Rabu, 29 April 2026, pukul : 03:04 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Hari berlalu begitu cepat seperti anak panah melesat dari busurnya. Tidak terasa Hera sudah memasuki tahun kedua kuliahnya. Hera dihenyakkan lagi dengan kehadiran surat Agung. Agung memang selalu mengejutkan.  Agung berkirim surat nemberitahukan bahwa dia menerima panggilan untuk memulai Pendidikan dan pelatihan selama 6 bulan di Jakarta. Jika lulus tahap itu maka dia akan berangkat dan bersekolah di salah satu kampus di US. Hera kaget deg-degan campur senang, seakan dia yang mendapat panggilan. Dia senang dan bangga karena Agung yang cah ndeso itu  mampu mengalahkan pesaing-pesaing yang sudah lebih senior, matang  secara pengetahuan, pengalaman dan psikologis. Rasa deg- degan muncul karena Agung akan datang lagi dan tinggal di Jakarta.

Hera membayangkan akan menjalani hari-hari indah bersama Agung. Seperti menyambung kisah terpenggal di masa akhir SMA. Kisah yang pupus karena keadaa da campur tangan orang tua. Tetapi seperti air yang menembus setiap pori-pori tanah atau tembok yang bisa dilewati sepertinya jalannya bersama Agung terbuka lagi. Meskipun ada satu yang tetap mengganjal: anake wong mambu. Ah di a jadi benci kalau sudah ingat itu entah pada Danang atau Agung.

Sementara Raharjo masih rutin berkunjung ke rumah Eko, ada atau tidak ada Hera. Sejak Hera belum di Jakarta pun, Raharjo dan teman-temannya STM ngepostnya di rumah Eko, mereka berbincang ngalor ngidul penuh keakraban, main musik, kadang janjian mancing atau sepedaan.

Raharjo semakin tahu banyak sejarah keluarga Hera. Semakin dia bersimpati dan trenyuh. Hera masih berperasaa biasa saja, Hera tetap hormat dan menganggapnya sebagi kakak. Hatinya tidak  ingin merubah status itu.  Hera tidak tahu, apakah  ini bentuk emosional atau naluriah. Hera tidak bisa membedakan keduanya. Di dalam pikirannya bahwa ada suatu tantangan kuat yang harus dibuktikan dan diperjuangkan dalam hidupnya mulai sekarang hingga kelak tentang makna cinta.

Hasil dari apa yang akan diperjuangkan itu dia harapkan akan menjadi palajaran berharga bagi orang di sekitarnya khususnya, dan bagi kemanusiaan pada umumnya. Bahwa itu sebuah pertaruhan yang mahal bagi Hera,  dan kalau perlu Hera harus mengorbankan perasaannya untuk pembuktian, Hera sudah berhitung. Dan, semoga dia siap. Karena Hera meyakini tangan Tuhan akan ikut bekerja.

Hera masih melamun sambil membantu ibunya pasang kancing baju benik ceplis, ketika suara motor berhenti. Sudah hapal dia itu pasti suara motor Mas Raharjo.

Ibunya ikutan iseng ngeledek

“Kae lho masmu datang, bentar  lagi  kopi dik…sana siap masak air,” suara ibunya sambil kedip-kedip matanya dan senyum simpul. Ratmi, ibu Hera sangat mengharapkan Hera bisa serius behubungan dengan Raharjo. Sudah cocok hatinya punya mantu seperti raharjo, mapan, dewasa, sopan dan sayang keluarga.

Hera tersenyum.

“Biarkan saja bu, nunggu order ” kopi dik” dan martabaknya,  baru masak air,” sahut Hra masih sambil memasang benik ceplisnya.

“Kenapa gak ganti bakmi goreng atau bakso Meester yo nduk  hehe.”

“Ya ibu bilang saja, nanti juga dibelikan. Mas Raharjo kan selalu tahu maksud ibu. Tapi dia nggak tahu ibu suka bakmi atau Bakso Meester. Apakah bakso itu masih ada juga mas Raharjo nggak tahu, adanya sekarang Mister Bakso dan Bakso Afung,” kata hera menimpali.

“Ya mungkin bakso Meester itu menjadi Mister Bakso,” lanjut ibunya lagi.

Raharjo mendengar ibu anak itu meributkan bakso. Lalu ia bertanya

“Siapa yang pengin Bakso ?” katanya penuh pehatian.

“Iku lho adikmu Hera teringat bakso Meester yang ada di depan Stasiun Jatinegara.”

“Lha ayo tho dik kita cari, aku juga penasaran itu bakso legendaris sejak jaman republik berdiri,” ajak Raharjo bersemangat.

” Yowis gek adus, sana makan Bakso Meester nanti ibu dibungkuske ya,” perintah ibu Hera.

Meluncurlah mereka ke stasiun Jatinegara. Ternyata masih ada di sana bakso itu. Segera mereka turun dan memarkir motor, lalu mereka jalan ke warung itu.

Raharjo bingung sendiri. Di antara teman STM ada kesepakatan jangan sampai pacaran dengan adik teman. Itu kode etik yang selama ini disepakati bersama dan saling menjaga. Persahabtan tidak boleh dirusak dengan hal-hal seperti itu. Raharjo juga sangat menghormati keluarga bu Ratmi. Jangan sampai persaudaraan denga kelaurga itu juga rusak gegarap persoalan cinta. Tapi Raharjo harus ngomong.

Setelah pesan bakso dan minuman, mereka pun ngobrol, agak susah memulai, biasanya mereka ngobrol ramai-ramai. Raharjo berusaha mencari kata-kata yang tepat.

“Enak dik baksonya?”

“Wah enak banget mas. Ingat lagi tahun 68..hmm..Apalagi ditraktir..”

“Saya kira gara-gara kutraktir.”

“Memang beda?”

“Jelaslah. Nggak semata-mata ditraktir, tapi siapa yang nraktir.

“Ah bisa aja mas,” sahut Hera tersipu.

Suasana sejenak hening. Hanya gerakan sendok mengenai mangkok dan seruputan kuah bakso yang terdengar. Raharjo muali mengumpulkan keberaniannya.

“Dik gimana kalau…..,” keluar juga suara Raharjo.

“Kalau apa mas?” Hera mulai menduga-duga sambil mukanya meliaht ke samping, ke arah Raharjo.

hubungan kita nggak cuma seperti adik kakak?”

“Hmm..tapi mas, saya menganggap mas Raharjo sebagai masku sendiri.”

“Apa nggak bisa diubah? Itu kan soal persepsi saja. Kita sudah akrab tinggal mengubah persepsi saja dari kakak jadi kekasih.”

“Hmmm…Bagi wanita, nggak semudah itu mas.”

“Kenapa nggak dicoba?”

“Ini soal hati mas. Aku masih mau lanjut sekolah.”

“Aku akan menunggu.”

“Hmm. Jangan mas. Cita-citaku masih jauh. Aku ingin jadi wanita mandiri. Aku nggak mau jadi kaya ibuku yang harus bertahan karena terjepit keadaan.”

“Baiklah kalau begitu. Aku bisa terima.”

“Nah gitu mas ,masak mau murtad dari kelompokmu STM sekelas?”

“Yah kan sekali-sekali ada perkecualian.”

“Janganlah, kan mas Raharjo punya banyak alternatif.”

Raharjo maklum. Pembicaraan cukup. Merekapun pesan bakso untuk ibu Hera.

Eko, kakak Hera marah mendengar kabar penolakan Hera.

“Kamu kenapa memberi angin kalau akhirnya menolak?”

“Lha memang aku begitu mas. Kan kita berteman dengan siapa saja mas. Mas Raharjo memang asyik untuk teman cerita. Pengetahuannya soal dunia spiritual, seni budaya kan luas, aku suka. Tapi tidak lebih.”

“Yah aku kan jadi susah.”

“Katamu sesama STM tidak boleh naksir adiknya?”

“Iya . Tapi kan ada kondisi tidak biasa. Cinta menembus batas-batas sekolah. “

“Hmm. Ya aku nggak bisa menerima lebih dari sekedar kakak.”

Eko tidak bisa memaksa adiknya. Persoalan hati memang rumit.

**

Larso suatu kali di akhir pekan datang ke Jakarta katanya ke Departemen Lingkungan Hidup. Dia beranikan mampir ke rumah Hera. Ini pertemuan pertama sejak dia kuliah di Bandung.  Rambutnya pendek sepertinya baru tumbuh dari kondisi plonthos. Larso yang dulu malu-malu, sekarang jadi begitu percaya diri.

“Ya kami habis di ospek memasuki tahun kedua.”

“Oh. Gimana ramai?”

“Pengalaman paling edan dalam hidupku. Dibentak pakliku sering. Tapi bentakan senior di ospek lebih edrun.”

“Tapi kan cuma main-main?”

“Kami menjalaninya serius. Nggak berani main-main.”

Ada siomay lewat. Hera memesan. Larso makan sangat lahap sambil ngobrol. Sepertinya selama ospek dia kekurangan asupan gizi. Maklum jam 4 pagi sudah harus berangkat, lalu olahraga hingga malam hari di selingi beberapa kegiatan lain. Jadi selama satu bulan memang tenaga yang keluar dan energi yang masuk tidak seimbang.

“Enak ya?”

“Hmm enak..tapi tepatnya…aku lapar..”

“Haha…”

“Kuliahmu gimana?” tanya Larso

“hmm aku mungkin akan pindah. Mau tes lagi.”

“Kenapa?”

“Aku ingin tantangan lebih, nggak cuma D2, aku mau S1.”

“oh bagus…Setuju,” kata Larso serius.

“Kuliahmu?”

“Ya berjuang keras. Aku jadi bukan siapa-siapa di kampusku. Jadi ini pembelajaran yang bagus untuk bersikap rendah hati.”

Hera jadi ingat Agung. Seandainya Agung kuliah di Bandung, akankah dia berkata seperti Larso. Mungkin beda. Agung ambisius, pasti dia akan berusaha tetap bisa menonjol.

Tidak ada pembicaraan serius soal hubungan Larso dengan Hera. Larso sepertinya memang tipe yang tidak buru-buru. Dia masih memikirkan kuliahnya. Larso masih sekedar membangun komunikasi.

Dia ingin tidak ada pihak yang disakiti. Maka dia hati-hati untuk bicara.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.