Rabu, 29 April 2026, pukul : 01:21 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Sabtu pagi Hera sudah rapi. Seperti kebiasaanya jika bepergian Hera selalu memakai celana panjang. Sesuai nasehat simbahnya supaya brukut. Hera memakai celana jeans, dipadu kemeja casual warna biru navy.  Hera berbenah membungkus satu stel baju kuliah agar saat pulang dari mudik bisa langsung kuliah jika tidak sempat ke kost dulu. Yang terpenting yang harus dibawa satu wadah  berisi perlengkapan perempuan seperti,  bedak, lipstick, hand body lation, antimo, minyak kampak, tidak lupa beberapa plasik kecil juga dimasukkan ke dalam tas.

“Haii cewek-cewek bangun sudah siang, aku  pamit ya mau mudik…”, Hera membangunkan kedua temannya sambil  menarik selimut mereka.

” Uuhhkk…iyo ati-ati di jalan”, lenguh Nunik sambil ngucek -ngucek mata.

” Jangan lupa bawa oleh-oleh emping melinjo..atau belut ya”, Endah menyahut sambil membetulkan selimutnya.

Mereka tidak tahu kalau Hera pergi ke Tugu Muda, menjemput Larso. Lrso baru dari Pemalang melakukan pekerjaan survei. Hera tidak pernah bercerita tentang Larso,  teman SDnya yang hebat itu. Kalau tentang Danang,  Hera sempat bercerita, karena ceritanya  seperti mengandung kisah Siti Nurbaya yang terbalik. Hanya saja mereka tidak dikasihtahu alasan sesungguhnya kenapa orang tua Danang melarang, tahunya dilarang karena  Danang mau di jodohkan dengan anak Lurah. Jaman itu atau jaman kapanpun, mana mungkin anake wong mambu berani bercerita atau mengaku sebagai anake wong mambu, anak Tapol PKI…walah aib itu, kecuali  bercerita di novel. Atau orang lain tahu dengan sendirinya atau dapat cerita dari orang lain.

Hera melamun sambil mengelap sepatunya yang sudah buluk, karena keseringan dipakai serabutan, buat pergi, buat kuliah dan buat ngajar. Bel becaknya Parman sudah memberi kode  siap mengantar sampai halte yang dilewati angkot. Di Semarang orang menyebut angkot dengan sebutan Daihatsu,  padahal bisa saja mereknya Toyota. Di Jakarta orang menyebutnya mikrolet. Hera bergegas menuju becak yang sudah diparkir di depan. Naik becak sebentar, lalu sampai ke tempat pemberhentian angkot. Lanjut ia naik angkot.

Hera menunggu sekititar setengah jam. Kira-kira bis yang ke empat, baru muncul sosok Larso turun dengan rangsel di punggung berkaos putih celana jeans. Senyumnya mengembang melihat seorang gadis pujaannya telah menunggunya.

” Hai jeng dah lama menunggu?” kata Larso sambil mengulurkan tangannya  mereka bersalaman.

” Lumayan lama, belum jadi patung hehe,  sehat tho kang?” Hera menyambut tangan Larso.

Larso tersenyum sumringah ketemu Hera.

” Kita jalan kemana jeng, aku belum sarapan, laper “, kata Larso.

” Hmm…kita ke Simpang Lima saja siapa tahu masih ada lesehan. Emmm kalau pengin yang seger dekat situ ada Soto Pak No atau Soto Bangkong yang legendaris, dekat Kantor Pos Perempatan Bangkong, tidak jauh dari kosku. Ttapi jangan mampir ya, tadi sudah terlanjur pamit “, kata Hera sambil memperhatikan angkot yang lewat.

Akhirnya mereka memutuskan makan Soto Kudus  pak No di seputar Simpang Lima. Ada tahu petis dan mendoan Prasojo yang legendaris di Pojokan Simpang Lima sisi selatan timur. Sayang bukanya sore atau malam.

” Rasanya kita belum terlalu lama ketemu ya jeng, seperti baru kemarin “, kata Larso setelah pesen dua mangkok soto dan dua gelas Es Blewah.

” Ya sudah lamalah, kan sudah hampir  satu semester”, jawab Hara.

” Karena aku ingat-ingat terus, jadinya bagiku belum lama hehehe”, kata Larso lagi menyampaikan perasaannya.

” Ingat apanya, ingat pas lagi ngapain?” Hera iseng tanya.

” Ya pas apa saja, pas berdua naik becak ke toko buku dari Utankayu ke Matraman, lalu pas kita makan es buah”, kata Larso lagi.

” Iya terus aku menyingkirkan alpukat karena aku gak suka, aku pindah ke mangkokmu. Tapi Kang Larso minta disuapkan saja ..hmm modus”, kata Hera  berusaha menyenangkan hati Larso.

” Hahaha iya betul itu modus, siap-siap saja jeng bakal ada modus- modus lain lagi”,  goda Larso.

” Weeeh ada berapa jilid modus?  Tapi kali ini tidak ada modus, saya sangat suka Es Blewah jadi tidak akan kualihkan.. hehehe”, jawab Hera.

“Tapi sayangnya jeng aku sangat tidak suka Blewah, jadi aku mau singkirkan ini. Maukah aku suapin, sayang kalo dibuang. Ini blewahnya harum manis karena diguyur  sirup merah…nampak seger sekali”, kata Larso sambil mendekatkan sendok berisi serutan blewah ke arah mulut  Hera. Tapi tangan Hera mengambil sendok itu dan memasukan sendiri ke mulutnya. Larso tersenyum tidak kecewa.

“Malu ya jeng?” tanya Larso sambil tersenyum.

” Iyalah malu…hmhm, sudah gede masak disuapin…Lagi pula di kota ini banyak yang aku kenal”, Hera memberikan alasan, takut mas Bagas atau teman-teman kos atau teman-teman kampus lewat, Hera mbatin.

” Yuk kita cepetan biar sampai desa nggak kemalaman. Saya belum pernah mudik sampai kampung malam, simbah pasti akan melarangnya”, ajak Hera agar Larso segera beranjak.

” Ayuk …” Larso berdiri menuju kasir. Larso selalu mendahului membayar walaupun sama-sama dalam keterbatasan.

Dari warung soto, Hera dan Larso naik becak menuju Jln. Pandanaran ke pusat oleh-oleh khas Semarang. Hera membeli sedikit Wingko Babat dan satu Bandeng Presto untuk simbahnya. Demikian juga Larso.

” Kita naik becak, mau jalan-jalan lagi atau mau langsung mau mudik? Kalau mau langsung kita ke Halte MILO  disitu tempat orang menunggu bis antar Kota”, Hera bertanya sambil menjelaskan.

” Kok lucu ya namanya kok Milo memangnya disitu ada pabrik susu Milo?'” tanya Larso.

” Sebenarnya bukan Milo tapi MULO, sekolah setingkat SMP jaman Belanda, tapi dasar lidah jawa ngomong Mulo jadi Milo”, Hera menerangkan.

” Oh gitu kalo Halte HIS ada nggak jeng?  Hollandsch Inlandsche School ..itu SD nya jaman Belanda” , Larso yang cerdas menimpali. Ya Hera tahu Larso temannya paling cerdas saat SD dulu.

” Ada mungkin tapi aku nggak tahu dimana, AMS juga ada kali…Semarang kan kota dagang dekat laut pasti banyak Londonya. Peninggalan bangunan juga sangat banyak”, Hera dan Larso di dalam becak bercerita.

” Iya di dekat Tugu Muda ada bangunan memorial namanya Lawang Sewu…benar nggak jeng, lawangnya ada seribu?” tanya Larso.

” Embuh ya kang, aku belum pernah ngetung, sepertinya angker ya tempat itu singup, oya bentar lagi kita mau sampai perempatan Bangkong sebelum perempatan ada jalan ke kanan masuk samping dan belakang gereja Atmodirono itu ada rumah- rumah tua bangunan Belanda. Di situlah rumah kosanku “, Hera menerangkan sambil tangannya menunjuk ke arah kanan.

” Opo mampir dulu jeng ke kosan ?? Saya pengin tahu”, usul Larso.

” Jangan sekarang, kapan-kapan saja kalau ada kesempatan lagi. Tadi saya sudah terlanjur pamit mudik hehehe” ,Hera memberi alasan.

Becak berhenti di Halte Milo di bawah pohon munggur atau trembesi.

” Lha Haltenya mana jeng ” ,tanya Larso.

” Ya begini ini Halte itu istilahku saja kang, biar gampang menyebut. Kita nunggunya ya di bawah pohon munggur yang rimbun ini”, kata Hera.

” Semarang bukan Jakarta kang,  di setiap pemberhentian ada bangunan bernama Halte, bangunan yang beratap panjang ada kursi memanjang tempat orang bersandar menunggu bis. Di Semarang tidak ada pemberhetian bis atau angkot yang ditandai dengan bangunan halte. Tandanya hanya menyebut bangunan di dekatnya”, lanjut Hera menerangkan kota keduanya setelah Jakarta.

“Kita cari bus yang longgar aja ya jangan yang penuh, nanti kita tidak dapat duduk” , saran Larso.

” Sebenarnya kalau saya berdiri malah tidak mabok lho kang. Daripada duduk, tapi bisnya penuh malah sumuk perut jadi mual “, jelas Hera yang mabukan itu. Apalagi dalam kondisi fisik lemah,  cenderung asam lambungnya naik membuatnya mudah mual. Hera tidak ingin memperlihatkan kelemahan fisiknya di hadapan Larso. Bus Safari Jaya jurusan Semarang – Solo sudah lewat tapi mereka tidak menghentikan. Larso menyarankan Bis Lorena Semarang- Surabaya atau Raya  jurusan SMG – SOLO. Larso sangat memperhatikan kenyamanan orang yang bersamanya, mungkin sudah terbiasa dengan gemblengan pakliknya yang pejabat itu.  Bagaimana menjadi abdi yang baik, bagaimana meyani dan membuat orang senang. Di sisi ini Hera mengagumi. Sedemikian hebat perubahan Larso dari anak yang bandel nakal menjadi sosok yangg dewasa, peduli dan penurut. Hera juga merasa lebih nyaman dan ayem di dekat Larso, dibanding di dekat Agung. Agung yang ambisius cenderung suka mengatur dan kurang sabaran. Bis Lorena lewat dan tidak begitu penuh, mereka bergegas naik. Masih ada kursi kosong di deretan belakang.

” Alhamdulillah dapat duduk ya jeng”, kata Larso sambil meraih tangan Hera dan digenggamnya. Hera deg-degan merasakan genggaman tangan Larso yang kuat dan hangat itu. Larso kelihatan begitu tenang seakan dia memang harus melindungi Hera.

” Beristirahatlah kalau capek sepertinya Jeng Hera lelah banget “, kata Larso meraih pundak Hera dan menyandarkan di bahunya. Hera senang tapi pura-pura keberatan.

” Tidak kebalik? Siapa yang turun naik bis dari  pagi buta, pasti dirimu lebih capek “,  jawab Hera menegakkan tubuhnya melepaskan sandaran yang bukan keinginannya. Walau jujur hal itu sangat melegakan perasaannya. Tapi Hera harus duduk tegak agar perutnya tidak melipat, karena akan membuatnya mual. Hera berusaha sekuat tenaga tidak mabok. Bis sampai di Jatingaleh, penumpang bertambah,  sampai di Banyumanik nambah lagi sehingga bis full AC  menjadi full orang. AC menjadi tidak terasa dingin, adanya hanya pengap karena temperatur naik gara-gara manusia yang berjubel.

” Kang perutku mual aku agak pusing, maaf ya kalau aku nanti muntah, aku mabukan kalo naik bis.Hal yang paling menyebalkan”, kata Hera setengah berbisik. Bisik hati Hera ” hal yang paling menyebalkan adalah mabok perjalanan, tapi yang lebih menyebalkan lagi  adalah fitnah- fitnah kepada partai terlarang 3 huruf dan statusnya sebagai anake wong mambu.”

” Ooh bawa minyak angin nggak? Biar aku bantu olesin di tengkuk leher belakang, sambil sedikit dipijit. Percaya deh nanti tidak jadi mabok “, Larso menawarkan diri. Hera tidak menolak.  Sementara tangan Hera sibuk mencari minyak angin ditasnya, dan memberikan ke Larso. Larso memijat tengkuk Hera sambil diolesin minyak angin.

” Maaf ya kang kalau bau minyak angin”, kata Hera sambil menikmati pijatan Larso. Nampak Larso sepert terlatih. Mungkin saat ikut pakliknya dia sering jadi tukang pijat ntuk pakliknya. Hera merasa bahagia mendapatkan pijatan yang penuh perasaan itu,  meski perut mual. Larso merasa menjadi laki-laki yang sangat dibutuhkan pada saat itu.

Hera meminta minyak angin lalu mengolesi di leher tenggorokannya. Dan menyelipkan tangannya mengolesi perutnya.

Akhirnya Hera selamat  dari muntah sampai terminal Kartosuro. Hari sudah sore saat sampai Kartosuro. Sejenak mereka ngeteh panas untuk penghangat perut, sebelum

naik bis lagi jurusan Jogya turun Delanggu. Jaraknya tidak terlalu jauh, waktu tempuh tidak lebih dari setengah jam.

” Wajahmu kok pucat sekali jeng, apa lapar?” tanya Larso penug perhatian.

” Biasa kalau naik bis mual, selalu begitu..Andai ada kereta api dari Semarang ke Solo betapa senangnya aku”, kata Hera sambil meneguk teh hangatnya.

“Ini masalahku jika bepergian dengan bis umum”, lanjutnya lagi.

” Artinya harus punya mobil sendiri ya jeng biar nyaman dan longgar “, kata Larso.

” Waah cita-cita yang sangat tinggi itu kang, mikir jangka pendek dulu aja,  cepet lulus dan tidak berhenti kuliah di tengah jalan aja dah bagus banget”, kata Hera.

” Iya ya, orang seperti kita ini bisa kuliah saja sudah bersyukur. Makanya harus sungguh-sungguh, jangan sampai tidak selesai jeng.  Oke kalau sudah entheng ayo kita lanjut perjalanan” , ajak Larso meraih tangan Hera. Nasehat Larso “Jangan sampai tidak selesai kuliahnya” itu Hera camkan sungguh-sungguh. Karena Hera kadang dilanda kejenuhan, dilanda tidak enak hati terlalu lama menyusahkan kakaknya dan karena persoalan-persoalan lain. Seperti ijazahnya toh juga nggak laku mengingat statusnya anak wong mambu dan lain-lainya. Tapi tidak selesai kuliah dan tidak mendapatkan gelar adalah hal yang akan menjadi penyesalan seumur hidupnya. Itu lebih menghantui, karena sudah buang waktu, sudah mengalahkan IKIP,  kok S1 gak selesai. “Oh tidaaak. Aku harus tetap semangat dalam menyelesaikan kuliah”, Hera menguatkan diri..

Mereka tiba di Delanggu sudah agak gelap,  lepas magrib, sudah tidak ada lagi Pak Sakir Andong. Ada satu lagi tetangga yang punya dokar bukan andong, mbah Sumo. Itupun tidak nampak. Sehingga mereka naik ojek hanya sampai ujung desa yang dekat jalan raya. Untuk menuju desanya Larso dan Hera jalan kaki berdua kira-kira 1,25 km . Hal yang tidak pernah Hera lakukan berjalan malam di desa dan berdua sama laki-laki. Dia berpikir bagaimana jika berpapasan dengan orang kampungnya. Ata ada  yang naik motor pasti wajah keduanya tersorot dan ketahuan. Mereka berjalan pelan. Mau berjalan cepat Hera sudah lelah sekali. Setiap ada bok mereka duduk. Larso menawarkan jaketnya.

“Jeng mau paki jaket biar nggak masuk angin?”

Oh so sweet, batin Hera. Lagi-lagi Hera tidak mau perasaannya diketahui Larso.

“Kang Larso nggak makai?”

“Aku mah sudah biasa. Di Bandung kan dingin.”

Larso memberikan jaket yang dia keluarkan dari ranselnya. Lalu dia pakaikan ke Hera.

“Makasih ya kang..hm anget..”.

Lagi-lagi Larso berasa menjadi laki-laki beneran.

Kemudian mereka berjalan lagi. Sejauh ini jalan sepi. Jadi Hera merasa aman, tidak ada tetangga yang tahu.

Tapi nggak disangka ketika sudah separo perjalanan, benar dugaan Hera.  Sebuah motor menyorot dari arah berlawanan. Motor mendekat.  Ya Tuhan ternyata dia, Santo,  kakak Larso nomer tiga. Iya teman mas Gatot kakak sepupu Hera. Mas Santo  berhenti menawari tumpangan tapi Larso menolaknya, sudah tanggung. Mungkin Larso tidak mau kehilangan momen indah bisa berjalan berdua dengan Hera di keremangan malam. Larso emngantar sampai di depan halaman rumah mbah mangun. Larso berjanji akan main ke rumah  besok  hari Minggu. Hera dengan senang hati menerima janji itu.

Simbah Hera kaget melihat cucunya datang malam-malam tidak biasanya. Simbah menyecar pertanyaan tadi naik apa kok tidak ente ada suara motor. Hera menjawab dapat tumpangan motor dari temannya desa sebelah. Jadi lumayan jalan kaki. Hera tidak berani bercerita kalau bersama dengan Larso. Belum saatnya bercerita. Simbahnya Hera menasehati jangan lagi- lagi pulang  malam sendirian. Walaupun sudah mendapati cucunya dalam keadaan selamat tetap saja kerisauannya membuat simbahnya gusar. Hera menghiburnya agar simbahnya tidak perlu kuwatir, karena Hera selalu bertemu dengan orang-orang yang baik. Hera mengeluarkan oleh-oleh wingko babat dan  Bandeng presto.

” Mbah ini lho  Hera bawakan wingko babat dan Bandeng” kata Hera sambil membuka packing nya.

” Ya coba bukak satu aja yang rasa kelapa” kata simbah putrinya sambil melepas susur.

” Aku juga mau satu nduk, rasa apa saja asal jangan coklat ” mbah Kakung ikutan pengin.

Hera sangat senang,  melihat simbahnya senang.

*

Keesokan nya, hari Minggu, sesuai janjinya, Larso datang ke rumah naik motor bebek.

” Kulonuwum mbah. “

“Monggo. Sinten nggih?”

“Mbak Hera wonten mbah? ”

” Oalah  nak Larso, gek kapan kondure? Kok ujug-ujug njedhul di sini.”

“Baru beberapa hari mbah.”

“ Ada itu Hera lagi bar masak jangan gori”, jawab simbah.

” Nduk kae lho ada tamu nak Larso”,  simbah memanggil Hera. Ada perasaan senang dihati mbah Mangun, karena  Hera ada yang mendekati. Pikirnya ini bisa mengobati luka ditinggal Danang, putera pak Camat. Simbah tidak tahu bahwa cucunya sedang sangat terluka bukan karena Danang saja tapi luka yang lebih perih sedang menyayat hatinya akibat keputusan Agung. Hera tidak ingin menceritakan hal tersebut. Biar mbahnya tetap tersenyum hatinya.

Hera menuju meja persegi empat yang ada kursinya empat berhadapan dua-dua. Di situlah Hera menempatkan tamunya, siapapun, Danang, Agung, Larso dan teman- teman sekolahnya saat belajar kelompok. Di meja itulah aktivitas belajar ,bertukar ilmu, bertukar cerita dan diskusi apapun sering terjadi. Simbah Hera tidak membolehkan tamunya duduk di teras depan rumah. Katanya tidak elok. Hera nurut saja.

” Wah kang Larso monggo masuk “, kata Hera seakan baru ketemu, sambil memberi kode agar tidak cerita jika semalam jalan bersama dari ujung desa.

” Waah dah rampungan jeng urusan dapur ?”

” Sudah. Gimana komentar kangmas Santo lihat kita jalan bareng?” Hera setengah berbisik  bertanya.

“Biasa aja tidak komentar apa-apa”, jawab Larso.

” Syukurlah, aku jadi ingat jaman kecil, kangmas Santo itu orangnya kalem, tidak bandel seperti kang Larso ” , kata Hera mengingat masa kecilnya.

” Iya  jeng, dia selalu memarahi saya setiap nggodai kamu. Katanya jangan nakalin Hera dia kan adik temanku, Gatot. Nanti aku nggak bisa minta tolong Gatot untuk bantu gambar tugas sekolah”, kata Larso.

” Oh ya? Memang kang Santo itu kalem tapi duluuu,  sekarang kebalik. Aku melihatnya lebih dewasa kang Larso”, Hera menyanjung.

” Masak sih,  yang benar jeng”,  kata Larso merasa tersanjung.

” Iya benar, setidaknya hatiku mengatakan begitu”, Hera meyakinkan.

” Tapi jeng dia itu dari kecil musuhin aku, makanya aku suka gelut sama dia, salah paham terus” , Larso mengenang masa-masa nakalnya.

” Iya tapi orang-orang tahunya kang Larso yang nakalin kang Santo. Aku ingat  semua mas-masku  dari mas Eko, mas Gatot, mas Bayu bahkan adikku Hero pernah misahin, melerai perkelahianmu dengan kang Santo. Hampir tiap hari brantem kejar- kejaran pukul-pukulan kang Santo selalu kalah “, kata Hera.

” Iya yang melerai cenderung memihak mas Santo yang kalah. Tapi anehnya saya yang nangis jeng, ada rasa menyesal dan merasa bersalah”, Larso menyampaikan klarifikasi atas tuduhan kenakalannya.

” Berantem kok sepeti minum obat ya kang, tiga kali sehari hehe”, kata Hera geli.

” Iya jeng aku juga heran kok ya ada aja yang memicu untuk kami ributkan, hanya karena hal-hal sepele”, jelas Larso.

” Misalnya apa?” tanya Hera

” Dulu wajtu mau nyenthe cewek-cewek sebenarnya yang getol itu kang Santo, aku gak mau disuruh cari daun lompong tapi dia maksa. Di situ kan ada jeng Hera  ikut mandi. Bayangkan masak aku tega melihatmu gatelen sig-sigan, garuk-garuk”,  Larso mengklarifikasi lagi peristiwa yang sudah puluhan tahun berlalu tapi masih hangat untuk dibicarakan. Hera malah jadi terhibur dengan cerita itu.

” Oya masak sih kang, bukan nya kang Larso yang kegirangan saat kami mentas gatelan?” tanya Hera.

” Ya semua senang saat itu karena merasa berhasil plus melihat pemandangan indah.. hahaha”, cerita Larso.

” Waah ini kenakalan berjamaah”, kilah Hera.

” Tapi jeng, sampai rumah saat kami mau makan, saya protes sama kang Santo bahwa saya tidak mau diajak nyenthe lagi, saya merasa selalu jadi tertuduh. Satu lagi hal yang aku takutkan adalah kamu semakin membenciku. Lalu keributan terjadi aku sama kang Santo berantem lagi hahaha.. Pokoknya banyak hal yang bikin kami ribut”, Larso seperti terdakwa yang memberikan kesaksiannya sendiri.

Hera jadi tahu bahwa sebenarnya sejak awal karakter Larso pada dasarnya memang baik. Hanya karena vocal dalam menyampaikan sehingga disimbulkan sebagai biang kerok nya. Hari itu Hera dan Larso ngalor ngidul bercerita, tidak terasa sudah sangat lama.

” Kulonuwun mbak “, ada suara dari luar.

” Monggo sinten ya?” Hera menjawab dengan tanya.

” Ooh dik Tomo, ada apa dik?” lanjut Hera.

” Mau matur sama mas Larso mbak sebentar”, katanya.

” Oh ya silahkan masuk” , jawab hera mempersilahkan. Tomo adik terkecil Larso, membisikkan sesuatu kepada kakaknya.

” Jeng aku pamit dulu ya motornya mau dipakai antar telor. Besok aku balik lagi ya kalau masih ada waktu sebelum berangkat.”

” Gampang mas tapi saya berabgkat pagi sekitar jam 8 lho..Andum slamet wae ya kalau nggak bisa ketemu lagi”,  kata Hera. Lalu mereka pamit kepada simbah.

Hera yang hatinya sensitif merasa ciut, kenapa sampai dijemput dan ada nada bisik- bisik. Saat  Tomo adiknya Larso menyampaikan sesuatu. Mungkin saja benar karena motor satu-satunya akan dipakai untuk mengantar telor dagangan ibunya ke warung- warung. Ataukah ada hal lain? Hera yang sedang sensirif terusik perasaannya. Bayangannya tertuju pada status wong mambu lagi.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.