Jumat, 15 Mei 2026, pukul : 09:51 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Kedatangan petugas kelurahan itu membuat Ibu Hera langsung teringat lagi saat tahu suaminya tidak pulang. Perjalanan dari kunjungan luar negeri yang harusnya berakhir dengan kebahagiaan nyatanya justru berakhir di penjara. Dia shock berat waktu itu.

Hera masih bayi ketika suaminya diciduk. Di dalam perutnya juga sedang ada jabang bayi Hero yang sebentar lagi lahir. Seandainya tidak, mungkin dia juga akan dibawa ke rumah tahanan. Beberapa teman dan kenalannya mengalami nasib tragis. Suami istri diciduk dan dipenjara pada tempat yang berbeda.

Ada bupati Cilacap suami dikirim ke Nusa Kambangan dan istri dikirim ke penjara Semarang. Padahal tidak ikut-ikutan partai. Hanya pejabat yang mengikuti instruksi pemerintah pusat. Anaknya pun harus lapor ke kodim setempat karena ikut unit organisasi di sekolah. Ada juga  teman ibu hera yang suaminya hilang, ibunya ditahan beserta bayi dan kakak tertuanya. Kakak tertua ini mengurus anak-anak di penjara. Setiap pagi bersih-bersih kamar yang selalu ada ceceran darah. Malam pasti terdengar raungan dan teriakan kesakitan dari para tahanan yang disiksa. Tulang ikan pari dan serpihannya, puntung rokok bercecer, memberi saksi apa yang terjadi semalam. Gadis kecil kakak tertua itu diminta petugas  membersihkanya.

Ratmi, ibu Hera, menamakan jabang bayi yang lahir kemudian, Hero, sang pahlawan. Pahlawan untuk keluarga .Tanpa Hero di dalam kandungan, dia bisa ikut diangkut , tidak terbayang siapa yang akan mengurus Hera kecil  dan kakaknya yang masih kecil-kecil, siapa yang ngasih makan, siapa yang membesarkan. Mengingat itu Ratmi merasa campur aduk antara bersyukur kepada Sang Pemberi Hidup dan sakitnya hati karena begitu kejamnya pemerintah memperlakukan rakyatnya sendiri.

Ratmi lalu mengingat lagi saat dipanggil ke Kodim hampir tiap minggu. Ratmi susah payah menggendong bayi Hera, dalam perutnya nggembol Hero yang sudah usia 8 bulanan di dalam kandungan. Tidak cukup itu di tangan kanannya dia menggandeng masnya Hera yang nangis melulu sepanjang perjalanan hingga ke kantor Kodim. Iya mas Hera nggak sakit, mungkin lapar.  Makanan di rumah sangat terbatas, tergantung apa usaha jahitnya Ratmi laku atau tidak. Jaman sedang susah, tidak banyak orang menjahitkan kain. Mendengar masnya Hera nangis terus, dilengan kiri ada bayi dan dalam perut ada bayi si tentara yang mengiterograsinya risih. Ratmi  diperiksa secara cepat terus disuruh pulang. Selanjutnya setiap kali dipanggil Ratmi sudah ganti menggendong bayi Hero yang masih merah. Penderitaan yang berulang tiap minggu. Ratmi tidak paham bahaya apa yang mengancam dari seorang ibu yang repot mencari makan dan mengurus bayi-bayinya itu.

Suaminya yang dulu sangat aktif, memperjuangkan nasib teman-teman sesama buruh, suka melucu untuk menghibur teman-temannya, pulang dalam kondisi memprihatinkan. Suaminya tidak pernah bercerita apa yang dialami di penjara tapi fisiknya bercerita banyak.

**

Larso bercerita dia mulai mengikuti kuliah dengan teratur. Dia sudah dapat modal awal untuk mencari tempat kos. Dia kos dekat kampus, di Cisitu lama. Jarak ke kampus tidak jauh, cukup berjalan kaki. Dia tidak sendirian, banyak temannya yang hidup dalam keterbatasan. Larso merasakan atmosfir belajar yang berbeda dengan saat SMA. Dia berencana ikut unit kegiatan Seni tari dan Kerawitan. Bagaimana pun asal usulnya sangat mempengaruhi pilihan kegiatan yang diminati. Larso memang paduan antara keseriusan dan kesantaian. Dia belajar sains dan teknik tapi tetap mencintai seni. Tidak heran ketika kecil dia agak mbengkaleng. Mungkin itu bibit seni yang dia punya, keluar dari kebiasaan atau kemapanan. Di ITB bakat-bakat begitu ada tempatnya, ya di unit kegiatan mahasiswa.

Tidak kalah Agung yang akhirnya kuliah di Jogja di fakultas MIPA juga mengirimi kabar kuliahnya ke Hera. Agung bercerita kalau tempat kosnya tidak jauh dari kampus.Jogja-Klaten relatif dekat sehingga sering pulang tiap minggu.

Hera merasa jadi orang penting tempat dua orang hebat memberi laporan. Hera cukup terhibur membaca kisah keduanya. Hera harus pintar memberi tanggapan agar mereka tetap bersemangat menulis rangkaian cerbung lengkap dengan keluh kesah dalam suratnya.

Agung bercerita ternyata  mempelajari  ilmu murni itu membosankan, kurang sentuhan kemanusiaan. Tiap hari lebih banyak mengupas angka, rumus dan ilmu tentang bumi. Semua benda mati. Dia ingin belajar ilmu yang berkaitan dengan pemikiran tentang manusia, mengapa manusia diciptakan, untuk apa manusia diciptakan, apa itu kebenaran, apa itu moral, dan sebagainya. Hera bukannya tidak senang dengan minat Agung tapi Hera pun berpikir anak pinter biasanya suka hitunghitungan dan bidang teknik. Sementara Agung sepertinya sedang mencari makna hidup. Dia tertarik filsafat.

“Apa nggak eman-eman  wong pinter kok mau belajar filsafat? Apa bisa untuk nyari makan?”

Begitu tanggapan Hera dalam balasan suratnya. Hera sendiri kurang paham apa yang dipelajari dalm filsafat. Setahu dia tidak ada contoh orang sukses dari filsafat saat itu. Dia hanya tahu Romo magnis Suseno. Saat itu orang sedang gandrung pada Habibie. Tipe orang pintar yang mampu membuat industri dalam negeri bergeliat lewat pesawatnya. Hampir setiap anak SD atau SMP jika ditanya idolanya pasti akan mengarah ke Habibie. Tidak ada satu pun yang menyebut ahi filsafat.

Hera juga memberi saran agar tidak buru-buru pindah dari geofisika. Jurusannya kini. Dia sarankan agar Agung sabar, di manapun emas tetap akan berkilau. Siapa tahu pada semester-semester mendatang akanm akin banyak ilmu yang menarik, yang lebih humanis.

Malah Agung ikut seleksi beasiswa dari perusahaan minyak negara untuk sekolah ke luar negeri. Sepertiya itu menjadi mimpinya sejak dulu. Pasti akan jadi kebanggaan seorang anak desa jika berhasil lolos beasiswa sekolah ke luar negeri. Hera tidak heran, memang Agung ini meledak-ledak, ambisius, kalau punya keinginan harus dikejar sampai dapat. Meski terkesan coba-coba dan dia masih semester dua ketika seleksi itu , dia serius mengikutinya.

Dasar otak encer dan hebat , meskipun coba-coba tetap lolos tahap awal. Mungkin Heralah yang menjadi motivasinya. Kalau dilihat pesaingnya adalah para sarjana, sarjana muda, dia termasuk calon termuda. Tes akademik dan tes kemampuan dasar berhasil dia lewati. Menyisihkan ratusan calon. Hera ikut bangga. Malah dia merasa GR ikut mengerjakan sebagain tesnya. Dia berandai-andai surat Agung tidak dibalas, kemungkinan besar hasil tesnya bakal terjun bebas.   Tapi Agung masih harus menunggu karena ada tes wawancara. Di situ kabarnya ada campur tangan para pejabat agar anaknya, ponakannya bisa lolos. Yang terakhir tentu saja harus bersih lingkungan, tidak ada hubungan dengan keluarga wong mambu.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.