Sabtu, 16 Mei 2026, pukul : 03:31 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Semenjak pengungkapan perasaan Raharjo di bakso Meester itu, hubungan Hera dengan Raharjo berjalan wajar. Tidak ada yang berubah,  kedewasaan Raharjo dalam bersikap membuat Hera semakin hormat padanya. Hera tetap nyaman bergaul dengan Mas Raharjo seperti terhadap kakaknya. Ibunya Hera tidak tahu bahwa telah terjadi pengungkapan dan penolakan dari dan oleh Raharjo dan anak gadisnya. Dalam hati Hera membatin biarlah waktu yang menjawab sehingga ibu tahu dengan sendirinya.

Keluarga Hera sangat demokratis dalam hal cinta, tidak ada hukum pemaksaan, pelarangan soal cinta, atau menjodoh-jodohkan. Menyarankan itu memang sudah naturenya orang tua apalagi seorang ibu, pasti menginginkan anak gadisnya punya suami yang mapan dan mendapat pria yang baik, yang bisa ngemong.

Hari kedatangan Agung semakin dekat,  Hera tidak tahu apakah dia akan mampir dulu ke rumahnya atau langsung ke Mess tempat pendidikannya. Atau dia akan njujug ke kost-kostan sepupunya, Jono, yang kuliah di UI. Ya sepupunya kuliah di UI  kampus Daksinapati, Rawamangun. Jono adalah kakak kelas Hera di SMA yang diterima di UI fakultas MIPA tahun sebelumnya

Kenyataan itu datang. Agung datang ke jakarta. Dia mendapat undangan untuk tahap pendikikan dan pelatihan selama enam bulan. Hera siap-siap dengan rasa gugup. Pasti Agung akan sangat intens mendekatinya, seperti masa akhir saat SMA. Agung tidak cuma ambisius dalam mengejar cita-cita untuk karirnya, dia juga ngotot dalam mengejar cinta. Cinta bagi Agung seperti halnya pekerjaan proyek. Harus disiapkan secara matang , diatur aktivitas dan jadwalnya, dikerjakan dengan intens dan penuh semangat dan Serba rasional sebagai wujud tanggungjawab kepada orang yang dicintainya.

Kadang terbersit di benak Hera kemana mas Danang. Tapi status anake wong mambu membuat dia harus memutar haluan. Dia kadang juga pesimis, akankah orang tua Agung yang masih kerabat dengan ibu Danang akan menerapkan logika yang sama berkaitan dengan status anake wong mambu ini. Yah Hera sejenak melupakan itu, kalau jodoh akan ada jalannya. Agung pernah mengancam orangtuanya saat dilarang masuk FT UI, bahwa soal perjodohan dia tidak mau diatur.

Suatu pagi jelang siang Agung datang dengan diantar sepupunya Jono. Agung nampak susah payah membawa tas plastik. Hera mengamati dari balik jendela. Hera pun peasaran apa yang dibawa Agung.

“Permisi…”

“Iya…Ee..Agung..masuk-masuk..”

“ini kenalkan mas sepupuku..Jono…,’ ucap Agung membuka pembicaraan.

Hera pun bersalaman dengan orang yang dulu pernah dia kenal.

“ini ada sekedar oleh-oleh dari kampung..”

“Ha banyak banget..Apa ini Gung?”

“iya dondong dari kebun simbahku. Lagi musim dondong. Simbah sangat bangga aku diterima seleksi beasiswa ini. Simbahku lebih bangga dari bapakku.”

“Terus apa hubungannya  dengan buah ini?”

“hmm..Iya ini oleh-oleh dari simbah. Aku cerita mau mampir ke rumahmu. Dan simbah nitip buah berharga ini…”

“Waduh maturnuwun sanget. Salam buat simbah ya…Bilang kalau Hera seneng banget. Pasti susah payah juga mengambil buah ini dari pohon…”

Mereka berdua begitu bersemangat bercerita. Jono sementara cukup menjadi pendengar.

“Iya ini perjuangan berat. Seberat aku mengikuti seleksi beasiswa ini…”

“Halah …masak segitunya?”

“Lihat kan mukaku, leherku, tangan….”

“hmm iya. Apa itu kok mlonyoh merah-merah coklat gitu…”

“ini kena ulat waktu manjat pohon dondong di rumah simbah. Ulat dondong kan memang ganas. Bulunya panas. Kalau nggak untuk kamu, aku nggak mau ambil buah ini, apalagi membawa ke sini naik bis. Ribet.”

Hera sadar Agung memang anak desa, tidak malu bawa tas plastik berisi dondong yang berat itu. Karakter orang desa yang khas.

“Hmmm…kasihan. Rasanya gimana?”

“Yah gatal dan perih. “

Hera pun segera masuk bikin minum dan tidak lupa membawa minyak tawon. Dia tahu minyak tawon sangat cocok untuk obat sengatan serangga dan sejenisnya.

“Silakan diminum..monggo Mas Jono..”

Lalu tanpa meminta ijin Hera menarik tangan Agung pelan dan diolesinya tangan Agung yang tersengat ulat dengan minyak itu lembut. Agung kaget dengan perlakuan Hera itu. Jono merasa tidak enak melihat adegan itu. Dia pura-pura baca koran yag dibawanya.

Lalu leherr Agung pun diborehi minyak tawon itu. Agung makin yakin bahwa Hera pilihan terbaik untuknya.

“hmm sepertinya ini cocok untuk jadi istriku”, batin Agung dalam hati. Perasaannya meloncat tinggi melihat perlakuan Hera yang begitu perhatian itu. Bahkan ibunya saja tidak bersikap begitu ke dia.

“Ini mbawa dondongnya pasti berat banget ya..”

“Yah demi kamu Her…”

“Aduh makasih ya…

Mereka lalu berbincang dan menikmati suguhan kue. Tampaknya Agung maih capai setelah perjalanan semalam dari Klaten. Tidak lama lalu Agung dan Jono pun pamitan.

“Pulang dulu ya..”

“Ya hati-hati, makasih sekali lagi lho..” sahut Hera hangat.

*

Agung memulai pre-daperture training . Tiap hari dia jalan dari messnya ke tempat pelatihan. Agung megikuti training hingga jam 15.00an. Agung dengan tekun dan serius  mengikuti training itu. Dia seperti biasa termasuk peserta yang disiplin, apalag ini para pembawa materi adalah orang-orang bule. Maka dia ketularan ikut disiplin. Materi soal budaya negara tujuan, bahasa Inggris dan aturan-aturan kepegawaian yang harus ditaati termasuk materi yang diajarkan di dalam training itu. Soal budaya dan persoalan culture shock termasuk menarik bagi Agung. Bayangan Hera sering menyelinap di tengah-tengah waktu training. Agung selalu menunggu waktu training habis lalu dia akan menemui Hera.

Sepulang pelatihan Agung sering menjemput ke kampus Hera. Mereka gantian saling jemput. Hera menikmati hari-harinya.  Dalam seminggu dua kali Agung menjemput ke kampus IKIP dan dua kali Hera yang jemput ketempat pendidikannya. Lalu mereka jalan degan menaiki bis kota. Mereka selalu menikmati keriangan di atas bis kota. Kebetulan jurusan dari dan ke kampus IKIP dan tempat pendidikannya lurus saja di sepanjang jalur bypass dilewati bis tingkat. Mereka selalu selalu naik di lantai 2 dan duduk paling depan sambil bercerita. Seringnya di lantai 2 bis tidak ramai.

Berkali-kali Agung memegang jari tangan Hera sambi mencium punggung telapak tangannya dan berucap “I love you.”

Hera berbunga-bunga. Harapannya melambung . Dia berharap nanti akan diajak ke US seperti mimpinya sejak kecil. Ketika melihat gambar kincir angin di balik piring atau mantel bulu kakeknya, dia berharap bisa pergi atau tinggal di negara subtropis suatu saat.

“Apa nanti aku diajak..?” Hera bertanya penuh harap.

“Pastilah. Kalau kamu mau.”

“Eh pasti maulah. Nanti aku masakin masakan kesukaanmu.”

“Wow serasa di surga, sekolah ditunggui istri tercinta..”

“Eh lamar dulu, baru nikah,” kata Hera.

“Gimana kalau langsung nikah?”

“Ah nekat. Beresin dulu trainingmu..”

Mereka sangat menikmati kebersamaan itu. Luka hati karena anak wong mambu mulai Hera lupakan. Dunianya akan indah bersama Agung.

Hera tidak begitu memikirkan Larso semenjak Agung di Jakarta. Larso tidak terlalu intens menghubungi, kadang-kadang saja bersurat. Meski jarak Bandung – Jakarta tidak jauh, Larso juga sangat jarang menemuinya di Jakarta. Saat ini  Agung nampak lebih menarik di depan mata dengan memberi impian yang tinggi dibanding Larso.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.