
KEMPALAN: Hera pulang bersama kakeknya. Senang dia ketemu bapaknya, tapi juga sedih menyaksikan bapaknya hidup di lingkungan yang menakutkan. Apa kesalahannya, menjadi teka-teki terbesar Hera. Tanpa terasa itu mempengaruhi kepribadiannya. Dia jadi anak yang kurang percaya diri. Meskipun di sekolah tergolong anak pintar tapi sering dilanda keraguan.
Kasih sayang kakek nenek dan simboknya menguatkan hatinya. Dia tahu ibunya sedih dan susah harus membesarkan 3 anak yang tinggal bersamanya di Jakarta. Malah selain kakaknya, belakangan adiknya yang cuma berjarak satu tahun dengannya juga dikirim ke desa. Hera bertekad untuk tidak mengalami penderitaan seperti ibunya. Seandainya bapaknya nggak ditahan mungkin nasibnya akan beda. Tapi memang begitu jalan hidupnya. Dia harus tegar.
“Piye nduk seneng ta liburan di Jakarta?”
“ Enak di desa mbah,” jawab Hera singkat sambi terbayang bagaimana raut muka penjaga ruang pertemuan di penjara Salemba yang kaku tidak bersahabat.
“Kenapa memang nduk?”
“Nganu mbah..Aku nggak suka lihat bapak tinggal di tempat yang menyeramkan. Bajunya bolong-bolong .”
“Ya wis kamu tinggal sama simbah di sini. Ada simbok di belakang itu. Simbah juga sepi kamu tinggal sama mbahmu kakung ke Jakarta,” kata mbahnya sambil mendekapnya dan air mata tipis membasahi pipiya. Dia membayangkan anak menantunya pasti hidup tidak nyaman di penjara. Bekas ketua organisasi buruh terbesar harus hidup di penjara bersama tahanan lain dari berbagai tingkatan. Dulu anaknya itu tinggal di rumah besar di pinggir jalan besar, punya mobil. Namun kondisi berbalik begitu terjadi peristiwa 65. Hartanya habis diambil tentara tanpa surat resmi. Rumah pun harus mengontrak di dalam gang kecil.
Hera pernah mendengar dari mbahnya bahwa dulu bapaknya diangkat sebagai pegawai di pabrik karung Delanggu karena menjadi satu-satunya pribumi yang bisa baca tulis di bagian penimbangan serat. Dia paham, bapaknya bisa begitu karena sekolah. Jadi pendidikan begitu pentingnya.
“Sekolah sing rajin ya nduk ben pinter kaya bapak..” kata mbahnya suatu saat. Nasehat itu melekat di pikirannya.
Ada satu teman sekolahnya yang cerdas, meski anak kampung. Hafalan dan hitungan sama-sama pinter. Larso namanya. Larso nakal di mata Hera, suka menggoda. Mungkin nyari perhatian tapi dengan cara menggoda. Saat sedang ngetop lagunya Cicha Koeswoyo, lagu itu diplesetkan oleh dia dan teman-temannya. Pelopornya jelas Larso.
‘Hera guk guk guk..! Kemari guk guk guk !!’ sambil tertawa-tawa mereka bernyanyi. Hera dalam hati sedih jadi bahan ejekan. Teman-temannya itu sesungguhnya ingin dekat dengan Hera. Keluarnya dengan cara begitu.
“Wis rapopo nduk..nggak usah sedih. Itu kan teman-temanmu ngajak main..”‘ kata simboknya saat Hera bercerita.
“Aku kan malu mbok, kok disamakan guguk.”
“Eh itu temanmu yang bikin lagu pasti anaknya pinter. Iya to? Kalau nggak, nggak mungkin bisa memelesetkan lagu jadi begitu…”
Hera kaget kok simboknya tahu.
“Iya. Tapi nakal mbok…”
“Eh nggak papa. Jangan-jangan dia suka sama kamu nduk,” simboknya menghibur, matanya melirik, sambil tangannya mengiris gendar di pangkuannya.
“Ah mbuh mbok..,” Hera tersipu. Dia mulai beranjak besar, mulai ada rasa-rasa senang atau malu kalau digodain lawan jenis.
Hera begitu dekatnya dengan mbokdenya sehingga dia nyaman memanggil simbok. Pernah saat harus mengisi formulir dari sekolah dia salah isi.
“Nanti di sini diisi nama orang tua, nama simbokmu ya”. Begitu pesan guru. Hera paham diiisi nama ibunya, simboknya. Maka sampai di rumah dia is dengan Rejo Surti. Saat mbahnya lihat kaget.
“Nduk itu kok disi nama simbokmu?”
“Kata Pak guru memang diisi jenenge simbok.”
“Lha itu berarti diisi nama simbah . ‘Mangun Harjono’. Mbahmu ini pengganti orang tuamu di sini.”
Hari itu Hera bersama mbak Nik anak simboknya memanjat pohon jambu depan rumah. Beberapa jambu sudah mulai merah warnanya. Jambu lumut yang hijau diselingi semburat warna merah memang menggiurkan. Sambil duduk didahan mereka asyik nggrogoti jambu itu. Tetangga yang lewat tidak jarang berhenti untuk meminta.
“Mbak minta jambunya…”
Lalu mbak Nik pun melempar beberapa buah lalu tetangga itu menangkap dengan tangannya.
Kadang Larso lewat pura-pura minta jambu namun ada niat mengintip celana dalam. Hera sama mbak Nik sudah tahu modus itu. Mereka segera merapatkan kakinya. Atau cepat-cepat turun.
Larso ini memang pintar dan nakalnya imbang.
**
Siang hari Minggu Hera dan kawan-kawan mandi di sungai sisi barat sekolah. Sungai itu membentang dari utara ke selatan. Penduduk biasa mandi, cuci dan buang air di sungai itu. Tidak ada polusi atau limbah industri yang mengotori sungai itu. Jadi meskipun tidak bening sekali tapi cukup bersih unuk keperluan mandi cuci dan buang air. Sungai itu terusan dari Kali Pusur yang berasal dari mata air Cokrotulung. Anak-anak kampung sudah biasa mandi di situ. Gejigan nama untuk bagian sungai yang agak dalam yang biasa dipakai mandi. Mereka cuma pakai celana dalam saja. Mereka asik ciblon sambil menyelam.
Serombongan anak laki-laki mandi di bagian atas sungai. Mereka pingin mandi di gejigan juga. Tapi karena dipakai anak-anak perempuan mereka harus mengalah
Larso ada di rombongan laki-laki itu. Dia pun bikin gara-gara. Muncullah idenya untuk mengusir agar para perempuan itu cepat-cepat selesai mandinya. Sekaligus mereka ingin melihat gadis-gadis yang sedang mekar itu muncul dari permukaan, sehingga bisa menyaksikan para gadis cilik itu telanjang dada.
Dirancanglah untuk mencari daun lompong atau keladi sama daun sembukan yang bisa bikin gatal. Ini bukan ide baru, orang kampung sudah tahu soal ramuan yang bikin gatal-gatal ini.
“Ayo ambil daun-daun itu..”. Larso memerintahkan teman-teannya.
Mereka pun sibuk memetik daun lompong dan sembukan yang banyak tumbuh di tepi sungai.
Lalu mereka pun nyari batu berukuran segenggaman tangan. Beberapa anak mendeplok daun-daun itu.
“Cukup-cukup ayo masukkan ke air..” Larso seperti memberi komando.
Mereka pun membuang hasil deplokan itu ke dalam air. Cairan gatal itu pun segera mengalir dan menyebar di aliran sungai.
Tidak beberapa lama efek cairan itu mulai terasa. Anak-anak gadis itu mulai merasakan gatal-gatal.
“Aduh..gatel…” beberapa orang mulai garuk-garuk.
Makin lama gatql-gatal makin terasa.
“Iya..itu pasti kerjaan Larso dan kawan-kawan..” kata Hera. Tapi Hera kadang sulit juga mau marah. Ada adik kandungnya yang ikut di gerombolan laki-laki itu.
“Iya pastilah…” sahut yang lain.
“Hai jangan kurang ajar…” teriak salah satu dari mereka.
“Nggak kurang ajar, cuma main jamu-jamuan…”sahut Larso sambil ketawa ngakak. Diringi teman-temannya.
Anak-anak gadis itu segera muncul dari air sambil malu-malu menutup bagian tubuhnya yang mulai berkembang dan menuju tepi sungai. Mereka menaiki sisi sungai.
“Haha…..ketok..ketok…” sorak-sorai gerombolan laki-laki di sebelah atas sana…
Anak-anak gadis itu segera mencari baju dan rok mereka. Dan memakai baju di balik pohon trembesi di pinggir kali itu.
Mereka walaupun kesal dengan perlakuan itu tapi menikmati. Itulah asyiknya mandi di sungai. Karena itu sungai milik umum jadi sering ada gangguan-gangguan dan mereka harus siap. Itu akan diulangi lagi di lain hari. Begitu anak-anak itu pergi, kelompok anak laki-laki segera pindah ke situ.
Mereka lebih heboh. Ada yang loncat dari atas. Malah ada yang naik pohon lalu ambyur ke sungai. Permainan yang menyenangkan bagi anak-anak.
Beberapa saat kemudian selesailah acara mandi di sungai.
Keseruan seperti itu yang membuat Hera sangat senang tinggal di desa. Cerita sedih soal bapaknya terlupakan begitu ngumpul sama teman-temannya.
Catatan
- Mendeplok:menumbuk
- Ketok:kelihatan
- ambyur: terjun. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi