Senin, 27 April 2026, pukul : 22:29 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: “Ma, kenapa mama mau sama bapak?” tanya anak cewek Hera serius dan ada nada protes di sana.

Hera kaget dengan pertanyaan semacam itu. Darimana sampai keluar pemikiran seperti itu.

Hera menjawab singkat.

“Kalau bukan sama bapakmu kalian nggak lahir.” Begitu Hera menjawab  dengan nada datar. Hera mulai merasakan anak-anaknya mencium ketidakseimbangan keluarga ini, Hera dan suaminya.

Ya anak-anaknya, karena Hera sempat membaca di diary anak cowoknya ketika bersih-bersih kamarnya.

“Seandainya bapakku lebih cerdas dan sigap..”

Perasaan Hera campur aduk antara sedih tapi juga maklum. Sedih karena anak-anak itu begitu underestimate terhadap bapaknya. Mereka tidak tahu sejarah besar yang melapangkan jalan perkawinan itu. Maklum karena dia merasa bekerja jauh lebih berat untuk menjalankan rumah tangga itu menuju rumah tangga yang nyaman buat anak-anak dan juga buat mereka berdua, dibanding suaminya.

Anak-anak pasti tidak puas dengan jawaban yang  singkat dan tidak mencerahkan itu.

Ingatan Hera kembali melayang ke masa kecil, masa remaja, dan masa sesudah kuliah dan lulus. Hidupnya cukup berwarna. Dan dalam beberapa hal banyak rahasia yang dia juga baru paham di saat-saat dewasa. Banyak.misteri soal orangtuanya yang justru dia tahu dari orang lain.

Hera memang perempuan yang tangguh, lincah, manis meski kulitnya coklat.

Hera harus bercerita lebih jujur, lebih banyak pada anak-anaknya.Bahwa nanti anak-anaknya belum puas atau protes itulah kenyataannya. Itulah takdir yang sudah dipilih. Hera juga tidak berani memastikan akan punya takdir lebih baik jika misalnya kawin dengan lelaki lain. Dalam keterbatasan itu dia lebih suka menikmati apa yang dia terima dan jalani.

*

Ketika kecil, SD kelas 3 orangtuanya mengirim dia ke desa, ke rumah neneknya untuk sebuah alasan yang dia sendiri tidak paham. Yang dia ingat dia punya adik yang hampir seumuran dan punya dua kakak. Bapaknya kerja, tapi nggak pernah pulang. Hanya sekali-sekali ada kiriman barang dari bapaknya. Ibunya jadi tukang jahit untuk menghidupi keluarga. Dia dan kakak pertamanya harus hidup di kampung. Kebiasaan yang ia jalani di Jakarta selama ini berubah total. Dia jalan kaki ke sekolah. Mandi di sumur atau di sungai pinggir desa. Di sekolah teman dan gurunya bicara bahasa Jawa. Dia nggak paham. Dia jelas shock. Tapi dia merasakan kasih sayang dari kakek neneknya dan juga budhenya. Juga teman-temannya melihat dia seperti artis cilik yang lebih berani dan maju.

Perlahan Hera jadi orang desa, hidup seperti anak desa. Ke sekolah jalan kaki, nyeker tanpa sepatu. Mandi di sungai jadi hiburan yang menyenangkan, ikut-ikutan nyari belut di sawah. Kadang mandi di belik, mata air kecil, diintipi teman-teman lelakinya, juga mruput jambu atau mangga di kebun tetangga jika pagi tiba. Manjat jambu depan rumah  atau dhuwet di sarean lalu anak-anak cowok nginjen celananya dari bawah. Semua ternyata menyenangkan. Belum tentu itu akan dia temui jika tinggal bersama ibunya di Jakarta.

Dia anggap budhenya sebagai mboknya. Hidup seperti normal saja. Kakaknya pun sepertinya tidak bermasalah.

Hera tumbuh dengan beragam cerita. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.