahun tinggal bersama kami di Jakarta, mbak sudah tidak betah.”
Hera semakin berderai- derai airmatanya.
Ingin memeluk adiknya, tapi diurungkan, karena Hera sadar adiknya sedang kesal dan marah. Terbesit dalam pikiran Hera, mungkin ibunya tidak setuju Hera pergi, karena ibunya kasihan kepada Tika. Dengan adanya Hera pekerjaan rumah bisa terbagi.
“Bukan begitu Tika, mbak kan cita-citanya mau sekolah S1, susah-susah mbak mengerjajan soal ujian dan sudah diterima, masak mau dibatalkan. Tahun depan mbak sudah tidak bisa lagi untuk ikut seleksi masuk PTN,” kata Hera menjelaskan.
“Enak ya jadi mbak, bebas menentukan pilihan mau kemana, yang aku heran nih, kenapa sih mbak tinggalkan IKIP ? Yang masa depannya sudah jelas, jadi guru, kerja nggak usah nyari, pemerintah mau menempatkan di SMP-SMP Negeri, langsung jadi PNS.”
Pikiran adiknya memang logis. Hati Hera makin tersayat, hal itulah yang membuat dia stress. Berbakti pada ibunya hanya kurang dari dua tahun saja sudah tidak betah, padahal bukan karena itu. Sangat sulit untuk dijelaskan kepada adiknya dan juga kepada kekuarganya. Di dalam hati Hera berkata, ‘Suatu saat nanti aku akan membahagiakan kalian semua, ibu bapakku dan keluargaku.’
Hera ingin menjadi kebanggaan mereka. Hera berjanji akan berjuang keras untuk mewujudkannya. Entah dengan cara bagaimana tapi Hera yakin bisa melakukan itu.
“Benar Tika, tapi maafkan mbak ya. Terpaksa mbak memilih cara mbak sendiri, mungkin ini dianggap ibu dan kamu suatu pilihan yang bodoh, tega ,” kata Hera dengan suara berat dan parau.
” Ya bodohlah mbak, emang kita orang kaya apa. Kemarin ibu marah-marah saat lihat nilai rapotku jeblok, biasa rangking 5 besar sekarang rangking 5 dari bawah. Tahu nggak mbak kenapa?
“Iya kenapa?Banyak pikiran?” tanya Hera makin merasa bersalah.
“Aku sudah gak bisa baca tulisan di papan tulis,” kata Tika.
Hera kaget.
” Emang kenapa? Ada masalah dengan mata? Mintalah duduk di bangku paling depan dik kalau tidak bisa baca, ” jawab Hera.
” Persis kata ibu begitu. Tapi itu bukan solusi, kemarin sudah periksa mata di puskesmas, hasilnya mataku sudah minus 4,5 dan cylinder. Ibu lagi cari utangan untuk membelikan kaca mata.Nggak enak minta kakak- kakak. Kemarin mereka sudah patungan bayar uang pangkal masuk SMA.”
Hera makin tersudut dengan perkataan adiknya.
“Lihat aja nanti lulus SMA, paling aku ngga bakal aku dikuliahkan, pasti disuruh kerja!” kata Tika kesel.
“Nanti mbak yang akan biayai sekolahmu dik,” Hera menjawab sekenanya.
“Halah, aku lulus SMA dua tahun lagi. Mbak pasti belum lulus kuliah,”sahut Tika sambil berlalu meninggalkan Hera.
Hera tertelungkup menangis memeluk travel bag yang penuh berisi pakaian dan perlengkapannya. Dia sangat kasihan kepada adiknya. Kepalanya makin pening, apakah harus dibatalkan? Undip tidak jadi diambil? Dia lalu beranjak ke belakang membuka pintu dapur samping yang menyambung ke rumah pakdenya. Pakde sudah duda, bude meninggal belum lama, meninggalkan 8 anak. Mbak Sri anak pertama sudah menikah suaminya sukses. Dialah yang menopang sekolah adik-adik. Yang menjadi pengganti ibunya tempat curhat adik-adiknya yang masih satu rumah dengan 7 anak , 5 laki-laki dan 2 perempuan. Ibu Hera seperti memiliki empat belas anak,anaknya sendiri dan anak kakaknya. Remaja semua, semego. Sedang kuat-kuatnya makan.
“Mas Gatot..,” kata Hera menghampiri Gatot yang sedang menggambar teknik.
“Ada apa Her…kok wajahmu sedih banget. Bukannya kamu harusnya senang? ” kata Gatot yang dulu sempat nderek simbah tiga tahun saat SMP di desa. Mas Gatot ini paling rajin nyapu latar halaman simbah yang luas tiap sore, kalau libur sekolah bahkan dua kali menyapu. Badanya menjadi pendek bantet,mungkin kebanyakan nyapu.
“Aku bingung mas, mumet. Apa aku nggak usah ambil aja ya yang Undip. Ibu keberatan aku tinggalkan IKIP.”
” Wah lha piye, kok jadi ragu-ragu, lha kalau ngggak diambil ngapain repot-repot, susah-susah ikut ujian?” tanya mas Gatot lagi.
” Iya ya ..Aku menjadi anak yang tidak berbakti kalau aku ambil Undip.”
“Yo nggaklah masak ukuran tidak berbakti cuma sesederhana itu.” Hera agak tenang hatinya. Pendapat Gatot membuka pikirannya kembali. Inilah pentingnya pandangan dan saran orang lain di saat pikiran sedang kacau.
“Kamu yakin tidak menyesal apabila Undip tidak diambil?” tanya mas Gatot lagi.
Wah pertanyaan yang sulit, batin Hera.
” Nggak tahu mas, mungkin menyesal bahkan sangat menyesal,” jawab Hera.
” Ya udah yakin aja, mantabkan hati. Semarang kan nggak jauh, tiap dua bulan atau tiap ada tanggal merah beruntun, bisa pulang ke Jakarta naik kereta tidak sejauh ke Solo.”
Hati Hera senang dan sedikit terhibur.
” Untuk mencapai cita-cita itu perlu perjuangan Her, harus kuat menghadapi segala rintangan, Tidakberarti kau menentang orang tua,” katanya lagi.
” Yowis aku mantabkan ambil Undip ya,” kata Hera dengan mata berbinar.
Malam hari saat Ibunya Hera sudah agak santai, Hera mendekat.
“Buk besok Hera mau berangkat ke Semarang.”
Ibunya diam. Hera masih menunggu.
“Kamu mau naik apa?”
“Naik bis,” jawab Hera. Hera tidak mau naik kereta. Naik bis akan mudah mencapai kampusnya. Hera harus daftar ulang ke kampus lanjut cari- cari kost . Dia yakin nanti pasti akan ketemu teman senasib.
” Sudah siap tiketnya? ” lanjut ibunya Hera.
” Belum buk, duwitnya kurang. Hmmm… ibu mintakan dong ke mas Eko atau mas Edi, untuk sekali jalan saja sampai rumah simbah, ” kata Hera memohon.
Lalu ibunya beranjak menyampaikan ke anak laki-lakinya untuk sekedar ongkos Hera ke Semarang. Sebenarnya merekapun keberatan dengan keputusan Hera.
“Bantu adikmu mau beli tiket ke Semarang. Kasihan belum punya tiket.”
Keduanya pun menyisihkan uang untuk membantu Hera. Hera sedikit lega mendapat uang untuk beli tiket walau jumlah uang itu sangat ngepas. Hera lagi- lagi meminta adiknya Hero sebagai andalannya, untuk membelikan tiket bis ke Terminal Pulo Gadung. Pulang sekolah Hero yang sudah kelas 4 di STM Pembangunan, mampir ke agen bis membelikan tiket bis jurusan Semarang.
Sorenya, selepas Ashar, Hera berpamitan kepada semuanya yang ada di rumah. Adiknya yang paling bontot Toni menangis tidak membolehkan mbaknya pergi. Hera memeluknya,
“Mba Hera sebentar saja kok perginya. Jangan nakal ya.”.
Hera berangkat dengan berat hati. Keluarganya pun sama beratnya melepas Hera.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi