
KEMPALAN: Sejak kedatangan Agung ke Jakarta, Hera sering merenung kalau malam, sehingga sering ia sulit tidur. Pikirannya menerawang jauh, hubungannya dengan Agung sudah makin serius. Hera jujur sangat senang dengan keseriusan hubungan ini. Tapi, sekaligus ia khawatir. Ia merasa senang karena merasakan cinta Agung kepadanya yang begitu besar. Tapi juga khawatir karena Hera sadar akan statusnya sebagai penyandang stigma anakke wong mambu.
Sejauh ini Hera belum tahu apakah Agung tahu atau belum tentang sejarah keluarganya. Hera tidak pernah bercerita, pikir Hera hal itu tidak penting. Toh ayah Hera sudah bebas, lebih dari tiga tahun yang lalu. Jadi kalau pun diaggap berdosa, bapaknya sudah melunasi dosanya. Tapi kekhawatiran itu belum juga hilang. Karena yang namanya stigma jangankan tiga tahun, limapuluh tahunpun tidak akan hilang. Bahkan mungkin sampai akhir hayat di kandung badanpun tetap melekat.
Hera sedih dan kesal kalau sudah terbentur pada masalah ini. Dia tidak mampu mengubah. Seberapa pun usahanya membangun citra diri sebagai manusia yang baik lewat sikap dan perilakunya, orang tidak mau melihat. Berkaitan dengan persoalan cinta Agung sepertinya akan lebih rumit daripada dengan Danang. Danang tidak terlalu ngotot dengan ambisi hidupnya. Danang lebih bisa meghargai dan memberi kebebasan. Dengan Agung bakal ada dua hal penting menjadi penghalang jika tahu bahwa Hera adalah anakke wong mambu, anak tertuduh partai terlarang yang paling terkutuk itu.
Hal pertama adalah orang tuanya. Orang tuanya tidak jauh beda dengan orang tua Danang. Orang-orang berpendidikan tapi tidak mampu membuka wawasannya. Hidup terlalu sempit bagi mereka. Mereka tidak mampu membedakan label dan kualitas. Berpikirnya terlalu normatif ala birokrat yang terlalu mengikuti aturan tanpa tahu untuk apa sebuah aturan dibuat. Ya tapi mungkin mereka tidak bisa disalahkan karena hidup dalam masyarakat yang cara berpikirnya begitu. Sulit diharapkan muncul cahaya terang dari tempat yang memang tidak ada sumber cahaya.
Hal kedua adalah perusahaan tempat dia nanti bekerja, mengingat perusahaan yang memberi beasiswa adalah BUMN besar milik pemerintah. Tentu saja akan mensyaratkan macam – macam berkaitan dengan status politik. Atau malah Agung sendiri akan berpikir secara logika tentang karirnya ke depan. Agung pasti akan bermain aman agar karirnya lebih mulus. Lumpur-lumpur kotor soal status politik sebaiknya dibersihkan dari awal.
Yah kalau terbentur kesitu lagi, Hera pengin berteriak dan memuku- mukul apa saja yang ada di sekitarnya. Bantal dan gulinglah sebagai sasaran dan pelampiasan tangisan kegelisahannya. Tapi kalau Hera ingat ikrar Agung bahwa soal jodoh, dia tidak ingin diatur dan dicampuri oleh orang tuanya, dan kata- kata Agung berniat ingin melamar sebelum nanti berangkat ke US membuat hati Hera lega dan merasa tenang. Ia lebih suka memikirkan yang baik saja.
Tapi Hera akan kembali galau saat segumpal pertanyaan mengganggu pikirannya. Akankah Agung bersikap seperti ini, sebaik ini, jika dia tahu sejarah orang tuanya? Hera pun nggak mungkin mengatakan ini kepada Agung. Dia hanya menyimpan dalam hati. Biarlah Agung nanti tahu dengan sendirinya.
Hera berpikir positif, anggap saja Agung sudah tahu karena putusnya hubungan dengan Danang gegara persoalan itu. Walaupun Hera tidak menceritakan. Hera cuma bercerita kepada Agung bahwa orang tua Danang tidak setuju karena Danang mau dijodohkan dengan anak lurah favoritnya, dan karena status sosial, Hera dari keluarga miskin. Tapi bisa saja Agung yang cerdas dan ngglibet itu sudah tahu alasan sesungguhnya.
Hubungan Hera berjalan normal dan cukup intens, acara saling jemput saat sore masih berlangsung. Hari-hari yang tersisa sebelum keberangkatan Agung dimanfaatkan dengan baik. Hera selalu menjaga kondisi kejiwaan Agung agar tetap baik. Dan berusaha mengontrol emosinya yang meletup-letup supaya tidak kebablasan. Hera juga berharap Agung bisa lulus pendidikan dan berangkat kuliah ke US.
Hera tidak membolehkan Agung mengantar sampai rumah saat pulang dari saling jemput sepulang kuliah.
“Wis sampai sini saja.”
“Loh kenapa?”
“Biar kamu istirahat, besok kan harus masu pagi.”
“Yah…ya wislah. Miss u..,” Agung mengakhiri pertemuan rutinnya di pinggir jalan, didekat Halte, sehingga Agung langsung naik bis lagi.
Hera sebenarnya suka diantar sampai rumah. Tapi ia tidak ingin Agung kebablasan ngobrol atau gitaran dengan Hero adiknya, satu-satunya anggota keluarga yang dikenalnya, hingga akan lupa waktu. Karena, besok paginya harus masuk pendidikan. Alasan lain, Hera tidak ingin Agung berpapasan dengan teman- teman kakaknya Raharjo atau Purnomo. Karena sifat Agung sangat pencemburu.
Suatu hari Agung pernah ngambeg dan marah saat jemput ke kampus Hera, ketemu di kantin warung bakso. Hera sedang diganggui, kakak kelasnya Pardede dan Christofel. Walau cuma bercanda Agung sangat tidak suka dengan celotehannya. Yah Agung pencemburu berat.
“Ngapain kamu tanggapi mereka?”
“Loh namanya teman. Masak nggak boleh bercanda?”
“Ya karena kamu beri angin maka mereka begitu.”
“Memang aku begitu. Masak nggak boleh menunjukkan jati diri.”
“Nggak usah berlebihanlah..”
“Ngapain kamu ngatur-atur?”
“Ha?”
Hari itu seharian Hera merasa seperti pesakitan, menjadi tertuduh. Agung sewot dan mendiamkannya di sepanjang perjalanan. Hera merasa serba salah. Itu salah sisi yang Hera tidak suka pada diri Agung. Itu tidak ditemui pada Danang. Juga Larso. Larso dan danang dalam hal itu sangat santai, tidak ada rasa cemburu yang berlebihan. Mereka tampak lebih dewasa dalam hal itu. Memang kecerdasan tidak berbading lurus dengan kedewasaan.
Tapi Hera tidak mempersoalkan hal itu, bahkan kadang hatinya tersenyum. Bukankah cemburu menunjukan bahwa cintanya tidak main-main? Kadang Hera tidak bisa membedakan posesif, cemburu dan cinta. Semua akan menjadi serba absurd ketika berbenturan dengan statusnya. Cemburu tidak ada artinya. Posesifpun tidak punya makna dan cinta menjadi hanya sebuah kata tanpa rasa.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi