Rabu, 29 April 2026, pukul : 01:23 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Selesai dari toko buku dan Perpustakaan Nasional, Mereka berpisah. Larso lanjut ke stasiun Gambir. Hera pulang naik Bajaj ke UK,  Utan Kayu. Sebenarnya Hera  ingin sekalian ke Gambir untuk pesan tiket ke Semarang  pemberangkatan dua hari kemudian. Tapi Hera sedang malas dan dalam kondisi tidak semangat. Hera ingin cepat pulang nyambel dan makan dengan ikan asin alias gereh. Siang itu dengan Larso dia hanya minum es buah saja tidak mau makan.

Hera bercerita pada ibunya bahwa dia akan balik dua hari lagi, dan minta tolong sampaikan ke mas Edi,  untuk minta sumbangan uang semesteran. Ini adalah saat-saat tersedih bagi Hera meminta sumbangan uang kuliah. Sementara kakaknya tidak kuliah, justru kerja keras untuk biaya sekolah adiknya, yang seharusnya sudah selesai, dan bekerja menjadi guru.

” Buk, aku sedih tiap mau nembung minta uang semesteran ke mas Edi, rasanya gak sampai hati. Sudah tiap bulan ngirimi uang, masih dimintai pula uang SPP, ibu saja ya yang bilang,” kata Hera sangat memelas.

“Iya nanti ibu yang bilang,  kamu juga sih keras kepala jane rak wis dadi guru..sudah terima gaji,” kata ibu Hera sedikit menyentil keegoisan Hera.

“Emang ibu yakin Hera bisa lolos mulus jadi guru? Ada tahapan non teknis yang harus dilalui bu, seperti screening itu wajib ada, dengan macam- macam pertanyaan. Juga harus ada surat sampul D yang isinya pernyataan dari aparat keamanan bahwa Hera bersih lingkungan bukan anakke wong mambu. Profesi Guru itu penting sebagai pendidik karena dianggap dapat mempengaruhi banyak orang. Jadi dianggap berbahaya jika tidak bersih lingkungan. Selain guru, profesi yang tidak boleh dipegang anake wong mambu adalah Dalang, ABRI, Wartawan, Pegawai BUMN dan sektor penting lainya,” Hera menjelaskan kepada ibunya anjang lebar.

“Waduuh kok sebegitunya pemerintah menganak tirikan rakyatnya sendiri. Lha kalau ada anak pinter kok nggak boleh jadi guru, nggak boleh jadi ABRI. Misal sudah sekolah tinggi, biayanya direwangi jual sawah terus jadi Insinyur, lalu pingin kerja di PLN  atau Pertamina, apa gak boleh juga?” Ibu Hera bertanya dengan dahi mengkerut,  heran tidak percaya dengan apa yang disampaikan Hera.

“Iya boleh bu cuma daftar saja, lalu tes, dua tahap itu mungkin lulus. Tapi tahap selanjutnya screening, wawancara, belum tentu lolos sekalipun nilainya tinggi, ujungnya manyakitkan,” kata Hera seperti nasibnya ujung-ujungnya broken heart. Bapak Hera yang dari tadi mendengarkan sambil duduk di sofa, lalu beranjak pelan masuk kamar. Hatinya sedih seperti tersayat sembilu.

“Kok kita ini jadi seperti keranjang sampah ya nduk, berita sing elek-elek mesti sing dituduh wong koyo ngene. Kok kuwalik yo sing disiksa lan dipateni sapa, sing dituduh sapa, lha wong jalan aja susah kurus kering penyakitan, masih dituduh mendalangi macam-macam. Tapi herannya rakyat kok ya percaya, ” keluh ibu Hera.

“Itulah tragedi bangsa ini buk. Rakyatnya banyak yang bodoh, yang pinter sudah dibunuhi dan disiksa supaya tidak macem- macem,  yang hidup dibikin sakit akibat siksaan biar nggak bisa aktifitas kemana-mana. Yang lain pada takut bicara,”  jelas Hera mangkel.

“Lha nek gitu yang kejam siapa ? ”

“Yang kejam Jimo Belong bu,” kata Hera tersenyum kecut,  tanpa bercerita kenapa. Ibu Hera tidak tahu kisah anak gadisnya diputus cintanya akibat perannya Jimo Belong. Ibu Hera juga tidak tahu bahwa hati anaknya sedang terluka perih diputus cintanya oleh Agung tumpuan harapannya, dengan alasan yang sama. Hera tidak ingin orang tuanya nelangsa sedih merasa bersalah dan merasa hina. Hera juga adik-adiknya bersumpah kelak akan mengangkat martabat dan derajat orang tuanya.

“Kok crita Jimo memang kenapa? Dia seri elek,  senang kalau orang lain hidupnya susah, ” ibu menyebut istilah tokoh antagonis menjadi ‘seri elek’.

“Buk kembali ke soal Hera kabur dari IKIP,  seandainya Hera nggak lolos screening dan dianggap tidak bersih lingkungan, sehingga didiskualifikasi, tidak lolos penempatan, betapa malunya Hera bu…di atas malu ada geram, kesal jengkel.Jadi lebih baik tidak usah ikut tahapan-tahapan itu kan buk,” Hera memyampaikan perandaian yang menyakitkan.

“Iya ya ..keranjang sampah lagi ya nduk,”  kata ibu Hera sambil masukan benang ke jarum mesin jahit.

“Mereka yang bikin peraturan itu apa nggak punya perasaan ya bu ,” kata Hera pilu.

” Ya pasti punyalah perasaan tapi tidak berkutik, cari aman daripada dipecat jika ketahuan membela,”  jawab ibu sederhana.

“Berarti banyak orang Indonesia yang pengecut ya buk nggak mau membela orang yang didzolimi. Hati nurani manusia itu kan suci bersih kenapa bisa tertutup. Misal ada anak pinter nilai ujiannya sangat bagus, dan memenuhi semua persyaratan, tapi tidak lolos gara-gara persoalan yang tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya. Lalu melarang anaknya memperistri anak dari keluarga mambu, padahal si anak nggak tahu apa-apa,  jelas itu sebuah kejahatan kemanusiaan buk, tidak adil,”  dengan perasaan geram setengah emosi Hera berkomentar menyampaikan perasaannya.

“Ada cerita lagi nih bu terkait soal guru,  teman kuliah Hera yang  dari Cilacap bercerita kalau dia punya saudara guru SD masih honorer. Pas dia mau diangkat jadi PNS nggak bisa karena ayahnya tersangkut partai mambu itu dan hilang. Padahal merantau sekolah di Solo, sejak kecil tidak sempat kenal bapaknya.  Sampai si anak depresi, streess. Tahun 65 dia baru lahir. Tetap saja terdampak. Jadi mungkin Tuhan menyelamatkan Hera dengan diterima di UNDIP ya bu. Seandainya Hera didiskualifikasi, duuh betapa malu dan nelangsanya,” Hera bercerita dan memberikan pemahaman ke ibunya agar tidak semata-mata dibilang egois saat meninggalkan IKIP.

“Ee…yo muga-muga` aja nduk, nanti ada wolak-walik ing jaman”  kata ibu Hera berharap.

“Iya buk, kami anak-anak ibu selalu berdoa semoga ibu dan bapak panjang umur sehat bahagia sempat menikmati perubahan jaman, sempat menangi presiden baru, yang lebih baik, lebih manusiawi. Amerika saja sudah 6 kali ganti presiden walau ada yag dua kali , ee Indonesia masih itu- itu saja,” Hera menimpali.

“Kapan ya jaman berubah, jangan- jangan tetap saja menjadi keranjang sampah terus,” keluh ibu Hera pesimis.

Ibu Hera mensinonimkan istilah ‘kambing hitam’ dengan “keranjang sampah”.  Hera tersenyum, binatang saja kami manusiakan kok,  kita tidak ingin membawa-bawa kambing yang tidak bersalah ke ranah keburukan yang dibuat oleh manusia. Bisik hati Hera.

Ibunya nampak senang jika Hera pulang ke Jakarta, karena ada saja yang diobrolkan. Hera bercerita tentang situasi desa,  tentang sawahnya di desa yang sering gagal panen akibat serangan hama, tentang orang-orang generasi ibunya siapa yang meninggal, siapa yang sakit, tentang simbah  Kakung, simbah Putri, dan simbok yang kadang salah paham meributkan hal- hal yang sepele.

Begitu juga ibu Hera banyak bercerita, mengenang masa lalunya saat menjadi aktivis pemberantasan buta huruf. Ibu Hera bertugas mendata warga di setiap kelurahan dalam satu kecamatan siapa-siapa yang buta huruf. karena itulah Ibu Hera kenal dengan lurah-lurah sekecamatan. Salah satu lurah malah menjodohkannya dengan seorang pejabat dari pusat, yang kini jadi suaminya..

Masyarakat yang mayoritas masih buta huruf, setelah didata lalu dikumpulkan menjadi beberapa kelas untuk dididik diberikan pelajaran menulis dan membaca, ibu Hera selain mendata juga menjadi tenaga pengajar. Kata ibu Hera, waktu itu dia gadis yang cekatan, trampil mengetik sepuluh jari, sehingga sering para lurah atau pejabat kecamatan, minta tolong mengetik undangan yang berkaitan dengan kegiatan sosial.  Semua aktivis berkerja secara suka rela, sosial, tidak bergaji.

Ibu Hera sangat senang bisa turut mengentaskan masyarakat yang buta huruf menjadi melek huruf. Banyak orang di kampungnya yang pandai baca tulis berkat ibu Hera. Tetapi Jaman berubah demikian kacau di jaman kalabendu. Orang Jawa menyebut dengan istilah jaman hera- heru tahun 65, semua lurah- lurah desa yang baik itu dipecat, ada beberapa yang hilang tidak kembali karena dieksekusi. Seorang Bayan punggawa desa,  yang rumahnya bersebelahan dengan rumah simbahnya Hera, suatu malam dibawa ke desa Wangen atau dikumpulkan di gedung Cokro untuk disiksa dan akhirnya dibunuh. Konon kata Ibu Hera, kang Jimo Belong berkomentar ” wah mas Bayan ki peng- pengan, sakti tenan wis dientepi lumpang kok ra mati- mati”. Hera miris mendengar cerita ibunya. Pertanyaan Hera dalam hati, kenapa Jimo tidak menolongnya..??

Bukankah sesama warga desanya, sudah lebih sepuh, masih dekat hubungan kekerabatannya. Atau malah diumpankan? Ooh betapa kejamnya.

Disini ada perbedaan yang sangat mencolok tentang peradaban manusia padahal masih dalam satu generasi. Ibu Hera dan para lurah yang baik itu mengumpulkan warganya untuk dididik, diajari membaca dan menulis. Ibu Hera dan para aktivis itu menebarkan kebaikan, memberi tambahan pengetahuan mencerdaskan masyarakat bangsanya.  Rasa kepedualiannya terhadap masyarakat menghasilkan harmoni kehidupan yang  damai dan tentram. Sebaliknya,  selang beberapa tahun kemudian, orang-orang yang masih dalam satu generasi itu, mengumpulkan masyarakat di suatu tempat, bukan untuk didik, tapi untuk disiksa dan dibunuh. Tanpa ampun dan tanpa tahu kesalahannya. Sungguh hal yang Ironis.

Aktivitas yang biadab ini menghasilkan ratapan kepedihan dan dendam bagi korban dan keluarganya, sepanjang hidupnya. Di sisi lain rasa bersalah, perasaan berdosa,  rasa takut akan karma buruk, menghantui  di sepanjang hidup para pelaku eksekusi. Banyak di antara para eksekutor hidup tidak bahagia, dibayang-bayangi kekejamannya sendiri. Belum lagi kalau yang dibunuh itu kerabatnya. Batinnya tersiksa karena sering bertemu dengan saudara, anak cucu dari orang yang dibantainya.

Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 0.30 dini hari.

“Waah nduk sudah lingsir wengi, ayo bobok, besok mau masak apa biar ibu pagi-pagi ke warung, sebab jam 10.00 ana 3 anak yang kursus”  kata ibunya sambil menarik horden, mangajak tidur.

“Mau masak kesukaan mas Edi, apa ya bu,” jawab Hera, untuk menyenangkan hati kakaknya yang mau dimintai uang SPP

” Mas Edi kan tukang makan ya apa-apa doyan,” jawab ibunya

“Ya sudah ibu belanja daging aja seprapat, beli sayur sop-sopan dan tahu tempe, nanti air rebusan daging buat kaldu masak sop, daging dimasak empal manis pakai kecap dan goreng tahu tempe, tak lupa sambel  tidak  terasi karena sayurnya sop” Hera memberikan ide menu. Sejak kecil saat nderek simbahnya di desa  Hera sudah terbiasa masak sehingga tiap hari di dalam hidupnya selalu berpikir menu, walau yang dikenal masakan desa yang tidak neko-neko dan sesuai bajet yang minim.

Hera kembali ke Semarang menekuni kuliah dan bertekad ingin cepat selesai usianya terus beranjak ke 23 tahun akhir, akan memasuki usia 24. Usia yang cukup untuk menentukan siapa kiranya kandidat pendamping hidupnya. Bukan tidak ada, tetapi Hera semakin enggan berpikir.

Mas Bagas masih sering main ke kost ngobrol banyak hal. Kadang Hera bercerita tentang persoalan hidup manusia, tentang paham-paham. Tentang keyakinan dan persepsi manusia yang berbeda-beda tentang Tuhan dan tentang cinta. ada kalanya Mas Bagas berperan sebagai  pendengar, di waktu lain sebagai penasehat. Baru sebatas itu.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.