Selasa, 21 April 2026, pukul : 14:33 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Sabtu malam selepas magrib simbah menggelar tikar dan bersih-bersih di lantai di rumah menggunakan sapu lidi. Rumah mbah Mangun khas rumah desa model limasan, di ruang tengah, ada lantai yang lebih tinggi dari permukaan lantai sekitarnya. Lantai yang tinggi itu luas. Ada di atasnya seperangkat kursi sedan, di belakang kursi sedan ada  meja bufet marmer tempat meletakkan radio. Lalu di kiri kanan bufet ada kaca pengilon besar dengan rangka kayu ukir-ukiran, tempat Hera biasa berkaca,mematut diri  dan ngepas-ngepasin baju.

Mbah Mangun putri lalu menyiapkan perangkat nginangnya, berupa bothekan yang terbuat dari kuningan berbentuk segi empat lalu di dalamnya ada tempat seperti mug-mug kecil dari kuningan, dan duplak untuk mengulek kinang. Simbah dan simbok keduanya hobi nginang. Dalam sehari biasanya mereka dua kali makan sirih. Pagi menjelang siang dan sore selepas magrib. Hera menemani duduk di dekat perlengkapan bothekan di atas tikar. Ritual nginang atau makan sirih akan dimulai. Simbah membuka daun sirih yang tergulung untuk dilap lalu disobek menjadi dua bagian. Hera membantu nyuwil gambir dengan kukunya, lalu simbah putri memasukkan gambir ke gulungan sirih sambil melilitkan injet atau kapur sirih. Setelah itu gulungansirih dan isinya itu  dimasukan ke duplak. Hera membantu mendeploknya  agar sedikit hancur. Dulu ketika gigi simbah masih kuat simbah langsung mengunyah gulungan sirih bahkan berikut tangkai sirihnya yang keras. Kini sudah nggak mampu lagi, harus sedikit diulek dulu baru dikunyah. Hera menyerahkan hasil deplokannya dan simbah dengan batang duplakan memasukan kinang yang sudah lunak lembut ke mulutnya. Lalu mbah Mangun menguyah beberapa menit . Lalu..cuuh cuhh membuang simbah ludahnya ke paidon, tempat khusus membuang ludah kinang yang dibuat dari kuningan. Lalu simbah susuran membersihkan bercak kinang di bibirnya dengan tembako yang enak.Lalu tembakoitu dibiarkan nempel di sisi kanan mulutnya. Hera suka memperhatikan mbahnya nginang. Itu ritual yang sangat nikmat sepertinya.

Hera dan anak desa lain nya tidak pernah jijik melihat orang meludah dubang(air hasil nginang setelah dikunyah). Hera paling tertawa dan protes kalau ludahnya tidak tepat atau kelewat dari paidonnya.

” Nduk, Larso putrane pak Maryoko sing dolan mau, saiki kok akikmen ya, ” kata simbah membuka pembicaraan. Dia tidak bisa bilang apik karena susuran.

” Iyo mbah sejak kang Larso nderek omnya, Haryoko, di Jogya sepertinya jadi berubah santun.Tidak nakal. Mungkin karena dididik secara disiplin”

” Iyo cilikane dulu mbengkaleng seneng geyut,” lanjut simbah. Simbah  ngomong gelut jadi geyut. Hera geli mendengarnya

” Iyo mbah, kang Larso iku hebat lho. Sekolahe sekarang  nang Itebe mBandung”.

” Sekolah afa kui, ” tanya simbah. Dia bilang apa jadi afa.

” Sekolah Sarjana Teknik, nek lulus jadi Insinyur. ”

” Oh nono.Elok ya nduk. Ketoke mau crita minta anter cari alamat om Suyatno, apa wis bebas saka Buru ya nduk? ”

” Uwis mbah tahanan pulau Buru wis dibebaske kabeh,” jawab Hera.

“Lha sing urip pira, sing ilang, lan mati pira yo nduk?” tanya simbah lagi penuh penasaran.

” Embuh mbah… Aku kan ora ngabsen, ” kata Hera sambil ketawa.

“Nduk Karso saiki wis dewasa, glagate dheweke naksir kowe nduk, wektu cilik senenge dolan nang latar, klitar-kliter lirak lirik. Ketoke wis awit cilik bocah iku aksirkamu nduk. ”

“Nakal yo mbah, aku nek adus nyang gejikan karo kanca-kanca sering disenthe, diracun pakai daun lompong atau sembukan sing dideplok itu lho. Gatel kabeh mbah. Jan nakal banget bocah iku biyen  ”

“Iyo senenge ngetutke nek simbah yen arep wiwit na sawah. Padune arep ngetutke prawane simbah ya’e ya.”

“Ketoke ngono mbah. Tapi ya pingin entuk sega jangan karo ingkung.”

“Wah jan bocah-bocah memang paling seneng entuk sega wiwit utawa bancaan. Rasane nyamleng tenan.”

Merekangobrolsampaiagaklarut.Besok Hera harus balik Jakarta. Simbah dan simbok sangat kehilangan. Kalau ada Hera rumah jadi ramai. Simbah juga seneng ada yang masak dan bersih-bersih rumah.

*

Rencananya Hera dan Agung akan balik ke Jakarta pada hari ini. Mereka akan naik kereta Senja Utama, setingkat lebih tinggi dari Senja Ekonomi. Kereta Senja Utama berangkat lebih awal dan sampai di Jakarta biasanya jam 04.00 atau jam  05.00 pagi. Masih cukup waktu bagi Agung, untuk melanjutkan perjalanan dari stasiun ke messnya.  Senin pagi Agung harus masuk kelas Diklat lagi.

Agung sudah membeli dua tiket, satu untuk Hera. Agung kemarin  merasa bersalah membelikan tiket kereta Ekonomi tanpa tempat duduk. Maunya ngirit tapi malah terjepit. Tapi beruntung Agung dan Hera,  karena itulah terukir kenangan manis yang tidak pernah terlupakan dalam sejarah hidupnya. Ya kenangan bercumbu di ruang sempit yang pesing.

Agung mengikuti saran hera untuk tidak berkunjung ke rumah simbah. Selain tidak ada pentingnya,  juga karena waktunya hanya singkat. Agar efektif dan bermanfaat lebih baik dia gunakan untuk kumpul keluarga, berkangenan dan berpamit-pamitan. Agung akan pergi jauh ke sebuah negara Adi Daya yang sangat ditakuti, karena terkenal suka mencampuri urusan negara lain. AS telah mengobarkan Perang Teluk yang merugikan banyaknegara dan masyarakat. Agung sebelumnya tidak membayangkan apalagi memimpikan bahwa dalam waktu dekat akan lolos mendapat beasiswa dan bersekolah bertahun-tahun di negeri itu. Itu bermula hanya dari keisengan untuk membuktikan bahwa dia mampu berkompetisi dan hal lain tentu agar bisa dekat Hera. Emosi yang besar,  akibat pelarangan orang tuanya yang tidak mengijinkan dia pindah ke fakultas Teknik UI, menghasilkan energi dan semangat yang luar biasa.  Hera salut, sangat kagum dan haru atas perjuangan Agung mencapai itu.Meski belum terbukti sukses melewati pendidikan di AS tapi langkah-langkah dia sudah cukup membuktikan tekadnya.

Pagi Hera bersiap berangkat naik bis turun di Terminal Klaten. Di situ Agung akan menunggu untuk mengajak jalan-jalan ke Jogja.  Tadi malam Hera sudah berpamitan ke simbok dan tidak lupa membawa surat untuk mbak Nik. Kali ini Hera ijin tidak mau dititipi karak untuk keluarga Jakarta. Juga simbah hanya boleh nitip emping sedikit saja. Hera dan Agung akan naik kereta dari stasiun Tugu Jogja.

Berangkatlah mereka dari  Klaten naik bis Solo-Jogja.  Kurang lebih 45 menit mereka sampai Janti. Lalu sambung naik taksi ke  stasiun Tugu. Mereka menitipkan barang di loker stasiun Tugu. Ini adalah kali pertama Hera menginjakkan kakinya di kota Jogja. Memang Hera sering melewati kota Jogja saat naik kereta ke Jakarta. Tapi belum pernah turun dan  berkeliling kota.  Hari sudah siang, Agung mengajak Hera minum Es teler di kampus UGM Bulak Sumur. Es teler sedang ngetrend, Es dengan  campuran sedikit kelapa muda, nangka alpukat, kadang ada irisan buah sawo lalu diberi susu kental manis. Rasanya segar dan nikmat sekali. Hera sangat menikmatinya.

Keduanya  lalu berkeliling naik becak.

“Gimanaesnya?”

“Wah jan mantep banget.”

Hera melihat kanan kiri jalan yang dilewati, wilayah kampus menuju daerah utara kampus.

“Nyaman ya kampusnya?”

“Iya masih banyak tanaman.”

“Kamu nggak sayang meninggalkan kota ini?”

“Hmm….kota ini memang indah,nyaman,makanan murah dan masyarakatnya ramah. Tapi lebih nyaman dekat kamu..”

“Halah gombal…,” saut Hera sambil tertawa.

“Loh serius. Kan kubelain pindah ke UI.”

“Hmm iya percaya, walaupu gagal ya.”

“Tapi untukurusan jodoh aku nggakmau gagal. Aku nggakmau orang tua ikut menentukan pilihan,” kata Agung bersungguh-sungguh.

“Semoga janjimu terlaksana.”

Becak menuju ke rumah teman kostnya. Lalu Agung berpamitan dan menyerahkan kunci kamar  yang masih dibawa.  Hanya sebentar. Lalu mereka makan gudeg  khas Jogja di utara kampus UGM. Hera menikmati gudeg bu Amat yang terkenal enak itu. Lalu Agung beli oleh- oleh sekedarnya. Waktu tanpa terasa sudah menjelang sore. Mereka bergegas menuju stasiun dengan naik taksi.

Mereka segera menuju tempat penitipan barang . Beberapa saat kemudian naik ke kereta. Mereka mendapat tempat duduk nyaman di kerata, meski posisinya di belakang dekat dengan toilet. Meskisedkit di atas kereta ekonomi, tapi ternyata  banyak juga penumpang yang tidak dapat tempat duduk, sehingga mereka berseliweran di lorong kereta.

” Gung itu orang- orang yang senasib seperti kita kemarin banyak juga ya,” bisik Hera melihat orang- orang berdiri sela sambungan antar gerbong.

” Iya. Selalu lebih darikapasitas. Ada yang pacaran enggak ya?”

“Emang kenapa kalau ada?”

“Ya aku mau pura-pura ke toilet sambil ngintip, sama gak seperti yang kita lakukan.”

“Walah niat banget. Pasti bedalah.”

Mereka ketawa bersama, pelan, takut terdengar penumpang lain.

Lalu Agung pun ke toilet melakukan penyelidikan. Ketika dari toilet Agung bercerita sambil menyelidik.

“Her, selain kepada ibu, kamu berkomunikasi nggak dengan kelurga Jakarta yang lain.”

” Enggak, kenapa?” jawab Hera singkat dan heran dengan pertanyaan itu.

” Aku tadi sekilas lihat sosok Purnomo,” kata Agung serius .

” Hah ngapain dia naik kereta? ” sahut Hera makin kaget.

” Ya siapa tahu kalian janjian atau ngasih kabar kalau mau pulang dari Jogja, terus dia membuntuti,” Agung masih dengan mimik serius.

” Ngaco ah,” lanjut Hera mulai kurang nyaman.

Hera sangat kesal ingat buku Catatan Seorang Demonstran yang belum dikembalikan, eh sekarang dituduh janjian dengan Purnomo. Hera memalingkan mukanya ke arah jendela.

” Yowis kalau enggak, ya nggak usah ngambek,” kata Agung merayu sambil mengelus rambut Hera. Hera tetap diam. Hera nggak segampang itu dirayu. Hera sifatnya mudah tersinggung jika dituduh untuk sesuatu yang tidak dia lakukan. Jangankan dirinya, orang lain pun akan dibelanya jika difitnah atau dituduh.

Hera selalu membela orang yang lemah dan tersakiti. Hal- hal semacam itu sering terjadi di desa pasca pemilu. Jika di RTnya ada yang nyoblos PDI di perhitungan suara Pemilu, pasti akan dilacak siapa mereka. Simbah, simbok dan kerabat pasti tertuduh dan di datangi pak Bayan. Sebenarnya bukan untuk memarahi, tapi mencari tahu bahwa pemilihnya itu si A B C D. Jadi memastikan bukan aparat desa. Karena,  mereka tentu takut kepada pak Camatjika sampai memilih selain partai berkuasa. Tiba-tiba Hera jadi ingat Danang dimanakah dia, lalu ingatannya menuju ke Larso yang kemarin sempat mampir ke rumah simbah dan ngobrol dengan sikapnya yang dewasa. Larso sangat berubah menjadi sosok yang teduh dan menentramkan.

“Her, jangan ngambek ta ah, aku minta maaf ya sayang,” Agung meraih tangan Hera dan menciumnya.

Hera diam saja. Hera sudah memaafkan sebelum Agung meminta.  Maaf Itu masalah gampang. Tapi  meragukan kejujuran dan tidak percaya  adalah hal lain. Itu yang ingin Hera perjuangkan. Jangan mudah menuduh untuk suatu hal yang tidak benar. Lebih-lebih untuk orang pinter seperti Agung, halitu mestinya dijauhi, bukan kelasnya.

Lama-lama Hera merasa kasihan kepada Agung.

” Tolong ya  jangan punya kebiasaan menuduh, ayo kita cari kita buktikan apa benar orang itu Purnomo,”kata Hera lembut namun tegas.

” Udah-udah gak perlu,” sahut Agung cepat.

” Siapa tahu benar, ingin meminta balik buku yang kau bawa itu dan tidak kunjung kau kembalikan,” Hera melanjutkan dengan makin menohok.

” Iya kalau sudah selesai baca aku kembalikan.”

Agung makin mengenal Hera. Meski dia tahu Hera kagum akan kepandaian dan daya juangnya, tapi Agung juga mulai berhitung. Hera tidakbisa diperlakukan seenaknya, bahkan untuk hal yang kelihatan sepele tapi itu prinsip, Hera akan melawan.

Kereta melaju dengan kencang. Hera males ngomong, badanya terasa lelah dan pengin tidur. Hera menutup mukanya dengan syal pasmina yang dibawanya. Agung memperhatikan Hera dengan perasaan menyesal.  Agung melebarkan pasminanya dan ikut menutup mukanya. Lalu Agung memciumnya dari samping. Hera berpaling.

Jelang tengah malam Hera kaget, badan dan tangan  Agung terasa panas seperti demam. Hera lalu bertanya,

” Gung, kamu badanmu panas kenapa?”

” Tidak apa-apa,” katanya masih merasa nggak enak.

Hera memegang kening dan leher Agung, ada semacam bentolan seperti gigiitan ulat dondong. ‘Waah ini pasti gara-gara dondong lagi’, batin Hera.

” Kemarin kamu manjat pohon dondong lagi ya?”

” Iya aku bawa sedikit, buat teman- teman mess, ulat dipohon dondong makin banyak,” jawab Agung lega, Hera sudah mau bicara.

Hera membuka tas tangannya mencari minyak tawon, dia temukan minyak kapak, tidak ada minyak tawon. Hera mengolesi sambil berdoa semoga Tuhan segera menyembuhkan demamnya Agung. Dalam keterbatasan obat yang sesuai sulit didapat, maka doa menjadi penting.

Ya hanya doa harapan terakhir saat manusia dalam keterbatasan dan ketidakberdayaan. Seperti saat Hera keperang, tegores pisau saat memasak dan darah mengucur, Hera teriak aduuh…lalu simbah kakungnya mencarikan sawang, rumah laba-laba di sudut dapur diantara talang-talang bambu dapur. Dengan sapu, mbah Kakung meraih sawang-sawang yang bergelantungan, lalu sawang dikumpulkan diberi minyak kelapa lalu ditempel di jari Hera yang terluka, sambil ditiup-tiup jupa-japu. Langsung darah mampet dan luka tidak perih. Padahal sawang itu kotor kenapa tidak malah infeksi.

” Her maafkan aku ya, kadang aku terlalu takut kehilangan kamu, hingga aku seperti paranoid,” kata Agung pelan.

” Bukannya kamu yang akan meninggalkan aku?” Kata Hera sambil mengoles leher Agung dengan minyak kapak.

“Aku tidak meninggalkanmu, tapi mau sekolah demi masa depan kita yang lebih bai,” kata Agung sambil tangan menyentuh pipi Hera. Hera tersanjung dengan kata  ‘masa depan kita’. Benarkah?! Bisik Hera dalam hati.

“Sudah tidurlah, biar cepat sembuh,” saran Hera untuk Agung.

Hera sedang tidak ingin banyak cerita, walau sesungguhnya sulit untuk tidur. Pikirannya mengembara melamunkan dirinya sendiri, kisah-kisah masa kecilnya, tragedi misteri kecemplung jumbleng yang menyeramkan,  seandainya Ayahnya tidak di penjara mungkin tidak akan terjadi peristiwa tragis itu. Hera kecil sering sakit-sakitan badan panas demam sudah jadi langganannya. Sejak kecil sampai jelang lulus SD, Hera  kurus dan sedikit buncit perutnya karena cacingan. Hera kecil BAB-nya selalu keluar cacing besar-besar dan puluhan jumlahnya itu terjadi setelah sehari sebelumnya minum Embasitrin, obat cacing. Sebelum Hera pindah ke desa Ratmi sangat direpotkan oleh keadaan Hera yang sering sakit-sakitan, setiap panas mengigau dan berteriak  ‘ibu kakek berhidung mancung itu datang’. Lain hari teriak  ‘ibuuu ada bayangan kakek berhidung mancung nempel ditembok’ sambil tangan Hera menunjuk. Ratmi juga sering mendapati Hera muntah-muntah dan mengeluarkan cacing dari mulutnya, ibu Hera sedih dan panik karena itu sering terjadi. Ini semua akibat dari kecelakaan jumbleng.

Konon kata dokter anak kecil yang sudah bisa bermain tanah dia pasti akan cacingan, apalagi di kubangan tinja sekian lama tentu akan lebih banyak tumbuh cacing di tubuhnya. Hera merasa sangat bersyukur pada Sang Pencipta,  bahwa dia tumbuh menjadi remaja  sehat normal dan menarik. Walaupun lahir sebagai anakke wong mambu, Hera disukai banyak teman baik laki-laki maupun perempuan. Hera humoris dan menyenangkan. Sifat Hera rendah hati,  berkarakter kuat, ditambah wajahnya yang super manis  membuat banyak laki-laki jatuh hati. Hal terakhir inilah yang justru menimbulkan banyak persoalan dan menambah luka batin dalam hidup Hera. Danang, Raharjo,  entah akan siapa-siapa lagi. Luka yang sering tidak dia tidak kehendaki.

Hera akhirnya tertidur. Ketika bangun kereta sudah memasuki Cikampek jam menunjukan pukul 4.00. Agung nampak masih pulas. Hera membasuh mukanya dengan tissue basah dengan aroma yang segar. Lalu meneguk air mineral. Diambilnya dua lembar tissue basah untuk ditutupkan ke wajah Agung sehingga dia terbangun.

” Uuhg apa ini basah-basah di raiku?”

” Bangun ….siap-siap, sebentar lagi masuk Jakarta dan stasiun pertama dari arah timur adalah Jatinegara,” kata Hera.

” Tapi sebaiknya saranku nih Gung. Kamu turun saja di stasiun Gambir akan lebih pendek perjalanmu menuju mess daripada dari stasiun Jatinegara,” lanjut Hera.

Agung setuju.

” Oke sayang, usul yang bagus, nggak papa ya aku tidak mengantarmu.  Terimakasih kamu sudah menjadi susterku semalam,” kata nya sanbil mencium tangan Hera.

” Walah cuma ngolesi minyak saja,  anak TK juga bisa,” kata Hera, mengikuti dan menyindir kebiasaan Agung mengomentari sesuatu yang mudah dikerjakan. Agung tersenyum merasa disindir. Hera siap-siap, berdiri menurunkan barang berjalan ke arah pintu, Agung mengikuti. Kereta hanya sebentar transit di Jatinegara dan Hera bergegas turun, tidak sempat dia dan Agug ritual cipika cipiki.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.